Belajar Bahasa Dengan Simsalabim
Agustus 12, 2008
Belajar bahasa dengan cara kilat. Tidak perlu repot-repot kursus. Cukup segelas air dan menghafal doa.
Boleh jadi ini sekolah paling kilat sedunia. Murid tidak butuh waktu berbulan-bulan atau bahkan tahunan, seperti kursus-kursus bahasa atau sekolah-sekolah yang lain. Singkat memang. Cukup tiga hari, bahkan dua jam, murid sudah mampu melafalkan enam sampai tujuh bahasa asing dengan ringan.
Memang lain dari yang lain. Saat belajar, murid tak perlu membawa sepatu, seragam, bulpen, buku, dan alat belajar lainnya. Apakah peralatannya sebegitu canggih? Tidak. Bahkan sangat sederhana: Cukup ada air dan gelas saja.
Sekolah elit? Bukan. Ini sekolah wirid. Siapapun bisa mendaftarkan diri. Bahkan biaya yang diperlukan jauh di bawah biaya sekolah atau kursus pada umumnya. Cukup hanya dengan Rp. 150.000 sampai Rp. 300.000, murid sudah bisa mengikuti sekolah ini. Yang membedakan besar-kecilnya nominal biaya tersebut hanya soal waktu. Jika membayar Rp. 150.000, maka waktu yang dibutuhkan selama 3 hari. Seandainya membayar Rp. 200.000, maka perlu 2 hari. Kalau ingin sehari, bisa bayar Rp. 250.000. Dan lebih pendek lagi, hanya dua jam, bisa diganti dengan Rp. 300.000.
Empat tingkatan biaya di atas memang melahirkan perbedaan waktu, tapi tidak mempengaruhi kemampuan belajar murid. Waktu yang dimaksud adalah selang dari proses pertama (pemasukan bahasa) menuju ke proses kedua (penarikan bahasa) hingga murid bisa mengucapkannya. Pada proses-proses berikutnya lebih bergantung pada kemampuan pribadi murid.
Biaya-biaya tersebut bukanlah uang pangkal sekolah ataupun biaya pembangunan gedung, tapi istilahnya sebagai mahar. Fungsi mahar tersebut adalah sebagai cara untuk mengeluarkan bahasa asing yang sejatinya sudah ada dalam tiap diri manusia. “Karena ilmu bahasa itu memang sudah ada dari yang di atas (Allah). Sejak umur empat bulan dalam kandungan, ilmu sudah dikasih oleh Allah. Jadi setiap orang bisa mempelajari ini,” papar Kyai Kusnadi Soleh, guru sekolah bahasa kilat tersebut.
Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa pada diri manusia sebenarnya ada dua belas pintu. Dan di tiap pintu itu ada kuncinya. Salah satunya adalah kunci bahasa, yang tempatnya ada di sela-sela syariat. Tapi sayangnya, tak semua orang bisa mengetahuinya. Sehingga modal bahasa yang sudah ada dalam dirinya tak dimanfaatkan secara maksimal. “Ketepatan, saya bisa membuka kunci bahasa itu,” tambah Kyai yang sekarang genap berumur 38 tahun. Untuk membuka itu, tambahnya, butuh adanya mahar.
Tidak hanya cara dan sarananya saja yang berbeda, tapi pemahaman tentang wilayah tautan kebahasaan dalam diri manusia pun berbeda dengan pemahaman selama ini. Umumnya, persoalan bahasa selalu disandarkan pada otak manusia, karenanya metode pembelajarannya pun selalu diarahkan pada wilayah otak. Namun bagi Kyai Kusnadi Soleh, bahasa itu berangkat dari hati dulu. “Bahasa yang saya amalkan ini prosesnya dari hati dulu, baru dikeluarkan lewat otak,” jelasnya Kyia yang sekarang genap berumur 38 sewaktu ditemui Edukasi di kediamannya.
Untuk menguatkan argumentasinya, dia menegaskan bahwa bahasa itu wialayahnya di hati, bukan di otak. Kenapa? “Karena otak manusia tidak bisa bersih seperti hati. Kalau otak yang dibuat untuk menampung bahasa, maka otak pasti tidak akan bisa menampungnya” kuatnya.
