Memutus Mata Rantai Kebencian Berkepanjangan
Agustus 22, 2008
Untuk merespon sebuah karya film rendah mutu seperti Fitna dan seorang politikus ambisius yang menjual kebencian demi meraih popularitas, Geert Wilders, tampaknya tak perlu berlebihan. Ucapan Abdullah Haselhoef, seorang imam asal Rotterdam, kiranya cukup menggambarkan: “Jika orang buta mengatakan matahari itu gelap, mengapa kita harus repot?” Cukup di situ. Tak usah lagi memperpanjang mata rantai kebencian.
Sebuah metafora sederhana namun menukik untuk memperlihatkan betapa dangkalnya kualitas Wilders yang memberi tafsiran al-Quran dengan cara super ngawur. Formula film Fitna besutan politikus sayap kanan Belanda dari Partai Kebebasan (Partij voor de Vrijheid) ini terlalu simplistis. Ia hanya melakukan teknik kutip-mengutip, comot-menyomot, penggal-memenggal ayat-ayat al-Quran lalu mencerabutnya dari konteks dan membenturkannya dengan adegan kekerasan untuk mendukung tesisnya bahwa al-Quran adalah sumber kekerasan dan kitab anti toleran.
Nukilan al-Quran yang pertama digunakan dalam film Fitna adalah surat al-Anfal ayat 60, yang sengaja dikutip tidak utuh untuk memaksakan interpretasinya yang sangat mentah mengenai hubungan antara al-Quran dan terorisme dengan meminjam tafsir al-Quran versi M.H. Shakir yang banyak mengundang kontroversi karena diduga sebagai karya plagiat. Padahal kalimat yang dikutipnya adalah bagian dari kisah panjang sepuluh halaman tentang kesewenang-wenangan dan ketidakadilan. Nukilan ayat ini diperlihatkan persis setelah pembukaan film dengan materi animatif yang mengambil seri karikatur Nabi Muhammad ciptaan Kurt Westergard yang dimuat pertama kali pada 30 september 2005 di surat kabar Denmark, Jyllans-Posten dan menuai protes keras. Baca entri selengkapnya »
Belajar Bahasa Dengan Simsalabim
Agustus 12, 2008
Belajar bahasa dengan cara kilat. Tidak perlu repot-repot kursus. Cukup segelas air dan menghafal doa.
Boleh jadi ini sekolah paling kilat sedunia. Murid tidak butuh waktu berbulan-bulan atau bahkan tahunan, seperti kursus-kursus bahasa atau sekolah-sekolah yang lain. Singkat memang. Cukup tiga hari, bahkan dua jam, murid sudah mampu melafalkan enam sampai tujuh bahasa asing dengan ringan.
Memang lain dari yang lain. Saat belajar, murid tak perlu membawa sepatu, seragam, bulpen, buku, dan alat belajar lainnya. Apakah peralatannya sebegitu canggih? Tidak. Bahkan sangat sederhana: Cukup ada air dan gelas saja.
Sekolah elit? Bukan. Ini sekolah wirid. Siapapun bisa mendaftarkan diri. Bahkan biaya yang diperlukan jauh di bawah biaya sekolah atau kursus pada umumnya. Cukup hanya dengan Rp. 150.000 sampai Rp. 300.000, murid sudah bisa mengikuti sekolah ini. Yang membedakan besar-kecilnya nominal biaya tersebut hanya soal waktu. Jika membayar Rp. 150.000, maka waktu yang dibutuhkan selama 3 hari. Seandainya membayar Rp. 200.000, maka perlu 2 hari. Kalau ingin sehari, bisa bayar Rp. 250.000. Dan lebih pendek lagi, hanya dua jam, bisa diganti dengan Rp. 300.000. Baca entri selengkapnya »