<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mayane Den Bagus Kodim</title>
	<atom:link href="http://pinggirmalam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pinggirmalam.wordpress.com</link>
	<description>Jangan Pernah Ada Kata Takut</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Oct 2011 08:23:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pinggirmalam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mayane Den Bagus Kodim</title>
		<link>http://pinggirmalam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pinggirmalam.wordpress.com/osd.xml" title="Mayane Den Bagus Kodim" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pinggirmalam.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Membela Mimpi</title>
		<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/2011/10/13/membela-mimpi/</link>
		<comments>http://pinggirmalam.wordpress.com/2011/10/13/membela-mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 08:23:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kodim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ahmad fuadi]]></category>
		<category><![CDATA[best seller]]></category>
		<category><![CDATA[fil negeri 5 menara]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas 5 menara]]></category>
		<category><![CDATA[minang]]></category>
		<category><![CDATA[negeri 5 menara]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[pondok pesantren gontor]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang yang kini terkadang untuk bermimpi saja tak berani. Runyamnya kehidupan membuat mereka harus menekuk asa dan cita. Melalui novel Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi mengajak kita semua untuk membela habis-habisan impian setinggi apapun dengan semangat man jadda wajada. Itulah prasyarat untuk menjadi pribadi yang sukses. Rute kesuksesan, menurut Fuadi, selalu dimulai dari sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=167&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Banyak orang yang kini terkadang untuk bermimpi saja tak berani. Runyamnya kehidupan membuat mereka harus menekuk asa dan cita. Melalui novel Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi mengajak kita semua untuk membela habis-habisan impian setinggi apapun dengan semangat <em>man jadda wajada</em>. Itulah prasyarat untuk menjadi pribadi yang sukses.</strong></p>
<p>Rute kesuksesan, menurut Fuadi, selalu dimulai dari sebuah impian. Karenanya jangan sekali-kali meremehkan impian kita sendiri. Seringkali seseorang merasa impiannya terlalu tinggi, sehingga kemudian menjadikan dia malas karena pesimis bakal bisa mewujudkannya. Karena itu, serunya, jangan pernah takut untuk bermimpi karena Tuhan itu Maha Mendengar.</p>
<p><span id="more-167"></span>”Kamera itu (menunjuk ke kamera merek Nikon yang dibawa oleh salah satu kru <strong><em>intrepreneur</em></strong>) mungkin 200 tahun lalu tidak ada, tapi ada di impian seorang Nikon, penciptanya. Tapi dia tidak pernah meremehkan, lalu dibikin sama dia, jadi ada. Dan sekarang Anda menggunakannya. Jadi segala sesuatu di dunia itu pernah hanya di level impian, lalu dia jadi materialize,” ujar pria berkacamata ini untuk meyakinkan tentang pentingnya sebuah impian.</p>
<p>Impian tersebut harus dicapai melalui usaha maksimal dengan semangat <em>man jadda wajada</em>, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Inilah kalimat motivasi sakti yang menjadi ruh dalam novel tersebut. ”Bersungguh-sungguh itu seperti apa?” sahutku. ”Melebihkan usaha dari orang lain,” jawabnya singkat. Karena orang yang terbaik itu biasanya yang lebih dari rata-rata.  Pendek kata, jika ingin mendapatkan lebih dari rata-rata, usahanya pun harus lebih dari rata-rata pula.</p>
<p>Namun usaha yang luar biasa bukanlah jaminan untuk bisa sampai ke impian atau cita-cita. Karena itu perlu tali perantara <em>man sobaro zhafiro</em>, siapa yang bersabar dia beruntung. ”Saya dulu pernah kuliah, belajar habis-habisan, pinginnya dapat nilai A plus tapi dapatnya malah apes, padahal sudah usaha,” ungkapnya membuktikan bahwa ternyata selalu ada jarak antara usaha dan keberhasilan. Jaraknya bisa hanya selangkah atau bahkan puluhan kilo, bisa juga hanya sedetik atau bahkan puluhan tahun. Jarak inilah yang harus diisi dengan kesabaran. Jika tak ada yang mengisinya tentu tak bisa sampai pada impian.</p>
<p>”Sabar itulah yang mengantarkan kepada keberuntungan dan keberhasilan. Dan sekali lagi, impian itu harus tetap kita bela habis-habisan. Karena Tuhan itu bersama orang yang sabar,” tegas pria yang menguasai empat bahasa ini: Indonesia, Arab, Inggris dan Perancis.</p>
<p>Di tengah kesabaran itu, harus pula ada doa dan syukur. Setelah itu stop sudah. Karena berikutnya sudah domain Tuhan. Maka yang perlu kita lakukan adalah <em>tawakkal</em> (berserah) dan <em>khusnuzdhon</em> (berperasangka baik). ”Toh semua usaha sudah habis, semua doa sudah kita panjatkan, semua kesabaran sudah kita kerahkan, enggak boleh stres lagi,” pesan mantan wartawan <a title="CJSR 3 TV Communautaire (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=CJSR_3_TV_Communautaire&amp;action=edit&amp;redlink=1">CJSR 3 TV Communautaire</a>, <a title="St-Raymond (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=St-Raymond&amp;action=edit&amp;redlink=1">St-Raymond</a>, <a title="Quebec" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Quebec">Quebec</a>, <a title="Kanada" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kanada">Kanada</a> ini.</p>
<p><strong>Kesuksesan = Kemanfaatan</strong></p>
<p>Banyak orang yang mendefinisikan dan mengukur kesuksesan dari materi: orang suskses adalah mereka yang bergelimang harta, punya rumah dan mobil mewah, sering jalan-jalan ke luar negeri. Namun tidak demikian bagi alumni Pondok Modern Gontor yang satu ini. Menurut pria yang akrab disapa Fuadi ini, ukuran kesuksesan adalah kemanfaatan. Seorang dikatakan sukses manakala ia bisa memberi manfaat bagi orang lain, bukan hanya untuk dirinya sendiri.</p>
<p>”Saya senang banget dengan definisi hadis Nabi, <em>khoirunnas anfa’uhum linnas</em>, sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain, bukan bermanfaat bagi diri kita sendiri,” papar peraih beasiswa Fulbright, Program Pascasarjana, The George Washington University (1999-2001) ini.</p>
<p>Memberikan manfaat bagi orang lain tentu dengan caranya masing-masing, karena setiap manusia punya kemampuan untuk bermanfaat dengan caranya sendiri. Seorang penulis akan memberi manfaat kepada orang lain dengan menulis; seorang guru dengan mengarjar; seorang jurnalis dengan sajian berita dan informasinya, dan seterusnya. “Jadi everything single person itu punya ability untuk bermanfaat, tinggal kita mau memanfaatkan atau tidak,” tegasnya.</p>
<p>Dari kemanfaatan sosial itu pulalah antara manusia dan hewan bisa dibedakan. “Kita itu kan bukan kambing, bukan burung. Kalau kambing itu kan sudah <em>happy</em>, apalagi burung, pagi dia nyanyi, sore nyanyi. Dia sudah <em>happy</em> dengan sibuk cari makan, sibuk punya anak, sibuk bikin sarang. Dia bermanfaat buat dirinya tapi bukan buat burung lain. Dan manusia harus bermanfaat buat yang lain. Itu bedanya,” ujarnya mengutip kata-kata Kyainya yang sering dipesankan kepadanya semasa masih <em>nyantri</em> di Gontor.</p>
<p>Al hasil, ukuran kesuksesan bukanlah materi tapi kemanfaatan sosial. ”Orang yang besar, orang yang sukses, menurut ukuran Gontor itu bukan presiden, bukan pejabat, bukan pula pengusaha. Bisa jadi orang itu besar karena dibesar-besarkan orang lain atau merasa besar. Orang besar sebenarnya adalah orang yang pergi mengajarkan sebaris-dua baris pengetahuan di sebuah kampung yang kecil di balik sebuah bukit dengan ikhlas.” Begitulah ukuran dan definisi sukses ala Fuadi.</p>
<p><strong>Masa Kecil di Ranah Minangkabau</strong></p>
<p>Ahmad Fuadi lahir di sebuah kampung kecil di pinggir Danau Maninjau, Bayur namanya. Ia hidup dan tumbuh di tengah keluarga pendidik; ibunya seorang guru SD, ayahnya pernah jadi guru Madrasah, dan kakeknya adalah kepala Madrasah. Meski secara ekonomi biasa-biasa saja, namun keluarga Fuadi adalah keluarga yang sangat menghormati ilmu, terlebih ilmu agama.</p>
<p>Walaupun orang kampung, tapi kakek Fuadi memiliki ruangan khusus yang penuh dengan rak beserta bukunya, mulai dari buku berbahasa Indonesia, bahasa asing, dan kitab-kitab berbahasa Arab. Fuadi mengaku senang sekali ketika berada di dalam ruangan itu. Karena belum bisa baca, ia pun biasanya membuka-buka buku yang banyak gambarnya. Ada salah satu buku berukuran tebal yang ia suka, karena berisi segala macam gambar, serupa ensiklopedi, tapi bertuliskan Arab. Al-Munjid nama kitab itu.</p>
<p>Kakek Fuadi termasuk orang yang sukses mendidik anak-anaknya. Pak Tuo (Pakde) Fuadi berhasil kuliah di Universitas Indonesia (UI). Bagi orang kampung, adalah suatu kebanggaan luar biasa. Lulus UI, dia dapat beasiswa ke Swedia. ”Nah, Pak Tuo suka kirim postcard, kirim surat. Di postcard itu biasanya ada gambar klub sepak bola Buyer Munchen. Terus dia juga suka kirim foto pas musim dingin, dia kirim foto yang sedang pegang salju. Wah, saya ingin bisa pegang salju. Saat itu saya sudah kebayang-bayang, dunia itu luas ya. Dan itu saya dapatkan dari sebuah kamar, kamar kakek saya yang hanya guru madrasah. Saya mendapatkan dunia baru di sana,” ungkapnya menceritakan.</p>
<p>Sementara ibunya, Suhasni, adalah seorang yang suka membaca. Selalu ada buku di mejanya. “Jadi kalau beli oleh-oleh gitu belinya buku, koran, majalah,” ceritanya. Selain membaca, ibunya juga senang menulis diary. Fuadi kecil pun jadi ikut-ikutan senang menulis diary.</p>
<p>Suhasni selalu mengajarkan tentang kejujuran hidup. Saking jurjurnya, Fuadi pernah diberi nilai 5 dalam raportnya. “Seumur hidup baru sekali itu saya dapat nilai merah, pelajaran kesenian. Dan yang memberikan nilai itu ibu saya sendiri. Orang lain <em>nggak</em> ada yang dapat lima, cuma saya,” keluhnya waktu itu. ”Habisnya kamu disuruh maju ke dapan nyanyi beberapa lagu tapi kamu tidak mau, ya udah, kamu dapat lima,” jawab Suhasni menghadapi protes Fuadi kecil.</p>
<p>Setelah dewasa Fuadi baru mengerti tentang nilai 5 itu. “Jadi ibu saya mengajarkan integritas dengan cara tanpa berkhutba. Kalau <em>nggak</em> patuh, <em>nggak</em> sesuai dengan peraturan ada resikonya, bahkan anak sendiri pun dapat nilai lima.”</p>
<p>Dalam soal disiplin ibunya adalah sosok idealis. Ia tak mau korupsi waktu. ”Jadi kalau guru lain datang pas jam mengajar, ibu saya itu datang ke sekolah bahkan sebelum penjaga sekolah itu datang. Jadi dia yang buka sekolah, nyapu-nyapu dulu. Jadi dia melakukan sesuatu itu dengan sebenar-benarnya, dengan hati dan melebihi dari apa yang diharapkan orang lain, karena loyalitas. Nah, mungkin pelan-pelan masuk ke dalam alam bawah sadar anak kecil dan mungkin sekarang semakin terasa berarti buat saya,” ungkapnya menyadari.</p>
<p>Masyarakat di sekitar Danau Maninjau cukup religius. Mereka menghargai ilmu agama, mungkin karena kampungnya Buya Hamka. Di sana, pelajaran mengaji itu wajib. Selain religius juga tradisional. Dalam arti mereka masih mempercayai betul legenda Malin Kundang, jadi anak-anak di sana seolah mewajibkan dirinya untuk patuh dan menghormati orangtua, terlebih sang ibu.</p>
<p>Setelah lulus, Fuadi melanjutkan ke <em>Madrasah Tsanawiyah</em> (setera dengan SMP). Sejatinya dirinya ingin masuk SMP, tapi sang ibu ingin anaknya menjadi ahli agama, pemimpin agama, atau istilahnya ulama intelek. Fuadi ingin protes, tapi kultur Minang membuatnya harus melunak terhadap orangtua. Hal serupa juga terjadi ketika ia lulus <em>Tsanawiyah</em> dan ingin melanjutkan ke sekolah umum, SMA.</p>
<p>Fuadi akhirnya kompromi, meski sempat ”ngambek” berhari-hari. Ia mau masuk sekolah agama tapi sayaratnya harus di luar Sumatera Barat dan jauh dari keluarga. Hingga akhirnya ia memilih <em>nyantri</em> di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.</p>
<p><strong><em>Nyantri</em></strong><strong> Setengah Hati</strong></p>
<p>Fuadi meninggalkan ranah Minangkabau menuju Pondok Gontor dengan setengah hati. Perjalanan itu ia sebut <em>mix feeling</em>. Satu sisi menjadi santri bukanlah yang diimpikan, tapi sisi lain itu sebuah perjalanan menuju tempat yang baru sama sekali yang tidak pernah ia tahu sebelumnya. Gembira bercampur lara.</p>
<p>“Tapi pas masuk Gontor <em>exited-</em>nya nambah, karena bener-bener melihat hal yang baru, sebuah tempat di tengah-tengah kampung tapi orangnya tiga ribuan, datang dari berbagai tempat. Orang-orangnya berbicara bahasa Arab, bahasa Inggris, asyik nih kalau bisa seperti ini,” pikir Fuadi kala itu yang mulai tergoda.</p>
<p>Meskipun ia terkendala imla’ (salah satu materi tes masuk di Gontor), namun akhirnya lulus juga setelah dapat bimbingan belajar dari kumpulan kakak-kakak seniornya asal Minang yang sudah lebih dulu <em>nyantri</em> di sana. Pelajaran pertama yang ia dapat adalah mantra sakti <em>man jadda wajadah</em>, seperti yang ia tulis dalam novel Negeri 5 Menara.</p>
<p>Gontor boleh dikata pesantren yang multi budaya. Semua provinsi terwakili, bahkan dunia. Karenanya ia menyebut Gontor sebagai “dunia kecil”. Semasanya, santri yang mondok di sana ada yang dari Australia, Malaysia, Singapura, Thailand, Suriname. Umur mereka pun beragam, mulai dari yang muda hingga tua. Dalam pergaulan, Fuadi mengaku senang ngobrol dengan santri yang secara usia di atasnya.</p>
<p>Selain ingin menciptakan pribadi yang berbudi luhur, berbadan sehat, berpengetahuan luas, Gontor juga mengajarkan tentang kebebasan berpikir. Semua santri bebas memilih madzhab tanpa harus terbelenggu salah satunya. Di sana tak ada madzhab fikihnya. ”Kitab fikih kita itu Hidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusdy yang mengkaji empat mazhab. Semuanya dipelajari dan tidak pernah ada order dari Pak Kiai maupun ustad untuk memilih salah satu madzhab. Ada yang mau <em>qunut</em> boleh, nggak <em>qunut</em> juga nggak apa-apa,” terangnya mangagumi.</p>
<p>Yang istimewa dari Gontor, salah satunya, adalah pelajaran bahasa. Di sana, bahasa dibuat <em>big deal</em>. “Kita nggak punya pilihan untuk mendengarkan bahasa lain. Semua bunyi-bunyian, seperti pengumunan itu menggunakan bahasa Arab-Inggris, cuma bunyi ketawa saja yang nggak Arab-Inggris hahaha…,” ceritanya seraya tertawa.</p>
<p>Hari-hari di Gontor padat dengan kegiatan. Membuatnya tak sempat lagi bermalas-malasan. Sebuah komunitas yang tak pernah padam mengobarkan semangat, dan siapapun yang di sana merasakan sengatannya.</p>
<p>Empat tahun <em>nyantri</em> di Gontor&#8211;dari 1988 hingga 1992&#8211;banyak pelajaran hidup yang ia petik: tentang kedisiplinan, kejujuran, mimpi, semangat usaha, kemanfaatan sosial, dan keikhlasan. <em>Uswatun hasanah</em> menjadi contoh yang ia lihat sehari-hari. ”Pak Kyai selalu bilang, kami ikhlas mengajar kalian maka ikhlaskanlah diri kalian untuk diajar,” tuturnya menirukan. Keikhlasan itu diperlihatkan, bukan sekedar diucapkan. Semua ustad di sana tidak digaji, hanya ikhlas mengajar saja. Karenanya tak ada transaksi moneter dan uang, yang ada adalah transaksi ibadah.</p>
<p>Nilai-nilai tersebut melekat begitu kuat dalam diri Fuadi, menjadi tongkat penuntun bagi petualangan dia berikutnya.</p>
<p><strong>Berburu Beasiswa Luar Negeri</strong></p>
<p>Keinginan Fuadi untuk sekolah umum rupanya tak pernah pupus. Usai dari Gontor, dirinya mengikuti UMPTN. Meski dengan susah payah, akhirnya lulus juga dan diterima di Hubungan Internasional, UNPAD, Bandung.</p>
<p>Impiannya sejak kecil untuk bisa pergi ke luar negeri tetap menggelora. Awal masuk di UNPAD, ia sudah sibuk mencari beasiswa. Tanya sana tanya sini. Akhirnya dapat juga informasi pertukaran pemuda antarnegara. ”Saya kemudian ikut tes dan ternyata dapat Kanada di tahun 1995.”</p>
<p>Kesempatan itu tak disia-siakan. Demi ke Kanada, dia rela cuti kuliah satu semester. Sepulang dari sana, kuliahnya kembali dikejar. ”Kalau kuliah ini bisa sajalah dikejar tapi ke luar negeri ini enggak bisa,” pikirnya.</p>
<p>Hasrat ke luar negeri kian membuncah. Setelah dari Kanada ia kian ”bernafsu” untuk menjelajah negara-negara lain. ”Coba cari lagi ah,” serunya dalam batin. Akhirnya dapat di National University Singapore untuk satu semester.</p>
<p>Sepulang dari Singapura, Fuadi kembali melanjutkan kuliahnya yang ”terbengkalai” hingga akhirnya lulus pada tahun 1997. Setamat dari UNPAD, dirinya kemudian sibuk mencari kerja. ”Ternyata susah juga cari kerjaan, karena waktu itu bersamaan dengan krisis moneter,” keluhnya.</p>
<p>Tapi dasar nasib mujur, Fuadi yang sejak kuliah sudah aktif menulis di berbagai media nasional maupun lokal itu akhirnya diterima bekerja di Tempo. Saat itu Tempo baru terbit lagi setelah dibredel. Baru setahun di Tempo, tepatnya 1998, dia mendapatkan beasiswa Fulbright untuk kuliah S-2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Sambil kuliah, dia menjadi koresponden Tempo dan wartawan VOA. Dua tahun lamanya ia berada di Amerika bersama sang istri tercintanya, Danya “Yayi” Dewanti.</p>
<p>Kesempatan untuk menjelajah negeri orang kembali datang di tahun 2004. Fuadi mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London. Dan terakhir, ia menjadi Direktur Komunikasi di NGO konservasi: The Nature Conservancy.</p>
<p>Fuadi benar-benar sudah berada pada zona aman, semua yang diinginkan sudah tercapai: sudah keliling dunia, sekolah ke luar negeri, master di Amerika dan London, dan sudah kerja di NGO internasional. Lengkap sudah.</p>
<p>Saat itulah Fuadi teringat kembali dan terusik dengan kata-kata sang Kyai, <em>khorunnas anfa’uhum linnas</em>. ”Saya berpikir, bagaimana ya supaya saya bisa bermanfaat bagi orang lain?” Dia pun mulai risau.</p>
<p>Pikir punya pikir, Fuadi akhirnya memutuskan untuk menulis tentang Gontor, mengingat pula bekal jurnalistiknya sudah sarat. Keinginan itu sebenarnya sudah lama, tapi selalu tertunda. Kenapa Gontor? Baginya, Gontor merupakan ”kawah candra dimuka” yang memberi kesaktian hidup pada dirinya. ”Saya sangat beruntung bisa masuk Gontor,” syukurnya. Selain itu dia mendapat dukungan penuh dari sang istri.</p>