Cara Unik, Peminat Tak Sedikit
Unik memang. Betapa tidak, dalam waktu hitungan jari saja, orang yang mulanya nol, disulap mampu berbahasa dengan cepat. Segera saja sekolah bahasa ini mendapat perhatian dari masyarakat umum, khususnya Jawa Timur. Selain prosesnya unik dan biayanya murah, kesadaran berbahasa (asing) masyarakat saat ini kian tinggi sejalan dengan tuntutan era globalisasi yang lintas batas. Dalam konteks demikian, bahasa tentu menjadi alat vital.
Di saat itu pula, Kyai Kusnadi Soleh, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Riyadhoh yang terletak di tepi barat desa Alastengah, Paiton, Probolinggo, mampu menjawab kebutuhan kebutuhan tersebut. “ Tujuan saya mempelajari ilmu bahasa ini adalah untuk mengantisipasi masa global ini. Dan menunjukan bahwa bangsa Indonesia ini tidak bodoh,” jelas Kyai kelahiran Njambung, Paiton, Probolinggo ini.
Cara unik itu tercium dimana-mana. Buktinya, tamu yang datang tidak hanya dari Jawa Timur. Yang dari luar Jawa pun tergoda untuk singgah. Buku tamu yang disediakan khusus untuk yang berkeinginan belajar bahasa pun di situ kini sudah tidak muat lagi. Sampai hari Jum’at, 27 Oktober 2001 kemarin, yang tercatat dalam buku sebanyak 777 murid. Padahal pencatatan itu baru dimulai sejak tahun 1998. Sedangkan pembalajaran bahasa dimulai sejak tahun 1995.
Tak heran jika akhir-akhir ini pondok yang mulanya hanya sebuah padepokan, mulai dibanjiri orang. Mereka berbondong-bondong dengan maksud yang berbeda-beda. Ada yang murni ingin mempelajari bahasa, ada pula yang ingin mendalami ilmu agama, bahkan ada yang datang dengan keperluan berobat. Di sela-sela ramainya para santri mengaji, kediaman Kyai Soleh tak pernah sepi dari tamu yang datang silih berganti.
Lalu dari mana Kyai Soleh bisa berbahasa asing? Menurut pengakuannya, dirinya dapat menguasai bahasa asing berkat Nabi Hidhlir AS, yang dia sebut sebagai gurunya. “Untuk menemui Nabi Hidhlir AS, saya melakukan tirakat, dengan jalan merendam tubuh di laut tiap malam hari dari pukul 22.00 sampai 04.00 pagi,” cerita Kyai yang sekarang mencapai tingkat kesempurnaan dalam mempelajari bahasa tumbuhan.
Semua pelajaran yang dia dapat dari nabi Hidhlir AS ditularkan pada santri-sanrinya, baik laki-laki maupun perempuan, yang saat ini berjumlah 300 lebih santri. Setiap hari, siang dan malam, para santri digenjot untuk mempelajari bahasa asing. Hasilnya pun tak sia-sia. Hampir semua santri, bahkan yang masih berumur di bawah sepuluh tahun, mampu berbahasa asing dengan lancar. Maka jangan heran jika Anda masuk ke lingkungan Pondok Pesantren Nurul Riyadhoh akan menjumpai percakapan dengan menggunakan basa asing antar santri.
Proses Pemasukan Bahasa
Malam itu, saat jarum jam menunjukkan pukul 23.12 malam, di salah satu ruangan Pondok Pesantren Nurul Riyadlah, terlihat 2 orang tengah duduk bersila berhadap-hadapan. Mereka adalah Kyai Kusnadi Sholeh dan seorang laki-laki (sebut saja Si Murid) yang ingin belajar bahasa asing di sana. Keduanya tengah bercakap-cakap.
Tak lama kemudian, dari pintu belakang muncul laki-laki setengah dewasa sambil membawa gelas yang berisi air putih. Dengan berlahan-lahan Sugeng, nama lelaki itu, menaruh gelas tepat di depan Kyai Soleh. Beberapa detik kemudian, Kyai Sholeh mengangkat gelas tepat di depan mulutnya. Sambil menundukan kepala, bibirnya pun tampak mulai bergerak-gerak membaca doa. Saat itu juga, suasana ruangan yang diterangi cahaya remang-remang menjadi sunyi senyap. Setelah selesai, ia memberikan minuman itu kepada Si Murid. “Silahkan diminum,” perintah Kyai Soleh. Si Murid kemudian meneguknya sembari membaca basmalah tujuh kali atas petunjuk Kyai Sholeh. Bersamaan dengan terteguknya air ijazah tersebut, khodam malaikat yang dipanggil Kyai Soleh masuk ke dalam tubuh Si Murid.
