<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Tanggapan pada: Menyelamatkan Kebebasan Beragama Dari Pengaruh Mantra “Sesat”</title>
	<atom:link href="http://pinggirmalam.wordpress.com/2008/05/01/menyelamatkan-kebebasan-beragama-dari-pengaruh-mantra-%e2%80%9csesat%e2%80%9d/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/2008/05/01/menyelamatkan-kebebasan-beragama-dari-pengaruh-mantra-%e2%80%9csesat%e2%80%9d/</link>
	<description>Jangan Pernah Ada Kata Takut</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Jul 2009 18:22:23 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: kodim</title>
		<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/2008/05/01/menyelamatkan-kebebasan-beragama-dari-pengaruh-mantra-%e2%80%9csesat%e2%80%9d/#comment-22</link>
		<dc:creator>kodim</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 15:12:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=24#comment-22</guid>
		<description>Perdebatan dalam ranah teologi memang tidak akan pernah selesai. Namun itu suatu yang wajar dan tak mungkin terhindar. Tapi ingat, apa yang senyatanya kita anggap sebagai sebuah kebenaran itu tidak lebih dari hasil konstruksi pemahaman dan penafsiran dari para tokoh terdahulu. Bukankah Aliran Sunni pada era Abbasiyah menjadi suatu aliran yang dideskriditkan dan kerap mendapat perlakuan yang diskriminatif. Beragam cap sesat sampai kafir pun pernah dialamatkan padanya.

Saya tidak hendak berbicara tentang sesat, menyimpang, salah, dan seterusnya. Tapi yang perlu kita lihat dan kita cermati lebih kritis adalah dari mana dan apa yang membentuknya sehingga kita bisa mengatakan sesat atau menyimpang? Lebih jelasnya, baca juga tulisan saya yang berjudul &quot;Melepas Aliran Dalam Jerat Sesat&quot;.

Jika kita mencintai keberagaman Indonesia yang tercermin dalam Pancasila, maka penghormatan atas agama dan keyakinan harus kita lakukan dalam dua level sekaligus; antar agama dan internal agama.

Kenapa kita bisa menghormati kebebasan beragama bagi agama di luar Islam tapi untuk perbedaan di tubuh Islam sendiri tidak? Jika persoalannya adalah salah dan benar, sesat dan berpetunjuk, menyimpang dan lurus, maka bukankah agama Kristen, Hindu, Budha, Katolik salah di mata kita, orang Islam? begitupun sebaliknya.

Inilah tantangan kita dalam kehidupan yang majemuk dan penuh perbedaan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Perdebatan dalam ranah teologi memang tidak akan pernah selesai. Namun itu suatu yang wajar dan tak mungkin terhindar. Tapi ingat, apa yang senyatanya kita anggap sebagai sebuah kebenaran itu tidak lebih dari hasil konstruksi pemahaman dan penafsiran dari para tokoh terdahulu. Bukankah Aliran Sunni pada era Abbasiyah menjadi suatu aliran yang dideskriditkan dan kerap mendapat perlakuan yang diskriminatif. Beragam cap sesat sampai kafir pun pernah dialamatkan padanya.</p>
<p>Saya tidak hendak berbicara tentang sesat, menyimpang, salah, dan seterusnya. Tapi yang perlu kita lihat dan kita cermati lebih kritis adalah dari mana dan apa yang membentuknya sehingga kita bisa mengatakan sesat atau menyimpang? Lebih jelasnya, baca juga tulisan saya yang berjudul &#8220;Melepas Aliran Dalam Jerat Sesat&#8221;.</p>
<p>Jika kita mencintai keberagaman Indonesia yang tercermin dalam Pancasila, maka penghormatan atas agama dan keyakinan harus kita lakukan dalam dua level sekaligus; antar agama dan internal agama.</p>
<p>Kenapa kita bisa menghormati kebebasan beragama bagi agama di luar Islam tapi untuk perbedaan di tubuh Islam sendiri tidak? Jika persoalannya adalah salah dan benar, sesat dan berpetunjuk, menyimpang dan lurus, maka bukankah agama Kristen, Hindu, Budha, Katolik salah di mata kita, orang Islam? begitupun sebaliknya.</p>
<p>Inilah tantangan kita dalam kehidupan yang majemuk dan penuh perbedaan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ismail Daru H.</title>
		<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/2008/05/01/menyelamatkan-kebebasan-beragama-dari-pengaruh-mantra-%e2%80%9csesat%e2%80%9d/#comment-21</link>
		<dc:creator>Ismail Daru H.</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 10:25:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=24#comment-21</guid>
		<description>Kesalahan persepsi pendukung Ahmadiyah