<p><strong>Menyegarkan Kembali Ingatan Masa Lalu</strong></p>
<p>Tahun 2007, Fuadi mulai menata niat untuk menuliskan pengalaman-pengalaman inspiratifnya sewaktu di Gontor. Tapi ini tentu bukanlah pekerjaan mudah. Sebab ia harus menggali kembali cerita-cerita tentang Gontor yang sudah tertimbun belasan tahun silam.</p>
<p>Beruntung dulunya dia gemar menulis diary yang kini tertumpuk di mejanya. Fuadi mulai membuka diary-diary itu. Ingatan-ingatan lama yang sudah mulai rapuh pun menjadi segar kembali.</p>
<p>Setelah itu Fuadi pulang ke kampung halamannya, membongkar buku dan kitab-kitab dari Gontor yang masih tersimpan rapih nan lengkap. Dalam soal pengarsipan, Gontor memang memiliki tradisi yang patut diacungi jempol. Semua santri saat lulus dari pondok diharuskan punya buku lengkap dari awal ia masuk hingga tamat, baik buku catatan maupun buku teks. ”Buku <em>man jadda wajada</em> pertama saya itu masih ada, tanggal 20 Juni 1988,” ujarnya membuktikan.</p>
<p>“Semuanya itu bring back all memories, melihat buku yang sudah kuning itu saya jadi ingat lagi masa-masa itu. Terus saya punya foto-foto zaman masih di Gontor. Gontor itu menekankan kita perlunya punya arsip pribadi. Semua orang harus punya, satu kamar harus punya foto, satu club pidato harus punya, satu regu pramuka harus punya,” sambungnya.</p>
<p>Setelah membongkar arsip pribadinya, ia mulai melakukan riset karakter teman-temannya semasa di Pondok. Satu per satu teman-temannya pun mulai dikontak. Bahkan ada yang belum dikontak tahu-tahu ketemu di suatu tempat yang tidak pernah direncanakan sebelumnya. Mereka diajak ngobrol, ”Eh, dulu kita gimana, ya?”</p>
<p>Data-data sudah terkumpul, Fuadi lalu membuat semacam outline.</p>
<p>Tiba waktunya untuk mulai menuliskannya, dengan dicicil saban hari. Setiap habis subuh ia duduk di depan komputer untuk menulis sekira setengah jam. Saat makan siang di kantor, kadang-kadang ia menyempatkan untuk menambahinya. Malam harinya dilanjutkan kembali. Begitu seterusnya. Hingga satu setengah tahun kemudian, buku itu akhirnya jadi juga, yang kemudian ia beri judul ”Negeri 5 Menara”.</p>
<p>Tak dinyana, novel setebal 422 halaman yang kaya akan kisah inspiratif itu meledak di pasaran sejak cetakan pertamanya pada Juli 2009, kini bahkan sudah mencapai 170.000 kopi. Best seller. Dan, mantra sakti <em>man jadda wajada</em> mulai menyebar ke berbagai penjuru di Indonesia, bahkan dunia. Menjadi pembicaraan dan diskusi di berbagai tempat.</p>
<p>Padahal Fuadi sendiri tak pernah mengira sebelumnya. Sebab niat dia membukukan kisah-kisah inspiratifnya itu murni untuk kemanfaatan sosial. ”Kalau dia (novel Negeri 5 Menara) <em>booming</em> itu bonus,” komentarnya singkat ketika dimintai respon mengenai karyanya yang tengah merajai pasaran itu. Buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara juga sudah dicetak pada Januari 2011 lalu, judulnya Ranah 3 Warna.</p>
<p><strong>Berkah dari Negeri 5 Menara</strong></p>
<p>Bersamaan dengan <em>booming</em>-nya novel Negeri 5 Menara, aktivitas Fuadi pun kian padat. Mulai dari melakukan roadshow ke berbagai daerah untuk melakukan book launching, seminar, taklshow di berbagai media baik televisi maupun radio, melayani para wartawan media cetak maupun online yang tengah berburu berita, serta undangan-undangan lain dalam beragam kepentingan dan tema.</p>
<p>Kuatnya inspirasi yang tersembul dari novel Negeri 5 Menara membuat para pegiat film tergoda untuk memfilmkannya. Tawaran datang dari sejumlah rumah produksi. Awalnya, Fuadi enggan, namun setelah ditimbang-timbang kembali demi asas kemanfaatan sesama akhirnya Fuadi memilih Kompas Gramedia dan Million Picture untuk mengerjakannya dengan sutradara muda berbakat Afandi Abdurrahman. Sementera untuk urusan skenario dipercayakan kepada Salman Aristo.</p>
<p>Pertengahan Juni 2011 lalu, <em>casting</em> yang diadakan di berbagai tempat sudah selesai. Begitu pun dengan naskah skenarionya, kini sudah pindah ke tangan sutradara. Selama pembuatan skenario, Fuadi mengawalnya dengan ketat agar semangat yang ada di dalam novel tersebut bisa tetap terjaga. Begitu juga saat <em>casting</em>, ia turut serta jadi penentunya.</p>
<p>Sebagian royalti trilogi ini diniatkan untuk membangun Komunitas 5 Menara, sebuah organisasi sosial berbasis volunteerism yang ingin menyediakan sekolah, perpustakaan, klinik dan dapur umum gratis baut kalangan yang tak mampu. Melalui Komunitas 5 Menara, Fuadi dan teman-temannya saat ini sudah mendirikan sekolah PAUD untuk anak-anak yang tak mampu.</p>
<p>Selain itu, berkah dari novel Negeri 5 Menara ia kini laris sebagai motivator yang menginspirasi jutaan orang di Indonesia dan mancanegara. [ ] Muhammad Kodim</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">CURRICULUM VITAE A. FUADI</span></strong><strong></strong></p>
<p>EDUCATION</p>
<ul>
<li>Royal Holloway, University of London, UK, MA in Media Arts, September 2005</li>
<li>The George Washington University, Washington DC, MA in Media and Public Affairs, May 2001</li>
<li>Padjadjaran University, Indonesia, BA in International Relations, GPA 3.36/4.00, September 1997</li>
<li>National University of Singapore, a semester study abroad, 1997</li>
<li>International Educational Program, CWY, Canada, Montreal, 1995-1996</li>
</ul>
<p>AWARDS AND SCHOLARSHIP</p>
<ul>
<li>Liputan6 Award, Motivation and Education, SCTV, 2011</li>
<li>Khatulistiwa Literary Award, Long list, 2010</li>
<li>Indonesian Readers Award, The Most Favorite Book/Writer, 2010</li>
<li>The British Chevening Scholarship, Graduate Program, University of London, London 2004-2005</li>
<li>The Fulbright Scholarship, Graduate Program, The George Washington University, 1999-2001</li>
<li>CASE Media Fellowship, University of Maryland, College Park, 2002</li>
<li>The Ford Foundation Award 1999-2000</li>
<li>Columbian School of Arts and Sciences Award, The George Washington University, 2000-2001</li>
<li>Indonesian Cultural Foundation Inc. Award, 2000-2001</li>
<li>SIF-ASEAN Visiting Student Fellowship, National University of Singapore, 1997</li>
</ul>
<p>PROFESSIONAL EXPERIENCES</p>
<ul>
<li>Founder of Komunitas Menara, 2009–now.</li>
<li>Author, best-selling and award winning novels “Negeri 5 Menara” and “Ranah 3 Warna”, 2009–now.</li>
<li>Public Speaker, Motivator.</li>
<li>Director of Communications, The Nature Conservancy (TNC), one of the largest conservation organizations in the world, August 2007–now.</li>
<li>Publication and Information Specialist, USAID-LGSP (Local Governance Support Program), the largest capacity development program in Indonesia funded by USAID, December 2005–Aug 2007.</li>
<li>Journalist, Voice of America, Jakarta, November 2002 – November 2005.</li>
<li>TV Producer and Editor, Voice of America, Washington DC, May 2001-October 2002.</li>
<li>International correspondent, TEMPO Magazine, Washington DC, August 1999-September 2002.</li>
<li>Journalist, TEMPO Magazine , Jakarta, Indonesia, August 1998-2002.</li>
<li>Research Assistant, Center for Media and Public Affairs, Washington DC, 2000-2001.</li>
<li>Research Assistant, School of Media and Public Affairs, GWU, Washington DC, 2000-2001.</li>
<li>Journalist, of “CJSR 3 TV Communautaire”, St-Raymond, Quebec, Canada, 1995.</li>
<li>Freelance writer and columnist, 1992-1998.</li>
</ul>
<p><span style="text-decoration:underline;">LEADERSHIP AND TEACHING EXPERIENCE</span></p>
<ul>
<li>Trainer, Media Relations and Publication, funded by USAID-LGSP (2006-2007). Attended by aid agency staff from 8 provinces in Indonesia.</li>
<li>Trainer, The Advanced TV Production Workshop, funded by International Broadcasting Bureau-VOA, September 2005. Attended by TV journalists/producers from 14 TV stations in Indonesia.</li>
<li>DDI Certified Facilitator for various organizational and human behavior topics</li>
<li>Speaker/facilitator for various discussions and events in Indonesia and the USA.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pinggirmalam.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pinggirmalam.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pinggirmalam.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pinggirmalam.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pinggirmalam.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pinggirmalam.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pinggirmalam.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pinggirmalam.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pinggirmalam.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pinggirmalam.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pinggirmalam.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pinggirmalam.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pinggirmalam.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pinggirmalam.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=167&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pinggirmalam.wordpress.com/2011/10/13/membela-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c3b7a5434b0f445f669b2c8376dfffb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kodim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Novel Menuju Film</title>
		<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/2011/10/13/dari-novel-menuju-film-2/</link>
		<comments>http://pinggirmalam.wordpress.com/2011/10/13/dari-novel-menuju-film-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 08:13:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kodim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ahmad fuadi]]></category>
		<category><![CDATA[best seller]]></category>
		<category><![CDATA[film negeri 5 menara]]></category>
		<category><![CDATA[gontor]]></category>
		<category><![CDATA[man jadda wa jada]]></category>
		<category><![CDATA[minang]]></category>
		<category><![CDATA[negeri 5 menara]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[nyantri]]></category>
		<category><![CDATA[pondok pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Novel “Negeri 5 Menara” karya A. Fuadi yang kaya akan kisah inspiratif meledak di pasaran sejak cetakan pertamanya pada Juli 2009, kini sudah mencapai 170.000 kopi. Semua cerita yang tertutur di buku setebal 422 itu terinspirasi dari kisah nyata perjalanan hidupnya yang berserak dari mulai masa kecil di ranah Minang, lalu merantau ke tanah Jawa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=163&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Novel “Negeri 5 Menara” karya A. Fuadi yang kaya akan kisah inspiratif meledak di pasaran sejak cetakan pertamanya pada Juli 2009, kini sudah mencapai 170.000 kopi. Semua cerita yang tertutur di buku setebal 422 itu terinspirasi dari kisah nyata perjalanan hidupnya yang berserak dari mulai masa kecil di ranah Minang, lalu merantau ke tanah Jawa untuk menimba ilmu agama di Pondok Modern Gontor Ponorogo, hingga belajar di luar negeri. Kesemuanya ditulis dengan gaya sastra sehingga enak dibaca dan dibalut dengan nilai-nilai luhur kehidupan yang ia peroleh sewaktu <em>nyantri</em> di Gontor sehingga mampu mengobarkan aras semangat diri siapa saja yang membacanya dengan mantra sakti <em>man jadda wajada</em>.</p>
<p>Segera saja tawaran untuk memfilmkan novel tersebut datang dari sejumlah rumah produksi. Awalnya, Fuadi enggan, namun setelah ditimbang-timbang kembali demi asas kemanfaatan sesama akhirnya Fuadi memilih Kompas Gramedia dan Million Picture untuk mengerjakannya dengan sutradara muda berbakat Afandi Abdurrahman. Sementera untuk urusan skenario dipercayakan kepada penulis skenario kondang, Salman Aristo.</p>
<p>Namun ada kekhawatiran dari beberapa kalangan ketika novel yang ”super” indah dan inspiratif itu difilmkan. Sebab kedahsyatan cerita dalam sebuah novel seringkali tereduksi manakala divisualisasikan. Banyak sudah contoh bagaimana novel-novel hebat sebelumnya ceritanya menjadi “dangkal” ketika tampil dalam bentuk gambar. Fuadi sejatinya sudah menyadari kemungkinan akan resiko ini, tapi dia tak seberapa merisaukannya. Sebab, niat dibuatnya film ”Negeri 5 Menara” bukan semata untuk mengejar prestisiusme di jagad perfilman melainkan lebih pada alasan kemanfaatan lebih luas. Logikanya, meskipun menjadi buku best seller, terjual 170.000 kopi, tapi jumlah itu tak seberapa bila dibanding jumlah penduduk Indonesia. Dengan film diharapkan lebih banyak lagi masyarakat yang bisa tertular semangat novel tersebut, karena dunia film lebih mudah dan disukai masyarakat.</p>
<p><span id="more-163"></span>Ingin tahu lebih lanjut bagaimana respon sang penulis tentang karyanya yang sebentar lagi akan dijadikan film ini, dan bagaimana kisah perjuangan dia saat awal menyiapkan naskah ”Negeri 5 Menara” yang bahan ceritanya sudah tertimbun belasan tahun silam? Pertengahan Juni 2011 lalu, saya dan dua teman dari majalah <strong><em>intrepreneur</em></strong> bersilaturrahim ke kediaman Fuadi di Bumi Bintaro Permai dan berbincang-bincang mengenai banyak hal. Kurang lebih dua jam lamanya kami <em>ngobrol</em> di dalam suasana penuh keramahan dengan ditemani bercangkir-cangkir teh hangat.</p>
<p><strong><em>Apa yang melandasi Mas Fuadi menulis buku Negeri 5 Menara itu?</em></strong></p>
<p>Saya sangat beruntung masuk Gontor. Jadi 4 tahun itu begitu berkesan karena banyak sekali yang saya dapat: semangat, tujuan hidup, dan macam-macam. Dan saya memang ingin menulis tentang Gontor dari dulu tapi selalu tertunda. Jadi tahun 2007 itu sampai pada titik bahwa mungkin sudah saatnya menuliskannya. Jadi ada masa dimana saya sudah merasa semua sudah sampai: sudah keliling dunia, sekolah di luar negeri, master di Amerika, master di Inggris, sudah kerja di luar negeri juga sebagai direktur komunikasi di NGO internasional. Jadi sudah pada zona nyaman sekali. Tapi ingat lagi kata-kata Pak Kyai yang suka mengutip hadis, <em>khoirunnas anfa’uhum linnas</em>, bahwa sebaik-baiknya kita adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Saya pikir bagaimana ya bermanfaat itu?</p>
<p>Dulu Pak Kyai selalu bilang, apapun pekerjaan kalian selalu sempatkan mengajarkan, karena mengajar itu membuat ilmu bermanfaat. Waktu itu saya tidak mengajar. Saya pikir, wah saya harus melakukan sesuatu agar saya bisa bermanfaat, mungkin dengan menulis. Jadi itu kombinasi: ingin menemukan manfaat lebih dengan menulis, ingat lagi keinginan dulu ingin menulis tentang Gontor, ketiga karena dorongan istri saya. Istri saya kan orang Jakarta, jauh dari pesantren. Waktu saya cerita lucu-lucunya pesantren dia tertarik, ”Wah, hebat sekali pesantren. Ini harus ditulis. Ini inspiratif, enggak banyak orang yang tahu.” Jadi kombinasi dari 3 hal itu.</p>
<p><strong><em>Kesulitannya seperti apa?</em></strong></p>
<p>Kesulitannya adalah itu kan cerita yg sudah belasan tahun lalu. Nah, yang pertama saya lakukan adalah saya buka diary. Jadi di meja komputer saya itu diary zaman-zaman dahulu menumpuk. Saya pulang, saya bongkar buku-buku dari Gontor. Di Gontor itu ada budaya bagus, semua orang pas lulus harus punya buku lengkap dari kelas satu sampai kelas enam, baik catatan maupun buku teks. Buku <em>man jadda wajada</em> pertama saya itu masih ada, 20 Juni 1988, hari pertama.</p>
<p>Semuanya itu bring back all memories. Melihat buku yang sudah kuning itu jadi ingat lagi masa-masa dulu itu. Terus saya punya foto-foto zaman masih di Gontor. Gontor itu menekankan kita perlu punya arsip pribadi. Setiap kelas wajib punya foto bersama. Itu sampai mengorbatan kegiatan lain selama satu hari untuk foto, saking pentingnya. Semua orang harus punya, satu kamar harus punya foto, satu club pidato harus punya, satu regu pramuka harus punya.</p>
<p>Terus saya mulai riset karakter teman-teman. Saya mulai kontak satu-satu. Ada yang belum saya kontak, entah gimana, ajaib juga, tahu-tahu ketemu di mana. Antara lain teman-teman yang jadi karakter di novel itu saya ajak ngobrol lagi, ”Eh, dulu kita gimana?” Jadi seperti wartawan saja bikin investigasi, ngumpulin semua bahan, terus saya bikin semacam outline-nya, outline-nya kan sebetulnya kronologis saja. Udah, tiap hari saya cicil. Habis subuh saya duduk di depan komputer, barang setengah jam lebih. Kemudian saya pergi ke kantor, nanti jam makan siang kadang-kadang saya tambahi lagi. Malam saya tambahi. Sehari saja, misalnya sehari saya dapat setengah halaman, kali 365 hari kan dapat hampir 200 halaman. Lama-kelamaan satu setengah tahun jadi buku juga. Jadi <em>refresh</em> memori itu dengan berbagai cara.</p>
<p>Tapi satu lagi yang unik, waktu pulang ke Padang, saya bilang ke Ibu bahwa saya mau nulis novel. Terus ibu saya ngasih sesuatu, setebal buku. Itu kumpulan semua surat saya yang saya tulis dan kirim ke ibu selama 4 tahun di Gontor, dikasih nomor lagi sama ibu saya. Jadi semuanya itu <em>alhamdulillah</em> dimudahkan, saya punya semua bahan: diary ada, surat ada, foto-foto ada, teman-teman yang bisa dikontak ada. Sudah, tinggal saya mau menuliskan atau tidak.</p>
<p><em><strong>Apakah ada kendala soal waktu dan penulisannya?</strong></em></p>
<p>Beruntung saya pernah jadi wartawan. Wartawan kan enggak boleh enggak <em>mood</em>. Kalau enggak <em>mood</em> enggak terbit. Saya menganggap ini seperti nulis berita saja. Nah, kekurangannya kemudian banyak kritik juga, ini novelnya bagus tapi kayak reportase. Saya bilang, <em>alhamdulillan</em> berarti saya wartawan benar, kan saya enggak berpretensi jadi sastrawan, cuma buat cerita saja.</p>