Proses minum pun usai. Kini, Kyia Soleh memberikan selembar kertas pada muridnya. Dalam kertas tersebut terlihat tulisan dalam bentuk pego (huruf Arab tanpa harakat, tapi bahasa Jawa). Tulisan itu tak lain adalah wirid atau amalan untuk membantu minuman yang diteguk sebelumnya dalam memanggil bahasa asing.
Wiridan atau amalan ini harus dibaca terus-menerus sesudah Si Murid meminum air putih yang sudah dilambari doa oleh Kyia Soleh. Lama-singkatnya wiridan ini tidak sama, disesuaikan dengan jumlah mahar yang dibayar dengan perincian waktu sebagaiman telah dipaparkan di atas.
Untuk menunggu tahapan kedua, Si Murid harus memperbanyak amalan wirid –utamanya setelah shalat lima waktu. Tahapan kedua ini dinamakan proses penarikan bahasa. Jika dalam tahap pertama didatangkan malaikat untuk membantu memasukan bahasa, maka dalam tahap ini, khodam malaikat akan dikeluarkan. Kok dikeluarkan? Apakah bahasanya tidak hilang? Tidak. Manurut Kyai Soleh dalam tubuh manusia ada malaikat. Maka ketika khodam malaikat ditarik keluar, ia menyambungkan bahasa yang sudah masuk pada tubuh Si Murid ke temannya (malaikat yang memang asalnya dari dalam diri murid). “Sehingga bahasa itu menjadi alami,” terangnya.
Bagaimana cara menariknya? Setelah wirid tiga hari dilumat, murid dengan harap cemas menantikan malam turun. Sebab penarikan bahasa biasanya dilakukan ba’da maghrib. Usai shalat maghrib, Ahmad, salah satu santri senior Kyai Soleh, mengajak Si Murid menuju lapangan depan pondok yang dilingakari pohon bambu. Si Murid berjongkok menghadap barat, sementara Ahmad menghadap ke arah yang berlawanan. Sejenak, Ahmad memejamkan mata, dan bibirnya mulai bergerak-gerak membaca doa “penarik bahasa”. Suasana sesaat menjadi hening. Dinginnya angin malam mulai menyapa tubuh keduanya. Dengan wajah tegang, Si Murid menanti Ahmad membuka matanya. Tak lama kemudian, mata Ahmad pun terbuka kemudian berkata,” Tirukan kata-kataku”. Si Murid pun menirukan segala yang diucapkan Ahmad. Seusai ditirukan, ia menyuruh Si Murid mengeluarkan bahasanya. Namun Si Murid tampak kesulitan; bibirnya bergerak kaku, tapi tak mampu mengeluarkan bahasa asing.
Karena gagal, proses pun diulang. Lantas Ahmad berkata,” Keluarkan saja kata hatimu, jangan dipikir. Jika dipikir tak bisa keluar”. Kali ini tak sia-sia. Dari bibir Si Murid keluar beberapa bahasa asing: ada Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, China, Jepang, India dan lainnya. Tapi bahasa yang dikeluarkan tidak sistematis, masih amburadul dan campur-bawur. Dalam satu kalimat yang dilafalkan, bisa tersusun dari berbagai bahasa; bisa Inggris dengan China, bisa India dengan Jepang, dan seterusnya.
Anehnya, yang keluar pertama dari mulut Si Murid bukanlah bahasa asing kotemporer yang dipakai saat ini. Lalu bahasa apa? Ahmad menyebutnya bahasa Begawan–bahasa zaman dulu, bahasa masa lalu, bisa jadi bahasa zaman purbakala. Jadi, jangan kaget ketika Anda berbicara dengan turis dan bahasa yang Anda pakai adalah Begawan, maka Anda akan ditertawai. Kenapa? Sebab Si Turis, yang meskipun dari Inggris misalnya, tidak akan mengerti bahasa Inggris zaman dulu. Seperti yang pernah dialami oleh Syaripuddin, murid Kyai Soleh asal Lampung. Ketika mencoba kemampuan bahasanya dengan turis di Bali, ia ditertawakan. “Ketika saya nanyai turis, saya diketawain. Malah dia balik Tanya kepadaku, bahasa apa yang kamu gunakan?” kenangnya.