Sebelum memulai penjelasan saya, perlu saya perjelas bahwa segala macam bentuk anarki yang dilakukan kelompok tertentu (salah satunya FPI &amp; LPI) adalah salah.

Menanggapi berbagai pernyataan yang dikemukakan oleh berbagai kelompok yang mendukung Ahmadiyah, menurut saya ada kesalahan persepsi. Mereka, yang mendukung Ahmadiyah, menyatakan demi keberagaman bangsa, demi kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Perlu diketahui bahwa apa yang diyakini oleh Ahmadiyah, setelah diteliti dan dipelajari, adalah sesat. Karena mereka mengatasnamakan Islam, maka seharusnya Ahmadiyah dipahami sebagai bentuk pelecehan atau penghinaan agama Islam. Bukan demi kebebasan beragama yang dikumandangkan oleh para pendukung Ahmadiyah. Bila Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, umat muslim akan sangat tidak keberatan.

Ahmadiyah bukan sekedar masalah berbeda pendapat dalam berkeyakinan. Bila saya berkeyakinan atau pemahaman tertentu saya yang berbeda dan menjurus sesat dari agama saya, maka itu hak saya. Itu dosa saya. Itu urusan saya dengan Tuhan saya. Tapi bila saya mengajarkan, berdakhwah, mengajak, berkumpul, berkelompok dan berorganisasi, maka kegiatan tersebut tidak bisa dibenarkan dan didiamkan.

Keyakinan Ahmadiyah bukan sekedar perbedaan pendapat seperti mengenai perbedaan hari Idul Fitri, yang menurut saya bukan merupakan suatu prinsip dasar dalam Islam. Perbedaan pendapat Ahmadiyah sudah menyerang dan merusak dasar-dasar prinsip Islam.

Kepada para pendukung Ahmadiyah atas dasar kebebasan beragama dan berkeyakinan, perlu di ketahui asal mula historis gerakan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Menurut saya, semua itu bermula dari pertentangan dalam diri suatu agama di timur tengah sekitar abad ke 1 SM dan eropa sekitar abad ke 16, serta perbedaan pendapat di India sekitar abad ke 5 SM. Maka, jangan menyamakan (baik sadar ataupun tidak sadar) historis Islam dengan mereka. Setidaknya menjadi suatu rujukan dalam arti “kebebasan”. 

Bahkan perbedaan antara Sunni dan Syiah yang bermula dari awal sejarah Islam merupakan perbedaan politik. Bukan prinsip-prinsip dasar keagamaan. Bukankah setelah nabi wafat, muncul nabi-nabi baru yang dibubarkan oleh Abu Bakar?

Saya bertanya kepada para pendukung Ahmadiyah, bila memang setelah diteliti dan dipelajari Ahmadiyah adalah sesat, dimanakah pemerintah dan hukum dalam membela suatu agama yang telah dilecehkan dan dihina? Dimanakah keadilan Pancasila dalam melindungi agama tertentu dari penghinaan dan pelecehan suatu kelompok yang menganggap dirinya bagian dari agama tersebut?

Saya mencintai Indonesia dan keberagamannya. Saya mencintai Pancasila yang saya anggap sebagai pemersatu dan penengah keberagaman Indonesia. Tapi, bisakah sekarang Pancasila melindungi salah satu warganya dari kelompok yang menyerang keyakinan warganya tersebut. Bisakah Pancasila, hukum dan pemerintah melindungi warganya (umat muslim) dari penghinaan dan pelecehan Ahmadiyah?