<p>Jadi kombinasi itu. Pertama, niat dulu. Niatnya kan bagaiamana saya bermanfaat, bagaimana berbagi sesuatu. Itu luar biasa, karena kalau saya enggak sampai menemukan niat itu mungkin malas kali saya nulis. Pertama saya kerja tiap hari, terus sudah dalam zona kenyamanan, ngapaian sih nulis. Kedua, yang saya tulis adalah yang saya peduli, yang saya tahu, yang saya <em>care</em>, yang saya suka. Jadi tulisannya mungkin lebih berwarna. Terus saya lakukan secara konsisten tiap hari dan referensinya banyak. Saya juga riset berbagai hal. Terus saya juga sambil belajar. Istri saya belikan buku How To Write A Novel. Sebelumnya kan enggak pernah tahu novel, baca novel saja enggak senang. Kemudian istri saya pesan lagi ke amazone.com&#8211;karena dia punya akun di sana&#8211;buku How To Write Dialogue. Terus buku How To Write Caracter. Jadi itu adalah sebuah pekerjaan yang asik sebetul, nulis sambil belajar.</p>
<p><em><strong>Waktu awal-awal bikin buku apakah Mas Fuadi sudah punya keyakinan bahwa novel ini bakal booming?</strong></em></p>
<p>Balik ke niat awal. Bukan <em>booming</em> ukurannya tapi bermanfaat atau enggak. Kalau dia <em>booming</em> itu bonus. Cuma <em>feeling</em> saya bilang begini: menurut saya ini inspiratif, saya merasa terinspirasi mungkin orang lain juga terinspirasi.</p>
<p><em><strong>Jadi kata kuncinya adalah manfaat tadi?</strong></em></p>
<p>Ada di situ. Saya bilang, event before you start writing sesuatu itu harus ada investigasi ke dalam dulu, saya nulis buat apa. <em>Reason</em> (why)-nya harus dapat. Kalau enggak, energi nulisnya kurang kuat. Nanti nulisnya cepat, habis itu sebulan pelan, habis itu berhenti. Nah, itu kan sebenarnya dapatnya di pesantren. Selama ini kan dikhutbahin aja tuh, <em>innamal a’malu binniyah</em>, tapi sekarang makin kesini makin terasa: iya ya ini yang dimaksud.</p>
<p><em><strong>Dengar-dengar novel Negeri 5 Menara mau difilmkan?</strong></em></p>
<p>Iya.</p>
<p><em><strong>Apa pertimbanggannya menfilmkan novel ini? Karena beberapa novel yang populer ketika mau dipindahkan ke bahasa visual terjadi banyak reduksi. Bagaimana penilaiaan Mas Fuadi tentang hal itu?</strong></em></p>
<p>Film itu bonus juga, Mas. Niat awalnya kan bermanfaat. Jadi setelah terbit sebulan ada PH besar yang telepon, kami tertarik memfilmkan. Kaget saja, oh sudah ada yang mau memfilmkan. Tapi dalam pikiranku, ah nanti saja lah. Terus bulan depan ada PH yang lain, ada lagi, ada lagi. Kalau dihitung-hitung mungkin ada 10 PH yang tertarik. Mungkin mereka melihat potensi cerita dan novel ini sudah <em>booming</em>. Terus saya pikir, mungkin sudah saatnya, karena kembali ke niatnya, yaitu bisa bermanfaat. Mungkin dengan film bisa lebih bermanfaat lagi. Orang Indonesia itu kan budaya literasinya kurang. Negeri 5 Menara sudah dianggap best seller, sudah terjual 170.000 kopi, itu sudah hebat. Tapi penduduk Indonesia sekarang berapa? Jadi sangat sedikit. Sementara kalau orang nonton film itu banyak, sejutaan. Dan masuk akal ya, buku beli puluhan ribu, lalu butuh berhari-hari untuk baca. Nonton film berapa jam? Harga tiketnya berapa sekarang? Jadi seklai lagi efek kemanfaatannya, <em>sharing</em> inspirasinya mungkin lebih banyak. Saya pikir ya udah, ayo kita filmkan.</p>
<p>Pertanyaan Mas tadi benar tuh: resiko ketika sebuah novel difilmkan. Tapi kalau saya melihatnya dia dua media yang berbeda: buku adalah buku, film adalah film. Jadi tidak bisa dibanding-bandingkan. Setiap orang yang baca buku dia punya bioskop sendiri di kepalanya. Sama-sama baca buku tapi yang dibayangkan tokohnya itu enggak selalu sama persis. Pasti beda. Karena masing-masing ada di kepala orang. Sementara novel difilmkan itu teathre of mind-nya sutradara, jadi pasti banyak orang yang bayangannya enggak seperti yang saya bayangin.</p>
<p>Kedua, film itu durasinya maksimal berapa? Dua jam itu sudah hebat. Buku, 300 atau 400 lembar, enggak muat di sana (kepala). Pasti akan ada yang dikurangi, ada yang dilompati, ada yang dipadatkan, ada yang mungkin ditambah atau dikurangi. Yang jelas tidak bisa di-compaire dan pasti berbeda. Nah, yang saya harap yang enggak berbeda adalah semangatnya tadi. Kan spiritnya <em>man jaddah wajada</em>, dan jangan pernah remehkan impian setinggi apapun, Tuhan itu maha mendengar. Kalau <em>story</em> itu agak susah kita banding-bandingkan. Itu bagian dari resiko kalau difilmkan.</p>
<p><em><strong>Jadi Mas Fuadi sebenarnya sudah menyadari sejak awal mengenai resiko itu?</strong></em></p>
<p>Iya.</p>
<p><strong><em>Sejauh mana mas Fuadi mengawal proses film ini agar tidak terlalu jauh dari yang di novel, meskipun pastinya masih ada reduksi?</em></strong></p>
<p>Film kan sebuah industri. Dia sudah punya caranya sendiri, sudah ada ahlinya. Saya penyedia bahan dasarnya. Bahan dasar ini akan diolah lagi untuk jadi film. Pertama dijadikan skenario.</p>
<p><em><strong>Kalau boleh tahu, penulis skenarionya siapa?</strong></em></p>
<p>Salman Aristo. Dia juga menulis Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta. Jadi yang adaptasi dari Novel, Salman Aristo ini sudah terbukti. Jadi saya percayakan kepada dia. Tapi saya dianggap creative consultant. Jadi setiap ada draf skenario pasti masuk ke saya, saya kasih masukan, nanti dibenerin, dibikin draf baru, bolak-balik, selalu saling melengkapi untuk menjaga di skenario agar alur semangatnya tetap sama. Kalau yang lainnya, misalnya <em>casting</em>, <em>casting</em> kita ramai banget loh, sehari itu bisa 150 orang yang ngantri.</p>
<p><strong><em>Castingnya di mana saja?</em></strong></p>
<p>Dua kali di Graha Obor, Kemang. Terus kemarin muter ke kota-kota besar.</p>
<p><strong><em>Untuk PH yang menggarap?</em></strong></p>
<p>Kompas Gramedia dan Million Picture.</p>
<p><em><strong>Sutradaranya?</strong></em></p>
<p>Afandi Abdurrahman, sutradara muda berbakat.</p>
<p><strong><em>Penulisan skenarionya sendiri dimulai sejak kapan?</em></strong></p>
<p>Hampir setahunan, 2010.</p>
<p><em><strong>Targetnya selesai sampai kapan?</strong></em></p>
<p>Baru tadi kita udah lock script. Sekarang sudah pindah ke sutradara. Akhirnya Juli sampai Agustus akan dilakukan syuting, Dan rencananya awal tahun nanti sudah tayang. Nanti settingnya di Maninjau (kampung saya), di pesantren (Jawa), terus di London.</p>
<p><em><strong>Kalau boleh tahu, pemain utamanya siapa?</strong></em></p>
<p>Pemain utamanya belum akan diumumkan sampai akhir bulan ini, karena kan <em>casting</em>-nya baru saja selesai. Calon-calon kuatnya sudah ada.</p>
<p><em><strong>Siapa saja itu?</strong></em></p>
<p>Belum bisa disebutkan karena beberapa calon kan belum tandatangan.</p>
<p><em><strong>Tapi pakai artis-artis yang sudah ngetop enggak?</strong></em></p>
<p>Kalau pemeran utama, anak-anak itu, orang baru semua, <em>fresh tallent</em>, kan kita mencari lokalitas. Itu anaknya ada yang dari Padang, Medan, dll. Terus usianya SMP/SMA, tapi nanti dicampur dengan pemeran yang lain-lain, bukan yang utama, itu sudah ada yang terkenal.</p>
<p>Jadi tokoh asli dalam novel ini tidak akan ada yang masuk di film ini, semuanya diberikan pada yang profesional dan sesuai umur waktu itu. Jadi setting pertama itu tahun 1988. Itu masih muda sekali. Terus setting terakhirnya tahun 2003.</p>
<p><em><strong>Untuk pesantren settingnya ambil Gontor?</strong></em></p>
<p>Belum tahu. Gontor itu punya sebuah tradisi yang paling penting itu sekolah/kelas itu tdk boleh terganggu, apapun yg terjadi. Nah, kalau syuting bayangkan Mas bisa 30 hari, krunya bisa 200 orang.</p>
<p><em><strong>Jika gitu rencananya untuk ngambil setting gontor itu di mana?</strong></em></p>
<p>Udah ada kandidat yg kuat tapi belum diputuskan buat bulan depan. Jadi mungkin di pesantren yang lain.</p>
<p><em><strong>Tapi tetap di Jawa Timur?</strong></em></p>
<p>Belum tahu juga, ada bberapa kandidat.</p>
<p><em><strong>Yakin enggak film ini bakal sesuai dengan reason tadi?</strong></em></p>
<p>Ya kan sudah diusahakan. Menurut saya sih hutang kita itu kan usaha sekuat mungkin, berdoa sekuat mungkin. Ya sudah, abis itu jangan dipikirkan lagi.</p>
<p><strong><em>Mas Fuadi kan masih memegang teguh nilai-nilai dari gontor, nah kira2 dg novel yg booming dan sebentar lagi akan dilanjutkan dg film ini, kira2 itu masuk dalam definisi manfaat versi gontor tadi?</em></strong></p>
<p>Seharusnya yg merasakan manfaat itu orang yg membacanya. Kalau dari saya meilihat sepintas, alhamdulillah, ada manfaatnya. Misalnya yg paling gampang baca di facebook, itu wall-nya penuh. Ada yg bilang, gara2 ini saya kembali mengerjakan skripsi, gara2 ini tiba2 anak saya ingin masuk pesantren, gara-gara ini saya ingin bikin pesantren udah ada tanahnya di Malaysia, saya mau bikin tempat ibadah namanya bingung saya kasih saja man jadda wajada, dan kalau bikin rumah ibadah yang kedua akan saya kasih nama man sobaro zhafiroh. Jadi kalau lihat yang itu, ternyata dia menembus ke banyak level, mulai dari anak kecil yg tersemangati untuk belajar lebih giat lagi. Kemarin di twitter ada yg bilang, benar juga man jadda wajada terbukti dengan nilai raport saya. itu penuh banget, nanti bisa kita lihat.</p>
<p>Jadi kalau itu ukuran manfaatnya menurut saya alhamdulillah sudah sampai. Satu saja yang merasa bermanfaat saya sudah syukur Mas. Kalau banyak ya syukur alhamdulillah.</p>
<p><em><strong>Filmnya judulnya sama dg judul novelnya?</strong></em></p>
<p>Insyaallah sama. Yang lagi berjalan sekarang ini adalah penerjemahan novel negeri 5 menara ke bahasa inggris. Nah itu judulnya belum tahu apa ke dalam bahasa inggrisnya, masih dicari-cari. Itu launching bahasa inggrisnya mungkin Oktober 2011. Kalau bahasa Melayunya sudah terbit. Dan rencananya mau ke bahasa Arab juga, tapi masih belum pasti. [ ] <em><strong>Muhammad Kodim</strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pinggirmalam.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pinggirmalam.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pinggirmalam.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pinggirmalam.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pinggirmalam.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pinggirmalam.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pinggirmalam.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pinggirmalam.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pinggirmalam.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pinggirmalam.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pinggirmalam.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pinggirmalam.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pinggirmalam.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pinggirmalam.wordpress.com/163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=163&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pinggirmalam.wordpress.com/2011/10/13/dari-novel-menuju-film-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c3b7a5434b0f445f669b2c8376dfffb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kodim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cairan Penyubur Tanah</title>
		<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/2010/03/03/cairan-penyubur-tanah/</link>
		<comments>http://pinggirmalam.wordpress.com/2010/03/03/cairan-penyubur-tanah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 02:54:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kodim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Amung Stiowibowo]]></category>
		<category><![CDATA[Anorganik]]></category>
		<category><![CDATA[Cairan penyubur tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Organik]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[pestisida]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<category><![CDATA[pupuk kimia]]></category>
		<category><![CDATA[Recovery tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[tanah rusak]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi penyubur tanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Biaya Murah, Panen Melimpah Siapa bilang bertani harus mahal? Sekarang ini, sudah ditemukan teknologi yang bisa memperbaiki kerusakan lahan pertanian akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlebih dalam rentang puluhan tahun. Dialah Among Setiowibowo, sang penemu cairan penyubur tanah dengan harga murah. Ihwal Ditemukannya Cairan Penyubur Tanah Bermula dari keprihatinan atas nasib para petani [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=154&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Biaya Murah, Panen Melimpah</strong></p>
<p>Siapa bilang bertani harus mahal? Sekarang ini, sudah ditemukan teknologi yang bisa memperbaiki kerusakan lahan pertanian akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlebih dalam rentang puluhan tahun. Dialah Among Setiowibowo, sang penemu cairan penyubur tanah dengan harga murah.</p>
<p><strong>Ihwal Ditemukannya Cairan Penyubur Tanah</strong></p>
<p>Bermula dari keprihatinan atas nasib para petani yang tak kunjung sejahtera akibat tanah mereka yang kian hari kian rusak. Saat musim panen tiba, hasilnya tak sebanding dengan biaya perawatan yang mereka keluarkan selama berbulan-bulan. Bahkan, tak jarang pula yang harus menuai kegagalan total, tak sedikitpun hasil panen yang bisa dibawa pulang.<span id="more-154"></span></p>
<p>Menyedihkan memang. Padahal, seperti yang disebut Kanjeng Sunan Kali Jaga dalam tembangnya <em>“ilir-ilir bowo dandang gulo”</em> yang kemudian dinyanyikan Waljinah, <em>tani yekti soko guru negeri ugo bentenge bongso</em> (petani adalah guru negara dan benteng pertahanan bangsa), namun nasibnya kini kian terpuruk. “Kalau mereka keropos, maka cepat atau lambat bangsa ini hancur, cepat atau lambat bangsa ini tidak dihargai bangsa lain,” ujar pria kelahiran 28 Mei 1956  ini.</p>
<p>Kegelisahan atas kenyataan hidup para petani yang tak henti-hentinya didera masalah itu terus berkecamuk dalam diri Bowo, begitu ia biasa disapa. Dalam kegalutannya itu, Bowo bermunajat, memohon pada Sang Penguasa Alam agar diberi petunjuk dan jalan keluarnya. Lembar demi lembar kitab suci Al-Qur’an pun ia buka dan baca. Hingga akhirnya, pencariannya itu berhenti di surat Al-Anbiya’, tepatnya ayat 30. Bunyinya, “…dan Aku jadikan segala sesuatu yang hidup dari air.”</p>
<p>“Jadi teknologi itu dasarnya adalah surat Al-Anbiya’ ayat 30, <em>banyu panguripan</em> (air kehidupan-red). Begitu kena tanah, terjadi kehidupan,” ungkapnya.</p>
<p>Dalam surat yang sama, tambah Bowo, juga dikatakan “Aku ciptakan alam semesta dahulunya adalah sesuatu yang padu, kemudian Aku pisahkan keduanya menjadi langit dan bumi.” Barat mengatakan Big Bang, teori ledakan yang maha dahsyat, proses penciptaan alam semesta.</p>
<p>Lalu ledakannya apa dalam teknologi cairan penyubur tanah ini? “Kalau kita ledakannya bukan ledakan kayak Big Bang, tapi ledakannya Ki Ageng Selo: petir. Masak sih petir kok mampu menyuburkan tanah? Berarti saya main dengan gelombang, berarti saya main dengan listrik. Sehingga teknologi ini tidak cukup hanya insinyur pertanian, harus ada orang ekonominya, orang listriknya, orang mesinnya,” terang paman aktris dan presenter cantik Cut Tari ini. Karenanya, teknologi ini dikerjakan oleh tim yang berjumlah 5 orang dari latar disiplin keilmuan yang berbeda-beda.</p>
<p>Ditelusuri lebih lanjut mengenai apa saja bahan dan bagaimana cara pembuatan teknologi cairan penyubur tanah ini, Bowo agaknya enggan membeberkannya secara rinci, hanya gambaran umumnya saja. “Nah, ini yang sebetulnya <em>enggak</em> boleh dibuka secara gamblang. Saya jelaskan secara umum saja. Tadi kita kan bicara petir. Petir kalau menyambar pohon, pohonnya mati. Tapi radius di sekitar pohonnya subur. Ternyata Indonesia adalah negara nomor 4 penghasil petir di dunia. Subur tanahnya. Ternyata petir menyumbang unsur N (nitrogen) jutaan matrik ton terhadap tanah,” terangnya.</p>
<p>“Kita lihat alam semesta jagat raya ini. Ada air kena matahari, nguap. Ada H2A. Ada nabati, sampah-sampah perkotaan, humus di hutan-hutan kita, ada nabati kompos, kena matahari dia nguap. Ada air laut. Di atas itu kan tidak ada bensin, tapi kok ada ledakan? Karena H2 ketemu O2. Simulasi itu yang kami buat teknologinya. Berarti saya menggunakan saripati nabati hayati kompos. Jadi saya pakai kompos tapi intisarinya. Enggak perlu 20 ton per hektar,” jelasnya diikuti tawa.</p>
<p>Dari proses demikian, lahirlah kemudian teknologi cairan penyubur tanah dan tanaman di tahun 1997 lalu.</p>
<p>Cairan penyubur tanah ini ada 3 jenis (botol), namun satu talian, atau istilahnya 3 in 1. <em>Pertama</em>, Decomposer, bungkus botolnya berwarna coklat tua, berfungsi untuk merecovery tanah di awal, sebelum tanam, sebagai pupuk dasar. Selain itu juga berfungsi melakukan jerami, mengurai unsur hara. Ibarat mobil, Decomposer ini sebagai starter. Setelah itu baru digunakan botol yang <em>kedua</em>, Cairan Penyubur Tanah &amp; Tanaman, berwarna hijau. Digunakan 1 minggu 3 hari sebelum tanam dengan cara disemprotkan. Setelah masuk ke lahan, supaya tidak disemprot racun, berikan botol yang <em>ketiga</em>, Pengendali Hama, berwarna merah. Caranya, dicampur di dalam tangki semprot 14 liter.</p>
<p>Berarti untuk satu kali musim tanam disemprot sebanyak 3 kali. Jika ada hama, dosisnya ditingkatkan dua kali lipat.</p>
<p>Lebih lanjut, Bowo memberitahukan bagaimana cara membedakan antara yang organik dan yang bukan. Salah satunya, jika organik tidak ada keterangan expired, alias kadaluwarsa. Artinya, ia bisa digunakan kapan saja, tak terbatasi waktu.</p>
<p>Bukan hanya itu, diminum seklipun tak akan jadi masalah. “Diminum saja tidak apa-apa. Pinggang yang sakit-sakit, pegel, hilang. Ini kita panaskan suhu di atas 200 derajad selsius,” ungkapnya. Untuk membuktikannya, Bowo pun menyampurkan cairan tersebut ke dalam gelas minumannya lalu menenggaknya. Bergidik aku melihatnya, bagaimana mungkin cairan untuk tanah dan tumbuhan diminum, batinku.</p>
<p>Namun cairan ini ada pantangannya, jangan sampai terkena langsung sinar matahari. Kenapa? Kata Bowo, akan melemah. Karenanya, ia tak boleh digunakan (disemprotkan) pada siang hari. “Makanya yang protein di pagi hari sampai maksimal jam 9 pagi. Kalau sore di atas jam 4 sore,” terangnya.</p>
<p><strong>Perjalanan Cairan Penyubur Tanah</strong></p>