Karena bahasa yang keluar masih bertumpuk-tumpuk, maka tahapan selanjutnya adalah “pemisahan bahasa”. Waktu yang ditentukan dalam tahap ini biasanya tiga hari. Dan murid kembali diberi wiridan khusus untuk memisahkan bahasa yang campur-aduk tersebut. Jika sudah mencapai tiga hari, murid harus laporan pada Kyai. Bisa datang langsung ke pondoknya atau lewat telepon. Setelah bahasa terpisah, murid diberi waktu dua bulan untuk melancarkan bahasanya.
Setelah dua bulan dilalui, tibalah tahap terakhir, yaitu tahap “pemahaman”. Di sini murid mulai dikenalkan pada arti kata per kata yang keluar dari mulut murid. Sebab, sebelumnya murid baru bisa berbicara, tapi tidak mengenal artinya. Dan, tahap ini biasanya diikuti dengan latihan menulis.
Setelah melalui tahapan-tahapan di atas, apakah murid dijamin bisa berbahasa asing dengan sempurna? Belum tentu. Sebab, yang menentukan keberhasilan adalah keyakinan dan semangatnya. “Saya melalui malaikat hanya membantu mempercepat bahasanya. Berhasil atau tidak, ditentuka oleh dia sendiri. Apakah ia mau bener-benar berusaha atau tidak? Jika yakin dan semangat, Insyaallah akan berhasil,” tegas Kyai yang saat ini dianugerahi 3 anak.
Cara magic memang tak lazim digunakan selama ini. Dan mungkin rasio tak menerimanya. Tapi kenyataannya banyak orang yang meminati, utamanya kalangan mahasiswa, bahkan dosen. Dari sekian banyak yang belajar bahasa di sana, ada yang berhasil dan tak jarang pula yang gagal.
Ingin berhasil? Modal utamanya sebagaimana yang dipesankan Kyia Soleh adalah harus yakin, banyak wirid, dan yang terpenting adalah berusaha mencari media berkomunikasi untuk menguji bahasa.[]
TABEL PROSES MAGIC BELAJAR BAHASA
|
ASE AWAL: PEMASUKAN BAHASA |
|
Fase ini dilakukan dengan cara: Murid meminum air yang sudah diijizahi oleh Kyai. Air ini berfungsi sebagai medium perantara bagi masuknya khadam malaikat, untuk membantu memasukan bahasa-bahasa asing. Selain air, murid juga diberi wirid, yang biasanya disebut amalan sebagai penopang kerja malaikat. Wirid ini dilakukan selama tiga hari. Selama itu,murid dianjurkan untuk mengamalkan sebanyak mungkin, utamanya setelah shalat lima waktu.
|
|
FASE KEDUA: PENARIKAN BAHASA |
|
Setelah melakukan wirid selama tiga hari, bahasa yang telah masuk ditarik keluar. Setelah itu, murid bisa langsung berbicara bahasa asing. Yang dikeluarkan bisa enam sampai tujuh bahasa. Dan itu pun masih campur bawur, tidak sistematis. Misalnya, dalam melafalkan satu kalimat, bisa terdiri dari bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Cina, Jepang, India dan lain-lain. Bersamaan dengan keluarnya bahasa, keluar pula malaikat yang masuk dalam diri Si Murid. Tidak sekedar keluar, ia menyambungkan perannya kepada temannya (malaikat) yang memang sudah ada dalam diri tiap manusia.
|
|
FASE KETIGA: PEMISAHAN BAHASA |
|
Karena bahasa yang diucapkan masih tumpang tindih, maka proses selanjutya adalah pemisahan bahasa. Tidak jauh berbeda dengan fase awal, fase ketiga ini juga diberi wirid yang disebut: ”wirid pemisah bahasa”. Dan waktu yang dibutuhkan adalah tiga hari. Setelah tiga hari, murid harus laporan ke Kyai. Sebagai bukti bahwa selama tiga hari wirid sudah diselesaikan dengan baik. Karena Kyailah yang membantu untuk memisahkan bahasa itu. Untuk menemui Kyai, murid bisa langsung datang ke rumahnya atau lewat telepon.