Ismail Daru H.
dariusjabbar@hotmail.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kesalahan persepsi pendukung Ahmadiyah</p>
<p>Sebelum memulai penjelasan saya, perlu saya perjelas bahwa segala macam bentuk anarki yang dilakukan kelompok tertentu (salah satunya FPI &amp; LPI) adalah salah.</p>
<p>Menanggapi berbagai pernyataan yang dikemukakan oleh berbagai kelompok yang mendukung Ahmadiyah, menurut saya ada kesalahan persepsi. Mereka, yang mendukung Ahmadiyah, menyatakan demi keberagaman bangsa, demi kebebasan beragama dan berkeyakinan.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa apa yang diyakini oleh Ahmadiyah, setelah diteliti dan dipelajari, adalah sesat. Karena mereka mengatasnamakan Islam, maka seharusnya Ahmadiyah dipahami sebagai bentuk pelecehan atau penghinaan agama Islam. Bukan demi kebebasan beragama yang dikumandangkan oleh para pendukung Ahmadiyah. Bila Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, umat muslim akan sangat tidak keberatan.</p>
<p>Ahmadiyah bukan sekedar masalah berbeda pendapat dalam berkeyakinan. Bila saya berkeyakinan atau pemahaman tertentu saya yang berbeda dan menjurus sesat dari agama saya, maka itu hak saya. Itu dosa saya. Itu urusan saya dengan Tuhan saya. Tapi bila saya mengajarkan, berdakhwah, mengajak, berkumpul, berkelompok dan berorganisasi, maka kegiatan tersebut tidak bisa dibenarkan dan didiamkan.</p>
<p>Keyakinan Ahmadiyah bukan sekedar perbedaan pendapat seperti mengenai perbedaan hari Idul Fitri, yang menurut saya bukan merupakan suatu prinsip dasar dalam Islam. Perbedaan pendapat Ahmadiyah sudah menyerang dan merusak dasar-dasar prinsip Islam.</p>
<p>Kepada para pendukung Ahmadiyah atas dasar kebebasan beragama dan berkeyakinan, perlu di ketahui asal mula historis gerakan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Menurut saya, semua itu bermula dari pertentangan dalam diri suatu agama di timur tengah sekitar abad ke 1 SM dan eropa sekitar abad ke 16, serta perbedaan pendapat di India sekitar abad ke 5 SM. Maka, jangan menyamakan (baik sadar ataupun tidak sadar) historis Islam dengan mereka. Setidaknya menjadi suatu rujukan dalam arti “kebebasan”. </p>
<p>Bahkan perbedaan antara Sunni dan Syiah yang bermula dari awal sejarah Islam merupakan perbedaan politik. Bukan prinsip-prinsip dasar keagamaan. Bukankah setelah nabi wafat, muncul nabi-nabi baru yang dibubarkan oleh Abu Bakar?</p>
<p>Saya bertanya kepada para pendukung Ahmadiyah, bila memang setelah diteliti dan dipelajari Ahmadiyah adalah sesat, dimanakah pemerintah dan hukum dalam membela suatu agama yang telah dilecehkan dan dihina? Dimanakah keadilan Pancasila dalam melindungi agama tertentu dari penghinaan dan pelecehan suatu kelompok yang menganggap dirinya bagian dari agama tersebut?</p>
<p>Saya mencintai Indonesia dan keberagamannya. Saya mencintai Pancasila yang saya anggap sebagai pemersatu dan penengah keberagaman Indonesia. Tapi, bisakah sekarang Pancasila melindungi salah satu warganya dari kelompok yang menyerang keyakinan warganya tersebut. Bisakah Pancasila, hukum dan pemerintah melindungi warganya (umat muslim) dari penghinaan dan pelecehan Ahmadiyah?</p>
<p>Ismail Daru H.<br />
<a href="mailto:dariusjabbar@hotmail.com">dariusjabbar@hotmail.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