<p>Setelah teknologi ini ditemukan pada tahun 1997, berikutnya Bowo dan timnya melakukan riset aplikasi dari tahun 2008 hingga 2000. Riset ini untuk menguji apakah teknologi yang ditemukannya itu benar-benar berfungsi sebagaimana yang diinginkan.</p>
<p>“Petani itu kan butuh bukti, setelah dipakai, apa sih bedanya? Gimana hasilnya? Jadi konsep kita ketika bicara teknologi, mampu menjawab penurunan biaya produksi,” ungkapnya.</p>
<p>Riset aplikasi ini dilakukan di beberapa wilayah, seperti Indramayu-Jawa Barat, Jawa Tenggah, dan terus menggelinding ke daerah-daerah lain.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan respon petaninya? “Baik. Tapi yang namanaya petani itu sudah mendarah daging di hatinya itu pupuk kimia. Oh, biasanya <em>mung awur-awur Urea kok nyemprot</em>; biasaya setelah dikasih Urea <em>diwenehi </em>banyu, terus ditinggal, sudah. Kalau perlakuan budi daya organik ini kan tidak gitu, airnya secukupnya, air sawahnya tidak perlu digenangi,” paparnya.</p>
<p>Teknologi ini oleh Bowo dan timnya disepakati menjadi miliknnya petani, ada di tangan petani, bukan di tangan konglomerat. Kenapa harus di tangan petani? Sebab petani selama ini sebagai pelaksana produksi, mesin produksi, tapi sarana produksi tidak di tangan mereka, melainkan ada di tangan sekelompok orang.</p>
<p>“Bagaimana caranya dia ada di tangan petani? Ya di rumah-rumah petani. Apa sih rumah petani yang paling cocok? UMKM, Koperasi. Loh, kok koperasi? Salah satu proklamator kita Bung Hatta mengatakan bahwa menolong diri sendiri secara bersama-sama itulah corporate,” jelasnya.</p>
<p>Setelah sosialisasi, tahapan berikutnya adalah eksplor melalui Kordes-kordes, dengan cara membentuk koperasi-koperasi bagi petani. Namun cara ini tidaklah gampang. “Katanya gini, kalau saya pakai CPT ISO-nya Pak Bowo, wong yang beli gabah saya besok tengkulak kok. Apa bedanya saya pakai pupuk kimia?” katanya menceritakan protes petani.</p>
<p>Sadar cara eksplor kurang efektif, Bowo pun segera menambah strateginya dalam upaya mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia dan pestisida. Caranya, dengan membangun kemitraan.</p>
<p>Model kemitraannya menggunakan pola seperti intiplasma. Caranya gimana? “Petani selama ini kan budayanya ngutang ke tengkulak. Ngutang pestisida, pupuk kimia. Belum panen dijon. Lah, itu kan <em>nggak </em>tahu panennya naik atau turun. Rusaklah. Maka kita harus seakan-akan menjadi tengkulak, dengan pola kemitraan,” paparnya.</p>
<p>Dalam konsep kemitraan itu ada perjanjian yang diketahui oleh aparat setempat, mulai dari kepala desa, kepala pertanian, hingga kelompok taninya dengan pihak ISO. “Begitu panen, kita beli gabahnya, jadi beras. Itu salah satu konsep yang kita lakukan disamping eksplor. Eksplor itu petani beli, melalui rumah-rumah petani. Mereka kita beri hak sesuai dengan volumenitas yang mereka jual,” terangnya.</p>
<p>Cara kemitraan itulah yang saat ini dia lakukan di dua tempat, Subang dan Cianjur. Dalam melakukan kemitraan dengan petani, Bowo sesuaikan dengan market berasnya yang sekarang ini baru berkisar antara 25 sampai 50 hektar. “Misalnya 25 hektar saja, dalam perjanjian kemitraan itu kita sebutkan kita membeli separuh dari hasilnya petani, minimal. Kalau dia panen 8 ton, maka kita beli minimal 4 ton,” tukasnya.</p>
<p>Dan, pada waktu kemitraan itu, dibuat <em>supporting technology </em>dalam rangka agar petani paham dan benar dalam menggunakan teknologi tersebut. Untuk itu, dirinya punya tim di bawah (Kordes-kordes) yang bertugas untuk melakukan pendampingan.</p>
<p><strong>Lebih Irit</strong></p>
<p>Bukan rahasia lagi di kalangan petani, mengadu untung di lahan sawah ternyata tak sedikit biayanya. Setiap tahapan, mulai penggemburan tanah, pembibitan hingga panen selalu ada saja kocek yang dikeluarkan. Tak pelak, hutang sana-sini pun terpaksa dilakukan. Tapi dengan hadirnya teknologi cairan penyubur tanah dan tanaman ini, petani jauh bisa menekan biaya pertanian, alias ngirit.</p>
<p>“Sementara cairan ini sendiri kita jual untuk petani sangat murah, sehingga panennya meningkat akibat perbaikan tanah, biayanya murah. Satu hektar itu penggunaan cairan ini hanya cukup Rp 600 hingga Rp 900 ribu per hektar lahan sawah. Sementara untuk pupuk kimia petani di Kerawang  minimal membutuhkan dua juta rupiah,” kata Amung Setiowibowo. Harga sekian masih bertahan hingga akhir tahun 2009 ini.</p>
<p>Sudah murah, hasil panen pun bisa melimpah. “Track record yang pernah kita capai di Cianjur itu satu hektar 13,9 ton,” tuturnya. Badingkan saja dengan panen nasional yang hanya mencanangkan 3,7 ton atau maksimal 4 ton.</p>
<p>Muski murah, namun bukan berarti petani lekas percaya. “Mereka bilang, yang mahal saja <em>enggak </em>mampu, lah milih yang murah masak bisa. <em>Enggak </em>percaya,” tutur Bowo menceritakan penyangsian petani.</p>
<p>Menghadapi demikian, dia tak patah arang. Dirubahlah strateginya dengan cara menyewa lahan sawah 1-2 hektar untuk dia tanami sendiri. Tujuannya, memberikan contoh ke para petani, dari mulai perendaman benih sampai penyemprotan. “Karena para petani perlu bukti. Petani tidak bisa cuma dijanjikan,” tegasnya.</p>
<p>Dengan cara itu pula, Bowo bisa lebih akrab dan dekat dengan petani setempat, sering kumpul dan ngobrol dengan mereka.</p>
<p>Petani yang tertarik pun mau membeli. Tapi kamudian lahirlah persoalan kedua: di mana belinya? Sebab cairan penyubur tanah itu tak ada di toko-toko. Dari situlah Bowo kemudian mengajak mereka bermitra. Dan, jika terjadi kemitraan, cairan tersebut nantinya ada di tangan coordinator-koordinator kelompok tani.</p>
<p><strong>Memperbaiki Kerusakan Tanah</strong></p>
<p>Cairan penyubur tanah dan tanaman yang berada di bawah merek ISO (Inti Sari Organik) ini bukanlah pupuk, tapi Bowo menyebutnya teknologi alternatif. Tugasnya adalah memperbaiki tanah-tanah pertanian yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida (pembunuh hama) yang sudah berlangsung sejak lama. “Jadi kita sebenarnya lawannya pupuk,” tegasnya.</p>
<p>“Kalau terjadi recovery tanah, maka akan terjadi peningkatan hasil panen. Kalau terjadi peningkatan hasil panen, maka otomatis berakibat terhadap pendapatan petani,” tambahnya.</p>
<p>Namun tentu tak mudah bagi petani untuk mengubah pola bertaninya dan beralih selera dari anorganik ke organik. Sebab, pupuk kimia dan pestisida sudah mendarahdaging di hati para petani. Wajar saja, sebab selama 29 tahun mereka dibiasakan untuk menggunakan itu, dari tahun 1970 sampai 2009 ini. Dengan begitu, pupuk kimia dan pestisida mungkin sudah jadi semacam “candu” bagi petani di nusantara ini.</p>
<p>“Di bawah tahun 1970, petani kita tidak mengenal yang namanya pupuk kimia, tidak mengenal pestisida untuk membunuh hama. Artinya, perlakuan terhadap tanah-tanah kita di bawah tahun 1970 masih alami,” ujar ayah Anissa, Dwimas R. Putra, dan Chairul N. Asmara ini.</p>
<p>Penggunaan pupuk kimia dan pestisida memang baru dikenal tahun 1970-an melalui program Bimas/Inmas, era Soeharto. “Itu yang namanya pupuk kimia, Pak Harto dengan kekuatan birokrasinya berupaya bagaimana petani menggunakan pupuk ini,” tandasnya.</p>
<p>Tujuannya waktu itu, tambahnya, memang bagus, bagaimana terjadi peningkatan hasil panen petani. Namun, efek dari semua itu lupa diperhitungkan. Dan, dampak yang diakibatkan setelah sekian puluh tahun penggunaan pupuk kimia dan pestisida itu baru dirasakan 10 tahun belakangan ini.</p>
<p>Bowo memberikan penjelasan panjang lebar mengenai dampak penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Untuk pupuk kimia, dia menyebut 3 contoh merek. “Kimia yang pertama kali dan sampai sekarang dicintai petani itu pupuk Urea,” tegasnya. Sementara bahan baku pupuk Urea adalah gas alam cair. Tidak mungkin diberikan kepada petani dalam bentuk cairan, sehingga dia harus diekstrak, harus dikristalkan. Salah satu zat pengikat agar dia menjadi kristal antara lain CACO3 (kalsium karbonat). Pada waktu dia sudah mengkristal dan masuk karung oleh petani dilempar ke sawah. Gas alam cair yang sudah berbentuk kristal tadi, atau istilah kimia N (nitrogen), itu dihisap tanaman. Tapi ada residu yang tertinggal, CACO3 balik mengikat tanah. Akibatnya, pori-pori tanah mulai mengeras, lalu menyempit. Micro organism, bakteri yang menguntungkan tanah tidak mampu bergerak secara leluasa karena kena pengikat tadi.</p>
<p>Selain Urea, petani juga menggunakan TSP, atau yang biasa disenut SP36, super pospat. “Kenapa disebut 36? Berarti ada yang 64 dong,” tanyanya membongkar. Yang 36 persen itu adalah pospat (P2O5). Fungsinya sama seperti Urea, untuk masa awal pertumbuhan tanaman. “Lah yang 64 persen apa? Batu cadas. Pergilah ke Padalarang, ke Tasik sana. Yang berwarna kehijau-hijauan itu P. Tapi tidak mungkin dipisah hanya P saja. Malah produk-produk palsu itu <em>enggak </em>sampai 36 persen. Kalau <em>enggak </em>percaya, ambil botol Aqua, isi air 3 perempatnya, sepertiganya masukkan SP36, kocok. Lah, itu kan tercampur, mengendap kan, airnya akan berubah berwarna kehijau-hijauan. Itulah P yang dibutuhkan tanaman. Terjadi pengendapan, itulah batu cadas. Diemin seminggu, potong itu botol Aqua, pasti keras kayak batu. 29 tahun dibuang ke tanahnya petani. Nah, pori-pori tanah yang tadi menyempit, bakteri yang menguntungkan pada tanah juga terhambat, diberi lagi batu cadas, pingsan kan,” urainya.</p>
<p>Terakhir, petani biasanya menggunakan KCL, bahan dasarnya dari tembaga. “Nenek moyang kita zaman dulu kalau masak nasi dandangnya tembaga, giginya <em>enggak </em>ada yang keropos. Nah, K (kalsium) bahan dasarnnya CU, dibutuhkan tanaman agar batangnya kuat, mampu berdiri kokoh, mampu menahan buah. Nah, apa sih yang menjadi residu? Florin. Florin itu disinfectan. Perusahaan air minum pakai disinfectan untuk membunuh bakteri air agar airnya steril. Nah, bakterinya yang pingsan tadi mati, dibunuh KCL. Akibat mati, yang hidup-hidup mati, maka tanahnya bau amis. Nah, itu rusak tanahnya. Kalau bau amis, maka tikus senang dengan yang amis-amis, maka sawahnya petani kena hama tikus,” paparnya.</p>
<p>Sementara untuk pestisida, Bowo mengingatkan pada kita bahwa sebenarnya alam ini sudah membentuk predator alami. Contohnya, kunang-kunang. Setelah diteliti, kunang-kunang ternyata hewan pemakan telur serangga yang menempel di daun-daun padi dibantu dengan capung. Namun serangga-serangga itu tak termakan semua, masih ada dalam ambang batas. Tapi karena masih ada kodok, serangganya dimakan kodok. Di tanah, masih banyak cacing dan belut. Ternyata, kedua hewan ini juga ikut menggemburkan tanah. Di badannya cacing dan belut mengandung unsur pupuk, ada haranya juga.</p>
<p>“Tadi kodok makan serangga, serangga telurnya dimakan kunang-kunang dan capung. Karena banyak kodok, banyak ular sawah. Ular sawah makan kodok. Karena banyak ular sawah, tikusnya <em>enggak </em>datang, takut sama ular. Sekarang mati semua mas, dibunuh pestisida. Akibatnya apa kalau tidak terjadi predator alami? Maka datang serangan <em>enggak </em>ada penangkalnya. Ditambah lagi, akhirnya apa? <em>Enggak </em>ada hama pun disemprot. Ini kan menyedihkan. Tanah kita rusak, petani yang mupuk dan nyemprot tadi sakit. Setelah panen N produknya, berasnya pun beracun. Muncullah cancer yang dulu <em>enggak </em>ada,” terangnya prihatin.</p>
<p><strong>Potensi Pasar Mancanegara</strong></p>
<p>Memang pasar beras organik milik Bowo saat ini masih di segmen lokal. Tapi, tak menutup kemungkinan ke depannya akan menembus pasar mancanegara. Sebab potensi ekspor begitu besar.</p>
<p>“Organik itu baru terserap pasar mancanegara 3-5 persen. Artinya, 95 persen menunggu. Ini satu peluang yang luar biasa,” ujar ayah Anissa, Dwimas R. Putra, dan Chairul N. Asmara ini.</p>
<p>Pintu ekspor bagi usahanya ini sebenarnya sudah terbuka sejak tahun 2000 lalu. Waktu itu, seorang pengusaha dari Taiwan melihat cairan tersebut. Dia pun minta 4 botol dan dibawa ke negaranya sana untuk diuji di laboratorium. Tidak sampai tiga hari, dia balik lagi ke Indonesia untuk berjumpa dengan sang penemunya. Intinya, dia tertarik dengan teknologi ini dan ingin membelinya, dalam sebulannya 2 container. Jika dinilai dengan rupiah, sebesar 2,4 milyar. Namun Bowo akhirnya mengurungkannya, sebab sang penasihat pribadinya tak membolehkan.</p>
<p>Dan tak lama ini, Bowo mengaku mendapatkan Letter of Intens (LOI) dari Bulgaria. “Mereka minta saya mensuplay per satu kali kiriman 12.500 ton. Katakanlah satu kali masa tanam. Apa yang saya hitung? Saya masih nanam 5000 hektar. Untuk terjadi kontinyuitas, paling tidak saya harus nanam 10.000 hektar,” ungkapnya.</p>
<p>Karena volume produksinya tak mencukupi, Bowo pun akhirnya meminta LOI itu direvisi. “Saya bilang produksi kami baru 25 persen dari yang Anda minta. Mudah-mudahan tahun depan kami bisa jawab,” jawabnya saat itu ke pihak Bulgaria.</p>
<p><strong>Kembali Ke Alam</strong></p>
<p>Apa yang dilakukan oleh Bowo dan timnya adalah upaya memperbaiki kerusakan tanah pertanian dengan menggunakan alat cairan penyubur tanah. Sekuat tenaga ia berusaha mengajak para petani untuk kembali ke pertanian organik, bertani kembali ke alam.</p>
<p>Sayangnya, sekarang ini orang tahunya organik itu pupuk kompos. Berapa kebutuhan sehektar dalam rangka merecovery tanah? Menurut penelitian IPB, UGM, untuk merecovery tanah kita yang sudah dirusak sekian tahun ini butuh kompos 20 ton per hektar. Masa pemulihannya pun cukup lama, lima sampai 7 tahun.</p>
<p>Jika mengikuti ketentuan ini, petani akan terkendala dengan apakah sekian banyak kompos yang dibutuhkan itu tersedia dan mudah diakses? Selain itu, tentu ongkosnya mahal. Untuk sepuluh ton saja sudah menghabiskan 7,5 juta per hektar, dari mulai mengumpulkan bahan bakunya, covectory, transportasi, pengolahan, packadge dan seterusnya. “Artinya kompos ini tidak bisa menjawab dalam rangka merecovery lahan nasional dalam waktu singkat karena volumenitasnya tinggi,” katanya<em>.</em></p>
<p>Karena <em>high cost</em>, petani pun biasanya compare dengan harga pupuk kimia. “Kalau saya beli urea kan cuma sekian. Akhirnya deal, dealnya 2 ton. Programnya pemerintah saat ini Go Organic 2010 itu 1 hektar 2 ton. Apa akibatnya? Wong pakar tadi bilang butuhnya 20 ton. Lah, kalau nol-nya hilang satu, bagaimana hasil panen akan meningkat menggunakan kompos. Akhirnya panennya drop,” ceritanya.</p>
<p>Tak hanya soal kembali ke alam, namun hadirnya teknologi ini juga diharapkan mampu merangsang anak-anak muda saat ini untuk kembali bertani. “Mudah-mudahan dengan teknologi ini mau bertani lagi. Kenapa? Biaya murah, hasil meningkat, penyuburan tanah terjadi, N produksinya sehat, rakyatnya sehat,” harapnya.[]</p>
<p style="text-align:right;"><em>Tulisan ini pernah dimuat di majalah IFashion edisi 007 Januari-Februari 2010</em></p>
<p><em> </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pinggirmalam.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pinggirmalam.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pinggirmalam.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pinggirmalam.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pinggirmalam.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pinggirmalam.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pinggirmalam.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pinggirmalam.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pinggirmalam.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pinggirmalam.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pinggirmalam.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pinggirmalam.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pinggirmalam.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pinggirmalam.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=154&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pinggirmalam.wordpress.com/2010/03/03/cairan-penyubur-tanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c3b7a5434b0f445f669b2c8376dfffb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kodim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengencangkan Tali Multikultural Melalui Gerakan Persma</title>
		<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/05/28/mengencangkan-tali-multikultural-melalui-gerakan-persma/</link>
		<comments>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/05/28/mengencangkan-tali-multikultural-melalui-gerakan-persma/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 15:33:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kodim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bau-bau]]></category>
		<category><![CDATA[etnis]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan politik]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[keragaman]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat multikultur]]></category>
		<category><![CDATA[minoritas]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Kodim]]></category>
		<category><![CDATA[multikultural]]></category>
		<category><![CDATA[multikulturalisme]]></category>
		<category><![CDATA[nation-state]]></category>
		<category><![CDATA[otonomi daerah]]></category>
		<category><![CDATA[pemekaran wilayah]]></category>
		<category><![CDATA[Pers Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Persma]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[PPMI]]></category>
		<category><![CDATA[Sulawesi Tenggara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Awalan Tulisan ini mencoba untuk mempertemukan dua ranah gerakan yang berbeda: gerakan multikultural dan gerakan Persma. Keduanya selama ini dibayangkan saling berjarak dan seolah mustahil untuk disandingkan. Sebab, ranah yang pertama dilihat sebagai suatu gerakan yang hanya berkutat pada wilayah kebudayaan belaka, sementara yang satunya dipahami lebih sempit lagi, hanya berurusan dengan persoalan tulis-menulis, itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=149&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Awalan<br />