|
|
FASE KEEMPAT: PEMAHAMAN ARTI |
|
Dua bulan setelah dipisahnya bahasa asing itu, murid baru akan mengerti arti bahasa yang diucapkan. Karena sebelum itu, mulai fase awal sampai ketiga murid belum paham dengan bahasa yang diucapkan. Artinya, murid hanya mampu berbicara, tapi tak bisa memahaminya. Sebelum dua bulan, murid bisa mempercepat dan memperkaya bahasanya dengan bantuan buku-buku asing, radio, televisi, radio, tape, CD, atau media lainnya. Artinya, waktu dua bulan ini digunakan untuk memperlancar bahasanya. Inipun masih disertai wirid. Di samping murid berusaha untuk memahami artinya, ia juga mulai berusaha untuk latihan menulis. |
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah EDUKASI Edisi 32 Januari 2001
Oktober 31, 2008 at 9:40 am
Mohon Alamat untuk bapak kyai kusnadi soleh
Oktober 31, 2008 at 9:43 am
where is address for kyai kusnadi soleh
November 4, 2008 at 1:25 pm
Mohon alamat dan telp Kyai Kusnadi
November 4, 2008 at 3:57 pm
buat mas Adhie n mas Yohan….
sebelumnya mohon maaf baru sempet balas krn kemarin banyak agenda di luar kota.
no tlp Kiai Kusnadi: 0335772341
tapi mohon dicheck dulu, karena saya pribadi sudah lama tidak kontak beliau.
kalau Anda hendak ke sana, dari mana pun keberangkatannya, turun di perempatan Paiton (PP Nurul Jadid), lalu naik ojek ke Alas Tengah (Kiai Kusnadi Soleh). bilang aja sama tukang ojeknya, sudah tahu semua kok.
November 6, 2008 at 7:29 am
minta alamatnya gus sholeh soale saya dah 3 tahun cari alamat ii. n saya pingin belajar ilmu bahasa wirid ma gus sholeh. secepatnya kirim ke email saya ya… makasih banyak atas informasisya
Desember 18, 2008 at 1:36 am
hebat aku pengen tau juga alamat lengkap kyai itu eh tu bisa tuk non muslim g
Januari 2, 2009 at 2:48 am
assalamualaikum.maaf saya mau tanya…apakah di pondok tersebut menerima belajar hafal alquran dengan cara ilmu laduni dalam waktu 2/3 hari bisa hafal dan lancar.dan bagaimana syarat pendaftaran tlg kasih alamat atau nomer telp/hp via emai saya. terima kasih. saya akan segara hub
Februari 2, 2009 at 10:24 am
maaf saya sudah coba hub no. tersebut tapi tdak dapat dihub, itu di daerah mana tepatnya, surabaya, malang atau mana gitu, no hp saya.
085711500009
081911600009
mohon infonya yah saya tunggu thx
Februari 2, 2009 at 10:27 am
maaf saya sudah coba hub no. tersebut tapi tdak dapat dihub, itu di daerah mana tepatnya, surabaya, malang atau mana gitu, no hp saya.
085711500009
081911600009
mohon infonya yah saya tunggu thx
Februari 2, 2009 at 3:27 pm
mas kodim, saya udah nyoba hub no tersbut, tpi gak bsa, mnta tlg alamat jelasnya itu di daerah mana, surabaya, malang atau dimana gitu, atau tlg sms ke no. saya
085711500009
saya tggu infonya, trima kasih
Maret 15, 2009 at 3:10 am
bravo….
Juni 24, 2009 at 6:20 am
Ass. Saya rencana awal bulan july mau ke PP Nuru Riyadhoh. Kalo ada yang berminat bareng ingin ke PonDok pesantren Hub saya Aja Ke No.0878-83499014 (Hadi)
Juni 29, 2009 at 3:39 pm
kalo mau lihat diskusinya tentang ilmu laduni yang diajarkan K.H KUSNADI SALEH, bisa baca2 disini:
http://www.jatipedia.com/proses-menguasai-bahasa-asing-menggunakan-ilmu-laduni.html
alamat, pengalaman, rute jalan dll mengenai ilmunya kusnadi saleh dibahas disitu