</strong>Tulisan ini mencoba untuk mempertemukan dua ranah gerakan yang berbeda: gerakan multikultural dan gerakan Persma. Keduanya selama ini dibayangkan saling berjarak dan seolah mustahil untuk disandingkan. Sebab, ranah yang pertama dilihat sebagai suatu gerakan yang hanya berkutat pada wilayah kebudayaan belaka, sementara yang satunya dipahami lebih sempit lagi, hanya berurusan dengan persoalan tulis-menulis, itu pun harus dilokalisir di ruang kampus. Namun sejatinya pemahaman seperti demikian terlalu dangkal dan reduktif.</p>
<p>Multikulturalisme adalah sebuah gerakan politik kebudayaan yang sedemikian luas. Ia lintas sektoral, lintas kebudayaan, bahkan lintas teretorial dan ideologi nation-state. Multikulturalisme berupaya mendobrak sekat-sekat eksklusivitas penanda kultural, etnis, ras, bahasa, agama, dan bangsa. Dengan begitu, multikulturalisme sebenarnya ingin mengajarkan dan mendorong adanya suatu interaksi dinamis antar penanda-penanda tersebut yang selama ini dipahami terlalu kaku yang akhirnya menjadikan mereka saling tidak tahu dan tidak kenal satu sama lainnya. Bahkan, lebih menggelisahkan lagi, ketika perbedaan identitas itu dilambari dengan sikap ego dan saling mencurigai antarsesamanya. Dan, ini bukanlah sesuatu yang asing di Indonesia. Berbagai gejolak dan konflik yang diakibatkan buruknya hubungan antarkelompok dalam masyarakat kita seolah menjadi problem keseharian bangsa yang kian hari kian menumpuk. Pada titik inilah, gerakan multikulturalisme menjadi sedemikian penting untuk membangun dan menyediakan ruang perjumpaan bagi beragam diversitas tersebut.<span id="more-149"></span></p>
<p>Sementara gerakan Pers Mahasiswa (Persma), jika mengacu pada definisinya, mengandung dua unsur: pers dan mahasiswa (lexical meaning).  Pers, berarti segala macam media komunikasi yang ada, meliputi buku, majalah, koran, buletin, radio ataupun telivisi serta kantor berita. Dan, Pers itu sendiri identik dengan news (berita). Maka, tidak salah jika kita mengatakan bahwa NEWS berkaitan dengan North, East, West dan South, yang artinya suatu kabar atau berita dan informasi yang datangnya dari empat arah penjuru mata angin (berbagai tempat).</p>
<p>Pada unsur kedua, mahasiswa adalah suatu kelompok elit marjinal dalam lingkungan suatu dilema. Seperti yang dikatakan oleh Frank. A . Pinner dalam salah satu ungkapannya, yaitu “marginal elites, of which students are one species, are cought in a dilemma, between elitist and populist attitude. They are impelled to protect their distinctiveness and privilege while at the sime time documenting their concern for the common man and he community or policy as a whole their own position or the integrity of society appears to be threated”.</p>
<p>Sosok Mahasiswa juga kental dengan nuansa kedinamisan dan sikap keilmuannya yang dalam melihat sesuatu berdasarkan kenyataan obyektif, sistematis dan rasional. Disamping itu, Mahasiswa merupakan suatu kelompok masyarakat pemuda yang mengenyam pendidikan tinggi, tata nilai kepemudaan dan disiplin ilmu yang jelas sehingga hal ini menyebabkan keberanian dalam merefleksikan kenyataan hidup di masyarakat. Dan tata nilai itulah yang juga menyebabkan mereka menjadi radikal, kritis, dan emosional yang kemudian secara perlahan menuju suatu peradaban/ kultur baru yang signifikan dengan hal-hal yang bernuansa aktif, dinamis dan senang pada perubahan. Dengan kata lain, pere mahasiswa memiliki peranan yang cukup strategis dalam menentukan sebuah proses perubahan, baik sosial, politik, kebudayaan dan seterusnya. Tinggal bagaimana kemudian kelompok yang satu ini mampu melihat realitas secara peka dan tajam, lalu kemudian merefleksikannya secara kritis.</p>
<p>Pada konteks inilah, pertautan antara gerakan multikulturalisme dan gerakan Persma dimungkinkan. Semangat tinggi dan emosi kuat akan sebuah berubahan dalam diri mahasiswa adalah modal penting untuk menghadapi realitas bangsa yang carut-marut ini akibat ketegangan hubungan antarkelompok masyarakat dari berbagai latar identitas. Di tengah bekunya dialog antarkebudayaan, antaretnis, antaragama, gerakan Persma dituntut secara moral-politik untuk turut serta terlibat dalam setiap usaha penyelesaian berbagai problem kebangsaan ini, baik melalui medianya maupun gerakan yang lainnya.</p>
<p>Namun, membuat suatu informasi (berita) yang kritis bukanlah sesuatu yang mudah. Terkadang, pemberitaan yang dilakukan oleh Persma justru &#8211;disadari atau tidak&#8211; menyokong narasi dominan yang tengah berkembang di tengah masyarakat dan jatuh pada logika serta kepentingan kelompok mainstream. Untuk itu, perlu adanya lambaran perspektif kritis dalam melihat setiap persoalan tersebut yang di dalamnya melibatkan tarik-ulur berbagai kepentingan, agar tidak mudah larut dan terombang-ambing di dalamnya.<br />
Dari sinilah, perspektif multikulturalisme yang melihat diversitas tersebut dengan kritis dan kemudian menyajikannya dengan penuh empati bisa menjadi salah satu pilihan pisau analisa dalam mengembangkan dan menajamkan kelompok Persma dalam setiap mengurai problematika yang ada, utamanya yang berkaitan dengan kebudayaan.</p>
<p><strong>Memahami Multikulturalisme?</strong><br />
Multikulturalisme adalah sebuah filosofi —terkadang ditafsirkan sebagai ideologi— yang menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial politik yang sama dalam masyarakat modern. Istilah multikultural juga sering digunakan untuk menggambarkan kesatuan berbagai etnis masyarakat yang berbeda dalam suatu negara.</p>
<p>Multikulturalisme bertentangan dengan monokulturalisme dan asimilasi yang telah menjadi norma dalam paradigma negara-bangsa (nation-state) sejak awal abad ke-19. Monokulturalisme menghendaki adanya kesatuan budaya secara normatif (istilah &#8216;monokultural&#8217; juga dapat digunakan untuk menggambarkan homogenitas yang belum terwujud (pre-existing homogeneity). Sementara itu, asimilasi adalah timbulnya keinginan untuk bersatu antara dua atau lebih kebudayaan yang berbeda dengan cara mengurangi perbedaan-perbedaan sehingga tercipta sebuah kebudayaan baru.</p>
<p>Sebagai sebuah ideologi, multikulturalisme menekankan pengakuan dan penghargaan pada kesederajatan perbedaan kebudayaan. Tercakup dalam pengertian kebudayaan adalah para pendukung kebudayaan, baik secara individual maupun secara kelompok, dan terutama ditujukan terhadap golongan sosial askriptif yaitu sukubangsa (dan ras), gender, dan umur. Ideologi multikulturalisme ini secara bergandengan tangan saling mendukung dengan proses-proses demokratisasi, yang pada dasarnya adalah kesederajatan pelaku secara individual (HAM) dalam berhadapan dengan kekuasaan dan komuniti atau masyarakat setempat.</p>
<p>Dalam ideologi ini, kelompok-kelompok budaya tersebut berada dalam kesetaraan derajat, demokratis dan toleransi sejati. Dengan sendirinya, di dalam masyarakat majemuk belum tentu dapat dinyatakan masyarakat multikultural, karena di dalamnya terdapat hubungan antarkekuatan masyarakat varian budaya yang tidak simetris yang selalu hadir dalam bentuk dominasi, hegemoni dan kontestasi.</p>
<p>Konsep masyarakat multikultural sebenarnya relatif baru. Multikulturalisme mulai dijadikan kebijakan resmi di negara berbahasa-Inggris (English-speaking countries), yang dimulai di Kanada pada tahun 1970. Kebijakan ini kemudian diadopsi oleh sebagian besar anggota Uni Eropa, sebagai kebijakan resmi, dan sebagai konsensus sosial di antara elit. Namun beberapa tahun belakangan, sejumlah negara Eropa, terutama Belanda dan Denmark, mulai mengubah kebijakan mereka ke arah kebijakan monokulturalisme. Pengubahan kebijakan tersebut juga mulai menjadi subyek debat di Britania Raya dam Jerman, dan beberapa negara lainnya.<br />
Kanada pada waktu itu didera konflik yang disebabkan masalah hubungan antarwarga negara. Masalah itu meliputi hubungan antarsuku bangsa, agama, ras, dan aliran politik yang terjebak pada dominasi. Konflik itu diselesaikan dengan digagasnya konsep masyarakat multikultural yang esensinya adalah kesetaraan, menghargai hak budaya komunitas dan demokrasi. Gagasan itu relatif efektif dan segera menyebar ke Australia, Eropa dan menjadi produk global.</p>
<p>Sementara itu, kalau kita melihat apa yang terjadi di Amerika Serikat dan di negara-negara Eropa Barat maka sampai dengan Perang Dunia ke-2 masyarakat-masyarakat tersebut hanya mengenal adanya satu kebudayaan, yaitu kebudayaan Kulit Putih yang Kristen.  Golongan-golongan lainnya yang ada dalam masyarakat-masyarakat tersebut digolongkan sebagai minoritas dengan segala hak-hak mereka yang dibatasi atau dikebiri.  Di Amerika Serikat, berbagai gejolak untuk persamaan hak bagi golongan minoritas dan kulit hitam serta kulit berwarna mulai muncul di akhir tahun 1950-an.  Puncaknya adalah pada tahun 1960-an dengan dilarangnya perlakuan diskriminasi oleh orang Kulit Putih terhadap orang Kulit Hitam dan Berwarna di tempat-tempat umum, perjuangan Hak-Hak Sipil, dan dilanjutkannya perjuangan Hak-Hak Sipil ini secara lebih efektif melalui berbagai kegiatan affirmative action yang membantu mereka yang tergolong sebagai yang terpuruk dan minoritas untuk dapat mengejar ketinggalan mereka dari golongan Kulit Putih yang dominan di berbagai posisi dan jabatan dalam berbagai bidang pekerjaan dan usaha (lihat Suparlan 1999).</p>
<p>Di tahun 1970-an, upaya-upaya untuk mencapai kesederajatan dalam perbedaan mengalami berbagai hambatan, karena corak kebudayaan Kulit Putih yang Protestan dan dominan itu  berbeda dari corak kebudayaan orang Kulit Hitam, orang Indian atau Pribumi Amerika, dan dari berbagai kebudayaan bangsa dan sukubangsa yang tergolong minoritas sebagaimana yang dikemukakan oleh Nieto (1992) dan tulisan-tulisan yang di-edit oleh Reed (1997).  Yang dilakukan oleh para cendekiawan dan pejabat pemerintah yang pro demokrasi dan HAM, dan yang anti rasisme dan diskriminasi adalah dengan cara  menyebarluaskan konsep multikulturalisme dalam bentuk pengajaran dan pendidikan di sekolah-sekolah di tahun 1970an.  Bahkan anak-anak Cina, Meksiko, dan berbagai golongan sukubangsa lainnya dewasa ini dapat belajar dengan menggunakan bahasa ibunya di sekolah sampai dengan tahap-tahap tertentu (Nieto 1992).  Jadi kalau Glazer (1997) mengatakan bahwa &#8216;we are all multiculturalists now&#8217; dia menyatakan apa yang sebenarnya terjadi pada masa sekarang ini di Amerika Serikat, dan gejala tersebut adalah produk dari serangkaian proses-proses pendidikan multikulturalisme yang dilakukan sejak tahun 1970-an.</p>
<p>Dari sini kita bisa melihat bahwa multikulturalisme bukanlah konsepsi yang terpisah dari konsep lainnya, namun saling mendukung. Berbagai konsep yang relevan dengan multikulturalisme antara lain adalah, demokrasi, keadilan dan hukum, nilai-nilai budaya dan etos, kebersamaan dalam perbedaan yang sederajat, sukubangsa, kesukubangsaan, kebudayaan sukubangsa, keyakinan keagamaan, ungkapan-ungkapan budaya, domain privat dan publik, HAM, hak budaya komuniti, dan konsep-konsep lainnya yang relevan (Fay 1996, Rex 1985, Suparlan 2002).</p>
<p><strong>Merancang Masyarakat Indonesia yang Multikultural</strong><br />
Multikulturalisme yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesedarajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan sebenarnya telah digunakan sebagai acuan oleh para pendiri bangsa Indonesia (founding fathers) dalam mendesain apa yang dinamakan sebagai kebudayaan bangsa, sebagaimana yang terungkap dalam penjelasan Pasal 32 UUD 1945, yang berbunyi: &#8220;kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak-puncak kebudayaan di daerah&#8221;.  Dari sini tampak jelas bahwa Indonesia itu terbentuk dari kebudayaan-kebudayaan masyarakat kecil, dan dengan itu pula pengakuan terhadap yang kecil-kecil tersebut adalah kunci dari konsep multikultural ini.</p>
<p>Namun, rumusan konsep multikulturalisme yang sudah dibangun oleh founding fathers kita dibabat habis oleh rezim Orde Baru yang tampaknya tidak menghendaki adanya kesederajajatan terhadap yang kecil-kecil tersebut. Atas nama stabilitas dan kontrol, rezim Orba kemudian menggerus dan meleburkan ragam partikularistik itu menjadi sesuatu yang tunggal. Yang terjadi kemudian monokultural dengan cara asimilasi kebudayaan. Yang terjadi kemudian, Jawa direpresentasi sebagai kebudayaan adiluhung (dominan) sementara yang lainnya dipaksa untuk mengikuti Jawa. Standardisasi ini kemudian merambah ke segala aspek kehidupan mulai dari ekonomi, sosial, politik, hingga pembangunan.</p>
<p>Penyeragaman dan kontrol yang berlebihan ini tentu saja melahirkan berbagai protes keras dari daerah-daerah yang selama ini dianaktirikan dalam segala hal. Akumulasi kekecewaan itu kemudian meledak pada 1998 yang kemudian menandai lahirnya era baru: era reformasi.</p>
<p>Bagi Masyarakat Indonesia yang telah melewati reformasi, masyarakat multikultural bukan hanya sebuah wacana atau yang dibayangkan. Tetapi sebuah ideologi yang harus diperjuangkan karena dibutuhkan sebagai landasan bagi tegaknya demokrasi, HAM dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, konsep multikultural ini tidak henti-hentinya untuk selalu dikomunikasikan di antara ahli sehingga ditemukan kesamaan pemahaman dan saling mendukung dalam memperjuangkan ideologi ini.</p>
<p>Inti dari cita-cita reformasi adalah sebuah masyarakat sipil demokratis, adanya dan ditegakkannya hukum untuk supremasi keadilan, pemerintahan yang bersih dari KKN, terwujudnya keteraturan sosial dan rasa aman dalam masyarakat yang menjamin kelancaran produktivitas warga masyarakat, dan kehidupan ekonomi yang mensejahterakan rakyat Indonesia.  Bangunan Indonesia Baru dari hasil reformasi atau perombakan tatanan kehidupan Orde Baru adalah sebuah &#8220;masyarakat multikultural Indonesia&#8221; dari puing-puing tatanan kehidupan Orde Baru yang bercorak &#8220;masyarakat majemuk&#8221; (plural society).  Sehingga, corak masyarakat Indonesia yang bhinneka tunggal ika bukan lagi keanekaragaman sukubangsa dan kebudayaannya tetapi keanekaragaman kebudayaan yang ada dalam masyarakat Indonesia.</p>
<p>Tapi sayangnya, harapan besar dan cita-cita reformasi sekarang, tampaknya mengalami kemacetan, dan menemukan kenyataan yang menjemukan. Kehidupan politik dari hari ke hari semakin tanpa arah. Persaingan antarelit berlangsung tanpa kontribusi bagi pelembagaan demokrasi. Kita prihatin terhadap arah kehidupan demokrasi yang mulai mandek itu. Kita prihatin atas langkah-langkah pemulihan ekonomi yang tak menentu. Kita prihatin terhadap aktivitas nepotisme dan korupsi yang kembali merajalela.</p>
<p>Era reformasi yang meruntuhkan tatanan sentralistik yang kemudian digantikan oleh desentralistik dalam praktiknya juga masih menyisakan segudang permasalahan. Di tengah semangat otonomi daerah yang kemudian dibarengi dengan pemekaran wilayah tampaknya hanya dipahami sebatas peralihan kekuasaan dari pusat ke daerah. Cara pemahaman seperti ini bukan malah menuju pada cita-cita desentralisasi yang ingin memeratakan kesejahteraan masyarakatnya, melainkan justru mengarah pada perebutan kekuaan di tingkat elit politik lokal. Lihat saja bagaimana setiap momentum Pilkada masih demikian kentalnya dengan urusan perebutan kursi dan sekitarnya. Sementara tema-tema keadilan, penegakan hukum, kesejahteraan, dan pendidikan hanya sebatas sebagai jargon kosong makna yang dijadikan sebagai komodifikasi politik para kontestan.</p>
<p>Jika demikian adanya, maka desentarlisasi tidak lebih dari sekadar pembagian jatah kekuasaan. Yang lahir darinya kemudian adalah para raja-raja kecil tingkat lokal.</p>
<p>Tidak hanya itu. Era reformasi juga belum menjadi ruang kondusif bagi harmonisasi kehidupan kelompok-kelompok masyarakat, utamanya kelompok agama dan keyakinan. Berbagai ketegangan yang tak jarang berujung pada konflik masih kerap terjadi. Kelompok agama tertentu yang merasa paling benar dengan mudah menghakimi kelompok agama lain yang dianggap sesat. Bahkan, mereka tak segan-segan menghancurkan tempat ibadah dan fasilitas lainnya dari kelompok agama minoritas. Mungkin masih segar dalam ingatan kita bagaimana aliran Ahmadiyah dihakimi oleh massa yang mengatasnamakan agama tertentu di sejumlah daerah; gereja-gereja ditutup dengan alasan tidak memiliki izin; alriran-aliran kecil dikejar-kejar karena dianggap menyimpang; tokoh aliran tertentu diperadilkan karena buku karyanya dianggap bertentangan dengan Islam; aliran kepercayaan (agama lokal) yang sudah hidup dan berkembang lama di bumi ini diserang; dan sederet kasus lainnya.</p>
<p>Semua ini menandakan betapa buruknya hubungan antaragama/ kepercayaan di Indonesia. Padahal, negara ini sudah merativikasi International Convention on Civil and Political Right (ICCPR) melalui UU No. 12 tahun 2005. Dengan meratifikasi kovenan tersebut, harusnya negara melindungi sepenuhnya hak kebebasan mereka, kelompok-kelompok minoritas.</p>
<p>Kasus yang lain juga menimpa kelompok minoritas etnik Tionghoa miskin dan agama Khonghucu di Surabaya. Mereka terpaksa tidak memiliki status kewarganegaraan (stateless) karena dipersulit oleh pemerintah, padahal undang-undang sudah menjaminnya. Belum lagi berbagai kasus komunitas adat yang tidak diberikan hak ulayatnya.</p>
<p>Kesuluran dari kasus-kasus di atas memperlihatkan bahwa masih betapa buruknya wajah kebangsaan kita. Demokrasi belum sepenuhnya berjalan, karena urat dasar hubungan antarkelompok ini tidak terbangun secara baik.</p>
<p>Semua kemacetan di atas, kata Parsudi Suparlan, sebaiknya digulirkan kembali. Alat pengguliran bagi proses reformasi sebaiknya menggeser ideologi masyarakat majemuk. Berisi potensi kekuatan primordial yang otoriter-militeristik menjadi ideologi masyarakat multikultural. Sudah saatnya, pasca reformasi ini, Masyarakat Indonesia mempunyai pedoman hidup mendasarkan bagi kebersamaan yang sederajat dan sebuah pedoman praktikal dalam menghadapi kehidupan nyata sehari-hari. Kita harus bersedia menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa mempedulikan perbedaan sukubangsa, agama, budaya, jender, bahasa, kebiasaan, ataupun kedaerahan.</p>
<p>Multikultural memberi penegasan, segala perbedaan mereka itu adalah sama di dalam ruang publik. Dengan kata lain, adanya komunitas yang berbeda saja tidak cukup, sebab yang terpenting komunitas itu diperlakukan sama oleh negara. Adanya kesetaraan dalam derajat kemanusiaan yang saling menghormati, diatur oleh hukum yang adil dan beradab yang mendorong kemajuan dan menjamin kesejahteraan hidup warganya.</p>
<p>Kesetaraan dalam derajat kemanusiaan hanya mungkin terwujud dalam praktik nyata dengan adanya pranata sosial, terutama pranata hukum yang merupakan mekanisme kontrol secara ketat dan adil mendukung dan mendorong terwujudnya prinsip demokrasi dalam kehidupan nyata. Demikian pula, prinsip masyarakat sipil demokratis yang dicita-citakan reformasi, hanya mungkin dapat berkembang dan hidup secara mantap dalam Masyarakat Indonesia, apabila warganya mempunyai toleransi terhadap perbedaan dalam bentuk apa pun.<br />
Diskriminasi sosial, politik, budaya, pendidikan dan ekonomi yang berlaku di masa pemerintahan Orba, secara bertahap maupun radikal harus dikikis oleh kemauan untuk menegakkan demokrasi demi kesejajaran dalam kesederajatan kemanusiaan sebagai Bangsa Indonesia.</p>
<p style="text-align:left;">Sebagai sebuah ide atau ideologi multikulturalisme terserap dalam berbagai interaksi yang ada dalam berbagai struktur kegiatan kehidupan manusia yang tercakup dalam kehidupan sosial, kehidupan ekonomi dan bisnis, dan kehidupan politik, dan berbagai kegiatan lainnya di dalam masyarakat yang bersangkutan  Kajian-kajian mengenai corak kegiatan, yaitu hubungan antar-manusia dalam berbagai manajemen pengelolaan sumber-sumber daya akan merupakan sumbangan yang penting dalam upaya mengembangkan dan memantapkan multikulturalisme dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi Indonesia.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:left;">Dalam upaya pemantapan multikulturalisme inilah, pers mahasiswa bisa masuk dan kemudian mengambil peran-peran yang strategis. Gerakan media dan gerakan sosial politik lainnya memiliki arti penting untuk mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yang multikultural.</p>
<p>Melalui media misalnya, kita diharapkan mampu menyajikan sebuah informasi dengan perspektif kritis terkait dengan berbagai gejolak dan konflik yang terjadi akibat buruknya huubungan kelompok-kelompok yang ada di masyarakat. Jika pers mahasiswa tidak memiliki sensivitas tinggi dan daya kritis, tidak mustahil kiranya segala pemberitaan yang dibuatnya akan bias, bahkan terkadang turut memperkeruh suasana dan menjerumuskan kelompok minoritas. Contah nyata misalnya pemberitaan yang dilakukan oleh media umum dalam kasus Ahmadiyah. mereka tidak mampu mengurai konflik ahmadiyah yang bersifat teologis itu secara kritis, melain larut dalam arus wacana dominan yang diciptakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sehingga term “sesat” yang diproduksi oleh MUI itu oleh kalangan jurnalis direproduksi pula dalam setiap pemberitaan mereka.<br />
Fakta ini tentu menyedihkan bagi perkembangan demokrasi dan HAM di Indonesia, terlebih bagi dunia pers. Sebab, pers yang seharusnya menjadi pilar demokrasi malah terjebak dalam medan politik penyesatan kelompok agama tertentu dan mendiskridirkan kelompok agama lainnya.</p>
<p>Belajar dari fakta ini, maka pers mahasiswa harus mampu mengambil posisi dan peranan yang lebih bermakna bagi demokrasi dan HAM, baik itu melalui aktivitas pemberitaannya maupun aktivitas lainnya. Untuk itulah, kebingungan pers mahasiswa yang tak kunjung usai karena merasa kehilangan common enemy seiring tumbangnya Suharto tidaklah sepenuhnya bisa dibenarkan. Justru yang harus dihadapi saat ini jauh lebih kompleks. Sebab Orde Baru tidak bisa semata-mata dipersonifikasi hanya Suharto, tapi ia adalah sistem yang sudah terajut sedemikian kuat dan langgengnya. Ia tak hanya terjadi di level pusat &#8211;kala itu&#8211;, tapi sekarang sudah menjalar dan meresap ke dalam sistem pemerintahan daerah berikut dengan segenap tatanan sosial, budaya, politik, dan ekonominya.</p>
<p>Karenanya, pers mahasiswa tidak semustinya terkecoh oleh simbol Orde Baru yang hanya disempitkan pada figur Suharto, yang akhirnya menjadikan mereka kebingungan dan seolah tidak ada yang dihadapi. Justru di tengah kuatnya ideologi neoliberalisme seperti saat ini, tantangan pers mahasiswa jauh semakin kompleks. Kalau demikian, apakah pers mahasiswa masih tetap duduk terdiam dalam kebingungannya ataukah bergegas bangun untuk menatap realitas bangsa yang sedemikian carut-marut ini lalu berusaha menyelesaikannya?</p>
<p style="text-align:right;">* Makalah ini disampaikan dalam acara Seminar Nasional “Peran Pers Mahasiswa Dalam Mengawal Dinamika Kerakyatan” di Baubau-Sulawesi Tenggara, 21 Desember 2008.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pinggirmalam.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pinggirmalam.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pinggirmalam.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pinggirmalam.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pinggirmalam.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pinggirmalam.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pinggirmalam.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pinggirmalam.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pinggirmalam.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pinggirmalam.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pinggirmalam.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pinggirmalam.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pinggirmalam.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pinggirmalam.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=149&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/05/28/mengencangkan-tali-multikultural-melalui-gerakan-persma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c3b7a5434b0f445f669b2c8376dfffb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kodim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diskriminasi Di Kota Multi-Religi</title>
		<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/03/20/diskriminasi-di-kota-multi-religi/</link>
		<comments>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/03/20/diskriminasi-di-kota-multi-religi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 17:03:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kodim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Surabaya tak hanya merupakan potret kota multietnik, tetapi juga memiliki warna keragaman agama yang cukup mencolok dibanding kota-kota lain di Jawa Timur dengan geliat kehidupan sosial-religi yang dinamis namun sekaligus rentan dengan lahirnya diskriminasi. Beragam varian agama berkembang di kota ini, mulai dari enam agama &#8220;resmi&#8221; –Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu– sampai agama-agama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=94&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Surabaya</strong> tak hanya merupakan potret kota multietnik, tetapi juga memiliki warna keragaman agama yang cukup mencolok dibanding kota-kota lain di Jawa Timur <span> </span>dengan geliat kehidupan sosial-religi yang dinamis namun sekaligus rentan dengan lahirnya diskriminasi. Beragam varian agama berkembang di kota ini, mulai dari enam agama &#8220;resmi&#8221; –Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu– sampai agama-agama yang diklaim &#8220;tidak resmi&#8221; oleh negara, termasuk kelompok penghayat kepercayaan dan agama Tao.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berdasarkan data tahun 2004, Kantor Wilayah Departemen Agama (Kanwil Depag) Jawa Timur, dari total penduduk Kota sebesar 2.711.624, sebesar 2.197.456 adalah pemeluk Islam (muslim). Sementara, populasi Katholik sebesar 166.523, Protestan 254.845, Hindu 47.213, dan 43.587 diantaranya merupakan penganut Budha. Sedangkan agama <span lang="IN">Konghucu, Penghayat Kepercayaan dan agama Tao sampai saat ini masih belum diketahui berapa jumlah pasti populasi mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sementara itu, tumbuh subur pula beberapa populasi etnik di Surabaya misalnya, etnik Jawa, Madura, Tionghoa, Arab dan India. Belum lagi, beragam etnik lainnya yang bermigrasi di kota ini dari berbagai bantaran tanah air &#8212;khususnya mereka yang berasal Lombok, Papua, Ambon dan seterusnya. Etnik Jawa tersebar dihampir seluruh kawasan Surabaya, sementara etnik Madura banyak terkonsentrasi di kawasan Surabaya Utara dan Timur. Meskipun tidak dinafikan, keberadaan etnik Madura juga begitu mudah dijumpai di kawasan Surabaya Pusat, Surabaya Barat dan Surabaya Selatan. Sebaliknya, etnik Tionghoa, Arab dan India banyak terkonsentrasi dikawasan pinggiran bekas kota lama Surabaya, seperti Ampel, Krembangan, Genteng, dan sekitar Jalan Karet (dekat Kembang Jepun).<span id="more-94"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebuah potret kota multi-religi dan multi-etnik. Dalam konteks ini, Surabaya patut menepuk dada sebagai masyarakat yang plural dan multikultural.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Perbedaan komposisi secara kuantitatif ini menjadi sesuatu yang lumrah sebagai bagian dari proses alami yang dijalani masing-masing agama dan etnik, terpulang kepada bagaimana dinamika yang mereka kembangkan dan waktulah yang menguji. Segalanya masih bersifat relatif dan fluktuatif: saat ini boleh saja memiliki penganut dalam jumlah yang begitu besar, namun belum tentu untuk masa mendatang. Begitu pun sebaliknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Namun, kebanggaan atas keragaman, utamanya di ranah agama, berubah menjadi petaka ketika negara membelah mereka ke dalam dua kutub: “agama resmi” dan “agama tidak resmi”. Atas klasifikasi tersebut, kemudian muncullah segregasi yang tak resmi tapi nyata: mayoritas dan minoritas. Segregasi ini tidak sekedar garis sekat yang mengkotak-kotakkan beragam agama tersebut namun sekaligus menurunkan berbagai tindak dan perlakuan diskriminatif terhadap yang minoritas, mulai dari perlakuan sosial, hukum, hingga politik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aroma diskriminasi di level pusat ini kian menyengat ketika pemerintah daerah Kota Surabaya tidak memiliki konsep “kampung halaman” yang kuat sehingga keragaman itu tidak terkelola dengan baik. Justru, belitan diskriminasi yang kerap menghantui kelompok-kelompok mintoritas, baik etnis maupun agama, secara sistemik dirajut oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">Persoalan minoritas etnik dan agama di Surabaya dapat dikategorisasi ke dalam tiga ranah. <em>Pertama</em>, kebijakan publik atau regulasi (<em>public policy</em>). <em>Kedua</em>, pelayan publik atau aparat pemerintah (<em>public servant</em>), dan <em>ketiga</em> adalah pelayanan publik (<em>public services</em>). Ketiga-tiganya menjadi variabel yang saling berhubungan dan mengokohkan satu sama lainnya.</p>
<p class="MsoNormal">Regulasi atau kebijakan yang diskriminatif di Surabaya inilah yang menjadi palang pintu bagi menjamurnya praktek diskriminasi kewarganegaraan dan akses pelayanan kependudukan terhadap kelompok minoritas. Penting dicatat bahwa, kewarganegaraan dan pelayanan terhadap minoritas merupakan bidang-bidang yang belum terdesentralisasikan. Karena itu, Pemkot Surabaya selalu saja mengacu pada kebijakan di tingkat pusat untuk menjadi pijakan aparaturnya dalam mengelola pelayanan minoritas etnis dan agama di Surabaya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dalam kaitannya dengan ini, kebijakan di tingkat lokal cukup memiliki warna yang diskriminatif. <em>Pertama</em>, kebijakan lokal yang mengatur tentang kependudukan minoritas etnis di Surabaya. Munculnya pembedaan dan pembatasan serta penyingkiran minoritas etnik dalam mendapatkan hak kewarganegaraanya karena belitan kebijakan pusat (Jakarta) yang hanya mengeluarkan kebijakan turunan dari UU No 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan <span class="yshortcuts">Republik Indonesia</span>.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Kedua</em>, kebijakan lokal yang mengatur tentang akses pelayanan bagi minoritas agama. Betul bahwa ada UU No 23 tetang Administrasi Kependudukan yang secara legal telah memberikan pengakuan terhadap minoritas Konghucu. Tetapi, Pemkot tidak menggunakan UU tersebut sebagai acuan pelayanan publik, melainkan menggunakan kebijakan turunan yang bersifat teknis operasional: Juklak dan Juknis Walikota yang berupa Keputusan Walikota Surabaya. Padahal Juklak dan Juknis tersebut dibuat dan digunakan sebelum agama Konghucu diakui secara legal sebagai agama resmi di Indonesia. Sampai saat ini Keputusan Walikota sebagai kebijakan turunan dari UU No. 23 tersebut belum ada, sehingga aparat pemerintah masih menggunakan acuan lama yang diskriminatif. Dengan dalih belum ada kebijakan teknis, Pemkot masih menunda untuk memasukkan Konghucu dalam beberapa dokumen kependudukan, seperti KTP, KK, dan Akta Nikah.</p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Belitan diskriminasi semakin kuat, ketika aparat pemerintah “mengais keuntungan secara sepihak”. Praktek-praktek komersialisasi layanan kependudukan “jalur tikus” atau “jalur belakang” menjadi potret menjamurnya pemanfaatan oleh “aparat” secara sepihak dengan menempatkan kelompok minoritas “selalu” yang menjadi korban.</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[]</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><em>Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Srinthil, Media Perempuan Multikultural, Edisi Dilema Status Kewarganegaraan Perempuan Miskin Tionghoa.</em><br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pinggirmalam.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pinggirmalam.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pinggirmalam.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pinggirmalam.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pinggirmalam.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pinggirmalam.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pinggirmalam.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pinggirmalam.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pinggirmalam.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pinggirmalam.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pinggirmalam.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pinggirmalam.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pinggirmalam.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pinggirmalam.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=94&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/03/20/diskriminasi-di-kota-multi-religi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c3b7a5434b0f445f669b2c8376dfffb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kodim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pabrik Semen Diadukan</title>
		<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/02/05/pabrik-semen-diadukan/</link>
		<comments>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/02/05/pabrik-semen-diadukan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 06:18:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kodim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Surat KNLH Pertanyakan tentang Amdal Jumat, 30 Januari 2009 &#124; 00:34 WIB Jakarta, Kompas &#8211; Jaringan Nasional untuk Advokasi Penolakan Semen Gresik dan perwakilan warga Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, meminta Kementerian Negara Lingkungan Hidup membatalkan analisis mengenai dampak lingkungan PT Semen Gresik. Amdal itu dibuat untuk perluasan pabrik di Sukolilo. Sebelumnya, mereka mengadukan penangkapan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=91&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Surat KNLH Pertanyakan tentang Amdal</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span class="tglct">Jumat, 30 Januari 2009 | 00:34 WIB</span></p>
<p>Jakarta, Kompas &#8211; Jaringan Nasional untuk Advokasi Penolakan Semen Gresik dan perwakilan warga Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, meminta Kementerian Negara Lingkungan Hidup membatalkan analisis mengenai dampak lingkungan PT Semen Gresik.</p>
<p>Amdal itu dibuat untuk perluasan pabrik di Sukolilo. Sebelumnya, mereka mengadukan penangkapan dan kekerasan polisi terhadap warga pada 22 Januari 2009.</p>
<p>Menurut mereka, proses penyusunan amdal selama ini tidak mengindahkan suara warga yang sebagian menolak sejak awal. Bahkan, keputusan Gubernur Jateng yang meminta penelitian ulang tidak diikuti kajian lebih dalam.<span id="more-91"></span></p>
<p>Niat pemerintah daerah melanjutkan pembangunan pabrik semen itu dikhawatirkan merusak lingkungan. Kawasan karst yang akan ditambang merupakan sumber mata air yang mengairi ribuan hektar sawah di sejumlah desa.</p>
<p>”Kami takut kehilangan sumber air dan sawah,” kata Sunarti (35), warga Desa Kedumulyo, Sukolilo, pemilik sawah seluas 3.200 meter persegi, ketika berada di KNLH Jakarta, Kamis (29/1). Mereka datang tak lama sesudah beberapa media mengutip pernyataan Gubernur Bibit Waluyo yang menyatakan pemda telah mengeluarkan Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan.</p>
<p>Faktanya, sejumlah lembaga swadaya masyarakat pendamping dan aktivis lingkungan belum pernah melihat SK itu sekalipun. ”Kami meminta ke pemda pun tidak ada juga,” kata anggota Jaringan Nasional untuk Advokasi Penolakan Semen Gresik, Desmiwati.</p>
<p>Pihak KNLH hingga kini belum mengetahui persis, apakah amdal sudah keluar atau belum. Dalam prosesnya, KNLH seharusnya dimintai masukan.</p>
<p><strong>Surat KNLH</strong></p>
<p>Pada pertemuan kemarin, pihak KNLH menyatakan pada 5 Januari 2009 telah berkirim surat kepada Badan Lingkungan Hidup Jateng yang banyak terlibat menyusun amdal.</p>
<p>”Ada sejumlah pertanyaan yang kami ajukan,” kata Deputi I Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Tata Lingkungan Hermien Roosita.</p>
<p>Surat itu meminta agar beberapa kajian diperjelas lagi di antaranya status karst, kedalamannya, kajian geohidrologi, dampak pada goa-goa karst, dan penurunan kualitas udara yang mungkin muncul. Kajian amdal berada di bawah tim penilai amdal provinsi.</p>
<p>Setidaknya, ada tiga kelas karst, yakni kelas I, II, dan III. Kegiatan pertambangan hanya diperbolehkan bagi karst kelas II dan III. Karst kelas I dilindungi dari segala bentuk eksploitasi.</p>
<p>Pembagian kelas pada karst dinilai perlu diperjelas dalam amdal. ”Penelitian pertengahan tahun 1990-an, karst di Kendeng itu masuk kelas satu. Ketika akan ditambang, kelasnya turun menjadi kelas dua dan tiga,” kata anggota Jaringan Nasional untuk Advokasi Penolakan Semen Gresik, Muhammad Kodim.</p>
<p>Atas permintaan pembatalan amdal, KNLH tak dapat memutuskannya. Sejalan otonomi daerah, kewenangan di tangan provinsi.</p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Seperti diungkapkan Deputi III Menneg LH Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Masnellyarti Hilman, proses kajian amdal tidak bisa dilanjutkan ketika persoalan di awal masih ada yang belum disepakati. (GSA)</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pinggirmalam.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pinggirmalam.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pinggirmalam.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pinggirmalam.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pinggirmalam.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pinggirmalam.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pinggirmalam.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pinggirmalam.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pinggirmalam.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pinggirmalam.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pinggirmalam.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pinggirmalam.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pinggirmalam.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pinggirmalam.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=91&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/02/05/pabrik-semen-diadukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c3b7a5434b0f445f669b2c8376dfffb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kodim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Warga Pati Adukan Semen Gresik ke Gus Dur</title>
		<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/01/30/warga-pati-adukan-semen-gresik-ke-gus-dur/</link>
		<comments>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/01/30/warga-pati-adukan-semen-gresik-ke-gus-dur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 19:41:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kodim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA &#8211; Tujuh orang warga Sukolilo, Pati, Jawa Tengah mengadu kepada Gus Dur terkait penolakan rencana pembangunan PT Semen Gresik di Pati yang sudah disuarakan sejak 2006. Akibat dari protes ini terjadi tindak kekerasan dan penangkapan terhadap sembilan warga Pati dan Kudus oleh aparat keamanan. Sebelumnya pada 22 Janruari 2009, ratusan personel Brimob dan Samapta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=88&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p>JAKARTA &#8211; Tujuh orang warga Sukolilo, Pati, Jawa Tengah mengadu kepada Gus Dur terkait penolakan rencana pembangunan PT Semen Gresik di Pati yang sudah disuarakan sejak 2006.</p>
<p>Akibat dari protes ini terjadi tindak kekerasan dan penangkapan terhadap sembilan warga Pati dan Kudus oleh aparat keamanan. Sebelumnya pada 22 Janruari 2009, ratusan personel Brimob dan Samapta menendang dan menginjak warga Desa Sukolilo.</p>
<p>Peristiwa ini terjadi ketika warga meminta kepala Desa Kedumulyo agar bersedia menemui warga dan mengklarifikasi informasi yang beredar terkait pembebasan tanah proyek tersebut.<span id="more-88"></span></p>
<p>Demikian dikemukakan Muhammad Kodim dari LSM Desantara yang mendampingi warga saat menemui Andurrahman Wahid atau Gus Dur di kantor PB NU, Jalan Keramat Raya 164 Jakarta Pusat, Rabu (28/1/2009).</p>
<p>Menurut dia, warga mengadukan hal itu karena menganggap mantan presiden RI ini memiliki kepedulian sosial yang tinggi. &#8220;Jadi kita berharap Gus Dur bisa datang ke Sukolilo. Tapi tentunya harus tunggu keputusan dari DPP PKB,&#8221; kata Muhamad Kodim.</p>
<p>Menurut dia, Gus Dur berjanji akan menghalangi pembangunan Pabrik Semen Gresik tersebut karena dampaknya merugikan masyarakat luas. Selain itu akan mengancam kelestarian alam. Sedikitnya 250.000 warga yang terdiri petani dan buruh tani terancam kekurangan air bila pabrik semen ini tetap dibangun.</p>
<p>Dalam kesempatan ini, Gus Dur mengjelaskan persoalan ini menyangkut warga PKB sehingga pihaknya wajib membela dengan datang ke Pati. &#8220;Hanya ada prosedurnya yang ditangani DPP PKB,&#8221; ujar Gus Dur.</p>
<p>Selain menolak proyek Semen Gresik, warga juga menuntut segala bentuk aktivitas PT Semen Gresik di Pati dihentikan dan mendesak Kapolri menindak aparat yang melakukan tindakan kekerasan terhadap warga.</p>
<p style="text-align:right;"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tulisan ini dimuat di okezone.com pada tanggal 1 Januari 2009</span></em></p>
<p style="text-align:left;"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><br />
</span></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pinggirmalam.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pinggirmalam.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pinggirmalam.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pinggirmalam.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pinggirmalam.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pinggirmalam.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pinggirmalam.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pinggirmalam.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pinggirmalam.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pinggirmalam.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pinggirmalam.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pinggirmalam.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pinggirmalam.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pinggirmalam.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=88&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/01/30/warga-pati-adukan-semen-gresik-ke-gus-dur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c3b7a5434b0f445f669b2c8376dfffb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kodim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cara NU Gabus Tolak Pendirian Pabrik Semen Gresik</title>
		<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/01/22/cara-nu-gabus-tolak-pendirian-pabrik-semen-gresik/</link>
		<comments>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/01/22/cara-nu-gabus-tolak-pendirian-pabrik-semen-gresik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 16:11:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kodim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Gelombang aksi penolakan rencana pembangunan pabrik PT Semen Gresik (Persero) Tbk. di Sukolilo, Pati semakin besar dan meluas. Jika beberapa hari lalu, tepatnya Senin, 5 Januari 2008, sekitar 3000 warga Sukolilo dan sekitarnya baik yang dimungkinkan kena dampak secara langsung maupun tidak berunjuk rasa di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati, kini giliran pengurus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=84&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Gelombang aksi</strong> penolakan rencana pembangunan pabrik PT Semen Gresik (Persero) Tbk. di Sukolilo, Pati semakin besar dan meluas. Jika beberapa hari lalu, tepatnya Senin, 5 Januari 2008, sekitar 3000 warga Sukolilo dan sekitarnya baik yang dimungkinkan kena dampak secara langsung maupun tidak berunjuk rasa di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati, kini giliran pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Gabus dan warga Nahdliyin se-Eks Kawedanan Kayen menyatakan sikap tegas penolakannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;">Kamis, 8 Januari 2008 kemarin, NU Gabus menggelar aksi berupa “Silaturrahim dan Tadarus Lingkungan” di Kompleks Ponpes Al-Ma’ruf , Pasinggahan-Sugihrejo, Gabus, Pati pimpinan Kiai Abd Rohman Adam. Acara tersebut dihadiri oleh pengurus NU Gabus baik level MWC maupun Ranting, Fatayat NU Gabus, juga<span> </span>kiai dan warga Nahdliyin se-Eks Kawedanan Kayen yang meliputi empat kecamatan, yaitu Sukolilo, Kayen, Tambakromo, dan Gabus.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;">Sikap penolakan ini sebagai wujud kepekaan dan bukti kepedulian NU terhadap problem-problem kemasyarakatan. “Sebagai organisasi yang besar, NU tidak boleh tinggal diam dalam hal ini. Karena pabrik semen itu lebih mendatangkan <em>mafsadah</em> (kerusakan). Maka sudah menjadi tugas NU untuk membela kepentingan masyarakat,” kata Zainal, panitia kegiatan.<span id="more-84"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;">Jika hanya diam saja dan tidak bersikap apa-apa, lanjut Zainal, maka NU akan kehilangan peran sosialnya dan itu akan semakin menjauhkan NU dari masyarakat. Apalagi kondisi di masyarakat saat ini sudah begitu memprihatinkan. “Baru pada fase rencana saja, masyarakat sudah dibuat tercerai berai. Antar mereka sudah tidak saling bertegur sapa lagi, saling <em>suudhon</em> (berburuk sangka), bahkan ada tanda-tanda mengarah ke konflik horizontal. Justru inilah problem yang paling krusial, yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut,” tegasnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;">Selain alasan tersebut, gagasan menggelar acara “Silaturrahim dan Tadarus Lingkungan” itu dikarenakan kecamatan Gabus merupakan daerah yang akan dilalui jalur transportasi jika pabrik semen nanti berdiri. Dengan begitu, mereka nantinya juga akan merasakan dampak langsungnya, alias sebagai korban. Fakta inilah yang menjadikan pengurus NU kecamatan Gabus berani menyuarakan tolak Semen Gresik meskipun Pengurus Cabang NU Pati belum menentukan sikapnya secara organisasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;">Acara dengan model <em>lesehan</em> (duduk di lantai) itu dimulai dengan tahlil bersama, kemudian dilanjutkan dengan kesaksian dari salah satu warga dari Kabupaten Tuban, Abdul Rohim, yang merasakan dampak langsung dari adanya pabrik Semen Gresik di daerah Tuban sana. Dari kesaksiannya, dia bercerita banyak mengenai dampak-dampak yang ada, seperti polusi, kekeringan, dan buruknya kondisi tanah bekas galian.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;">Usai kesaksian, acara berlanjut ke tadarus lingkungan bersama Kiai Haji Nuruddin Amin &#8211;atau yang akrab disapa Gus Nung&#8211; dari Bangsi, Jepara. Dalam tadarus tersebut, Gus Nung memberikan penjelasan mengenai persoalan lingkungan dalam perspektif Islam serta mengajak masyarakat semua, utamanya warga nahdliyin, agar lebih solid dalam melawan segala upaya yang bisa merusak lingkungan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;">“Sebesar apapun kekuatan pemerintah, baik itu Bupatinya maupun Gubernurnya, kalau masyarakatnya solid dan kompak, maka tidak akan bisa mengalahkan kekuatan rakyat,” tegasnya yang diikuti gemuruh tepuk tangan hadirin. Dia juga mengingatkan bahwa persoalan seperti ini biasanya lama, tidak cukup diselesaikan dalam waktu setahun atau dua tahun sebagaimana kasus PLTN di Balong, Jepara beberapa tahun lalu. Karenanya, warga diminta untuk menjaga kesabarannya dalam melakukan gerakan penolakan semen ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;">Setelah itu, warga nahdliyin dan para kiai mendapat penjelasan mengenai hal-hal yang terkait dengan rencana pendirian pabrik semen. Season penjelasan ini mengahadirkan 2 narasumber, masing-masing adalah Muhammad Nurkhoiron, Direktur DESANTARA Foundation, dan Ahmad Bahtihazar Rodhial Falah dari <span lang="SV">Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta</span>. Nurkhoiron berbicara mengenai dampak sosial-budayanya, ketika nantinya terjadi perubahan sosial dari masyarakat agraris ke masyarakat industrialis, baik dari segi gaya hidup maupun menjamurnya tempat-tempat hiburan. Sementara itu, Ahmad Bahtihazar menjelaskan mengenai hidrogeologi kawasan kars. Dia menekankan pentingnya keberadaan Pegunungan Kendeng sebagai kawasan kars yang memberi manfaat besar terhadap proses pertanian di daerah sekitar dan bagi kehidupan masyarakat setempat. Karenanya, Pegunungan Kendeng harus dijaga dan tidak boleh dirusak agar tetap bisa berfungsi sebagaimana mestinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;">Penjelasan dari kedua narasumber tersebut kemudian diikuti dengan season dialog, para audiens diberi kesempatan bertanya atau memberi masukan. Pasca itu, barulah masuk ke acara puncaknya, yaitu penyamaan persepsi dan penentuan sikap dari pengurus NU Gabus yang dipandu oleh Zainal. Zainal berorasi dan memberi gambaran guna menyamakan persepsi di kalangan kiai, pengurus, dan warga nahdliyin terkait dengan rencana kehadiran pabrik semen.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;">Sekitar 15 menit berorasi, dia kemudian memanggil dan meminta pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) dan pengurus Ranting NU Kecamatan Gabus untuk menandatangani pernyataan penolakan atas nama organisasi yang sudah disiapkan sebelumnya. Satu per satu pengurus maju ke panggung dan menandatangi form penolakan tersebut disaksikan oleh yang hadir di sana. Berbarengan dengan itu, form pernyataan tolak Semen Gresik juga diedarkan kepada warga nahdliyin untuk ditandatangani atas nama pribadinya masing-masing. Dari data yang terkumpul, menunjukkan ada 171 orang yang menandatangani penolakan itu. Selebihnya adalah 22 orang pengurus ranting dan 16 orang pengurus MWC NU Gabus.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;">Semua pengurus MWC dan ranting yang hadir di sana sudah menandatangani pernyataan penolakan disertai dengan pembubuhan stempel. Lalu, mereka berdiri berjajar di depan untuk membacakan konsideran pernyataan penolakan itu yang dibacakan oleh Zainal. Demikian penggalan pernyataan sikap tersebut:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bahwa, bumi seisinya adalah karunia Allah SWT yang tak ternilai harganya. Maka, sudah menjadi tugas dan kewajiban bagi umat manusia sebagai <em>khalifatu fi al ardh</em> untuk menjaga serta melestarikannya, termasuk melindungi dari tangan-tangan jahat yang hendak merusaknya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bahwa, alam ini memiliki hukumnya sendiri. Maka, kita harus memperlakukan dan memanfaatkannya sebagaimana mestinya, tidak boleh mengeksploitasi secara berlebihan jika tidak ingin lahir bencana di kemudian hari.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bahwa, bumi seisinya diperuntukkan bagi seluruh umat manusia, bukan hanya untuk kita saat ini melainkan juga bagi anak-cucu nantinya dan makhluk lainnya. Jika ada kelompok/segelintir manusia tertentu dengan watak serakah dan penuh ketamakan ingin menguasai karunia Illahi ini,<span> </span>maka tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali melawannya&#8230;”</span></strong><strong></strong></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Gemuruh tepuk tangan para hadirin menyambutnya, seolah melupakan panasnya siang kala itu. Mereka tampak begitu bersemangat dan antusias mengikuti jalannya acara tersebut hingga pembacaan doa sebagai penutup yang dilakukan tepat pukul 14.00 WIB.[]</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pinggirmalam.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pinggirmalam.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pinggirmalam.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pinggirmalam.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pinggirmalam.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pinggirmalam.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pinggirmalam.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pinggirmalam.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pinggirmalam.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pinggirmalam.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pinggirmalam.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pinggirmalam.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pinggirmalam.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pinggirmalam.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=84&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/01/22/cara-nu-gabus-tolak-pendirian-pabrik-semen-gresik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c3b7a5434b0f445f669b2c8376dfffb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kodim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berfikir Jernih di Tengah Kisruh Pro-Kontra Rencana Pembangunan Pabrik Semen Gresik di Sukolilo</title>
		<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/01/13/berfikir-jernih-di-tengah-kisruh-pro-kontra-rencana-pembangunan-pabrik-semen-gresik-di-sukolilo/</link>
		<comments>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/01/13/berfikir-jernih-di-tengah-kisruh-pro-kontra-rencana-pembangunan-pabrik-semen-gresik-di-sukolilo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 12:52:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kodim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Rencana pendirian Pabrik Semen Gresik di Sukolilo mengundang sejumlah perdebatan sengit yang akhirnya membelah mayarakat ke dalam dua kutub yang saling bertentangan: pro dan kontra. Di luar dua kelompok tersebut, adalah mereka yang tidak peduli terhadap persoalan ini. Masing-masing kelompok memiliki alasan dan pembenarnya masing-masing. Secara umum, masyarakat yang setuju rata-rata memiliki harapan akan mendapatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=81&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV"><strong>Rencana pendirian Pabrik Semen Gresik di Sukolilo </strong>mengundang sejumlah perdebatan sengit yang akhirnya membelah mayarakat ke dalam dua kutub yang saling bertentangan: pro dan kontra. Di luar dua kelompok tersebut, adalah mereka yang tidak peduli terhadap persoalan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Masing-masing kelompok memiliki alasan dan pembenarnya masing-masing. Secara umum, masyarakat yang setuju </span><span lang="SV">rata-rata memiliki harapan akan mendapatkan pekerjaan yang lebih menarik dari sekedar bertani. Masyarakat ini juga menaruh kepercayaan pada PT. Semen Gresik yang menjamin tidak akan merusak lingkungan serta menjamin pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat jika ada kerusakan pada mata air mereka. Selebihnya, masyarakat golongan ini merasa tidak berdaya karena menganggap rencana penambangan tersebut merupakan keputusan pemerintah yang sudah tidak bisa diganggu gugat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="DE">Di lain pihak, masyarakat yang menolak rencana penambangan umumnya memiliki kekhawatiran akan keselamatan lingkungan mereka, terutama pada lahan pertanian dan suplai air dari mata air untuk kebutuhan sehari-hari.<span> </span>Kelompok masyarakat ini </span><span lang="SV">tidak termakan janji yang dilontarkan oleh pihak perusahaan, karena tidak percaya akan kebenaran realisasinya. Hal ini didasarkan pada fakta yang sudah ada, dimana setiap industri besar berdiri pasti akan melahirkan persoalan baru yang jauh lebih pelik.<span id="more-81"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Sementara itu, m</span><span lang="DE">asyarakat yang tidak peduli akan rencana penambangan, kebanyakan adalah mereka yang tinggal di lokasi yang jauh dari daerah rencana konsesi penambangan. </span><span lang="SV">Masyarakat golongan ini, sebenarnya tidak keberatan ada aktivitas penambangan di sekitar mereka, namun dengan syarat mereka minta ganti rugi yang sepadan, semisal ada upaya bedol desa ke daerah yang lebih baik dan tidak terlalu jauh dari tempat kelahiran mereka, serta mendapat jaminan hidup dengan layak. Alasannya, mereka ini ingin tetap dapat memantau seperti apa perubahan wilayah mereka selama/ pasca penambangan. Ketidakpedulian ini juga agak rumit, karena justru sebagian masyarakat merasa kecewa atas perlakuan beberapa perusahaan tambang yang telah berlaku semena-mena pada saat ekplorasi beberapa waktu sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Namun, bila dicermati lebih lanjut, alasan-alasan dari masing-masing kelompok itu masih bersandar pada level ’harapan’ dan ’kekhawatiran’, belum didasarkan pada pemahaman yang utuh dari berbagai sisi yang terkait dengan persoalan ini. Sehingga tidak jarang yang tampak kemudian, masing-masing kelompok dalam berargumen dan menentukan sikapnya atas dasar ”pokoknya”. Lemahnya pemahaman ini terjadi lantaran sulitnya akses informasi dan minimnya peyediaan bahan-bahan yang terkait dengan persoalan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Untuk itu, rangkuman data ini mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua dalam upaya untuk memahami lebih jauh mengenai rencana pendirian pabrik semen Gresik di Sukolilo dari berbagai sisi. Dengan ini pula, agar kita tidak terombang-ambing dan mudah terseret oleh arus kepentingan-kepentingan tertentu. Jernih melihat dan berfikir adalah landasan utama untuk menentukan sikap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="SV">I. GAMBARAN UMUM</span></strong><strong><span lang="SV"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">1.1. Profile Kabupaten Pati</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IT">Kabupaten Pati merupakan salah satu dari 35 daerah kabupaten/kota di Jawa Tengah. Kabupaten Pati terletak di daerah pantai utara Pulau Jawa dan di bagian timur Propinsi Jawa Tengah. Berbatasan dengan Kabupaten Jepara di sebelah utara, Kabupaten Kudus di sebelah barat, Kabupaten Grobogan di sebelah selatan dan Kabupaten Rembang di selebah timur. Secara administratif Kabupaten Pati mempunyai luas wilayah 150.368 hektar yang terdiri dari<span> </span>58.749 hektar lahan sawah dan 91.619 hektar lahan bukan sawah.<span> </span>Kabupaten Pati terbagi dalam 21 kecamatan, 401 desa, 5 kelurahan. Ada 1.106 dukuh, 1.464 RW dan 7.463 RT.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IT">Dari segi letaknya Kabupaten Pati merupakan daerah yang strategis di bidang ekonomi, sosial budaya dan memiliki potensi sumberdaya alam yang dapat dikembangkan dalam banyak aspek kehidupan masyarakat; seperti pertanian, peternakan, perikanan, perindustrian, pertambangan dan pariwisata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IT">Potensi utama Kabupaten Pati adalah pada sektor pertanian<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IT">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. Potensi pertanian yang cukup besar meliputi pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IT">Terkait dengan kondisi alam dan peninggalan sejarah, Kabupaten Pati juga menyimpan banyak situs dan juga tempat-tempat alami yang eksotis yang sangat potensial untuk pariwisata. Salah satu daerah yang potensial untuk pariwisata adalah wilayah di Kecamatan Kayen, Tambakromo dan Sukolilo. Di tiga kecamatan tersebut terdapat banyak goa (Goa Wareh, Goa Lowo, Goa Pancur) dan beberapa situs sejarah (Makan Saridin, Pertapaan Watu Payung, Peninggalan Kerajaan Malawapati).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IT">2.1. Wilayah Administratif Sukolilo</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IT">Secara administratif, wilayah Kecamatan Sukolilo masuk di wilayah<span> </span>Kabupaten Pati, Secara kordinat terletak pada 0470000 m, 0500000 m dan 922 0000 m,n 9250000 UTM, Peta Bakosurtanal, Lembar Sukolilo, Skala 1 : 25.000.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">3.1. Tentang Pegunungan Kendeng</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Tidak banyak yang tahu bahwa pegunungan kapur (karst) yang membentang dari desa Taban (Kudus) sampai Tuban bernama Pegunungan Kendeng Utara. Di pegunungan yang dulu cukup lebat dengan pohon jati ini bermukim sebagian besar penduduk Kecamatan Sukolilo. Selain digunakan untuk tempat tinggal warga, pegunungan ini juga memberikan beberapa manfaat lain bagi warga yang hidup di sekitarnya. Pertama, sumber air yang telah mengairi 15.873,9 ha lahan pertanian di sekitarnya. Kedua, lahan di pegunungan ini juga menjadi lahan pekerjaan bagai ribuan peladang yang menanam berbagai palawija di sela-sela pepohonan jati milik Perhutani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Rona Lingkuan Alam dan Budaya:</span></strong></p>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span>Pegunungan Kendeng dengan kekayaannya berupa sumber air dan goa telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi masyarakat sekitar, khususnya bagi masyarakat di Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Kayen. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sumber air juga bermanfaat untuk mengairi lahan pertanian.</li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span>Secara keseluruhan sumber daya alam di wilayah Pegunungan Kendeng telah memberikan kemanfaatan bagi 91 688 jiwa di kecamatan Sukolilo dan 73 051 jiwa di Kecamatan Kayen.</li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span>Kecamatan Sukolilo yang meliputi 16 Desa<span> </span>dan Kecamatan Kayen meliputi 17 Desa yang sistem pengairannya melalui<span> </span>irigasi teknis dengan bersumber dari Waduk Kedungombo (Klambu kanan) dan sistem pompanisasi.</li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span>Mata air di pegunungan Kendeng merupakan sumber pengairan 15.873,900 ha sawah di Kecamatan Sukolilo dan 9 603,232 ha di Kecamatan Kayen.</li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span>Sawah yang berada di kaki gunung Kendeng utara menggunakan irigasi teknis sementara yang terletak di sebelah utara sepanjang sungai Juana II dan Juana I menggunakan sistem pompanisasi dengan bersumber dari sumber air yang berada pada Pegunungan Kendeng.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="SV">II. DATA MENGENAI RENCANA PEMBANGUNAN PABRIK SG</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Di Kecamatan Sukolilo, rencananya akan di bangun pabrik semen oleh PT. Semen Gresik dengan luas lahan mencapai ± 2000 hektar ( bahkan<span> </span>lebih luas ). Bahan baku pabrik semen<span> </span>tersebut adalah batu gamping / batu kapur yang berasal dari kawasan perbukitan Kars di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.<span> </span>Kegiatan penambangan ini tentunya akan mengambil dan mengeruk perbukitan kapur yang berfungsi sebagai penyimpan air alami <em>(reservoir</em>) dari mata air-mata air yang bermunculan di kaki perbukitan kawasan kars tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">2.1. </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;" lang="SV">Data Studi Kelayakan Semen Gresik</span></strong><strong><span lang="SV"></span></strong></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="color:black;" lang="SV">KEBUTUHAN      BAHAN BAKU</span><span lang="SV"></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;color:#669999;" lang="SV"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>2,5 juta ton semen / tahun = 8 000 ton semen / hari.</span><span style="color:#669999;" lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;color:#669999;" lang="SV"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;" lang="SV">Batu kapur <span> </span>=<span> </span><span style="text-decoration:underline;">+</span><span> </span>11. 700 ton / hari</span><span style="color:#669999;" lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;color:#669999;" lang="SV"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;" lang="SV">Tanah liat<span> </span>=<span> </span><span style="text-decoration:underline;">+</span><span> </span><span style="text-decoration:underline;"><span> </span></span>2. 600 ton / hari</span><span style="color:#669999;" lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;color:#669999;" lang="SV"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;" lang="SV">PB + PS<span> </span>=<span> </span><span style="text-decoration:underline;">+</span><span> </span>120 ton / hari</span><span style="color:#669999;" lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;color:#669999;" lang="SV"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;" lang="SV">Gipsum<span> </span>= +<span> </span>320 ton / hari</span><span style="color:#669999;" lang="SV"></span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="color:black;" lang="SV">KEBUTUHAN      ENERGI LISTRIK</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;color:black;" lang="SV"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;" lang="SV">Batubara <span> </span>=<span> </span>+<span> </span>1. 200 ton / hari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;color:#669999;"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;" lang="SV">Listrik<span> </span><span> </span>=<span> </span><span style="text-decoration:underline;">+</span><span> </span>105 Kwh<span> </span>/ ton semen</span><span style="color:#669999;"></span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="color:black;" lang="SV">BIAYA      INVESTASI PABRIK SEMEN DI PATI =<span> </span><span style="text-decoration:underline;">+</span> 3,5 Trilyun</span><span lang="SV"></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:black;" lang="SV">Kebutuhan      Tenaga kerja Pembangunan Pabrik semen di Pati</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:black;" lang="SV">Kontruksi      <span> </span>=<span> </span><span style="text-decoration:underline;">+</span><span> </span>2000 Orang</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:black;" lang="SV">Operasi<span> </span>=<span> </span><span style="text-decoration:underline;">+</span><span> </span>1000 Orang</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="color:black;" lang="SV">Meliputi :<span> </span>= Tenaga internal PT.<span> </span>S G</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:108pt;"><span style="color:black;" lang="SV">= Tenaga Eksternal (jasa angkutan semen, jasa kontruksi dll.)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="color:black;" lang="SV">KEBUTUHAN      LAHAN PT. SG di Pati</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;color:black;" lang="SV"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;" lang="SV">Sawah <span> </span><span> </span><span> </span>=<span> </span>+<span> </span>639 ha</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;color:black;" lang="SV"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;" lang="SV">Tegalan<span> </span>=<span> </span>+<span> </span>794 ha</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;color:#330066;"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;" lang="SV">Total<span> </span><span> </span><span> </span>=<span> </span>1433 ha</span><span style="color:#330066;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;" lang="SV"><span>Ø<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Tapi lahan yang rencananya akan dibebaskan nantinya mencapai <span style="text-decoration:underline;">+</span> 2000 ha (bahkan bisa lebih luas)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;" lang="SV"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span lang="SV">Kelemahan Yang Ada Dari Studi Kelayakan Semen Gresik</span></strong></p>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span></span></span><span style="color:black;">Hanya memuat perhitungan ekonomi produksi (keuntungan dan biaya produksi semen).</span><span style="color:#669999;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span></span></span><span style="color:black;">Analisis mengenai dampak-dampak negatif diserahkan pada Studi Amdal.</span><span style="color:#669999;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span></span></span><span style="color:black;">Tidak secara rinci menjelaskan biaya-biaya apa saja yang dibutuhkan dalam pembangunan pabrik Semen Gresik tersebut.</span><span style="color:#669999;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span></span></span><span style="color:black;">Keuntungan produksi tidak memiliki dampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.</span><span style="color:#669999;"></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><br />
</span><strong><span style="font-size:14pt;" lang="SV">2.2. Terkait Rencana Pembangunan Pabrik SG</span></strong><a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IT"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IT">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><strong><span style="font-size:14pt;" lang="SV"></span></strong></p>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span><span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;" lang="SV">Pembangunan</span><span style="color:black;" lang="SV"> <strong>pabrik</strong> di Desa Kedomulyo.</span><span style="color:#330066;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;" lang="SV">Penambangan</span><span style="color:black;" lang="SV"> <strong>batu kapur</strong> di pegunungan Kendeng yang meliputi desa Sukolilo, Sumbersoko, Gadudero, Kedomulyo, dan Tempo gunung.</span><span style="color:#330066;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><span style="color:black;" lang="SV">Penambangan tanah liat dilakukan di lahan pertanian Desa Gadudero, Desa Baturejo, dan Desa Kasihan.</span><span style="color:#330066;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><span style="color:black;" lang="SV">Pada kenyataan sekarang yang terjadi banyak lahan tegalan yang di tanami pohon jati, &amp; ternyata hasil produksinya juga tidak kalah dengan tanaman yang sifatnya musiman.</span><span style="color:#330066;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><span style="color:black;" lang="IT">1 ha<span> </span>ditanami 600 pohon jati dalam jangka waktu 9 tahun bisa<span> </span>di panen &amp; di jual 40 jt – 2 jt<span> </span>biaya produksi<span> </span>bibit &amp; perawatan<span> </span>hasil / tahun<span> </span>rata-rata 4, 2 jt</span><span style="color:black;" lang="IT"> </span><span style="color:#330066;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="IT"><span></span></span><span style="color:black;" lang="IT">Dari jumlah penduduk 29 474<span> </span>jiwa<span> </span>kalau dihitung KK 5894, ¼ dari total<span> </span>Kepala Keluarga adalah 1473 KK sebagai peternak sapi </span><span style="color:#330066;" lang="IT"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><span style="color:black;" lang="IT">Rata- rata setiap KK punya 2 ekor ternak sapi. </span><span style="color:black;">2946 ekor sapi x rata – rata Rp<span> </span>5 jt =<span> </span>14 730 000 000. Sapi/ kambing merupakan pendapatan tahunan. Ini belum termasuk peternak kambing.</span><span style="color:#330066;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><!--[endif]--><span style="color:black;" lang="NL">Pakan didapat dari jerami di saat masa panen dan rumput di saat tidak ada panen. Sehingga untuk mendapatkan pakan, dibutuhkan lahan sawah.</span><span style="color:black;" lang="NL"> </span><span style="color:#330066;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><span style="color:black;">79 mata air yang mengalir sepanjang tahun di Kecamatan Sukolilo. Yang masuk dalam batasan yang ditetapkan oleh SG, ada 42 mata air yang mengalir sepanjang tahun (bukan musiman, dan bukan 10). Debit mata air tersebut paling kecil 0.06 liter/detik dan paling besar 178 liter/detik.</span><span style="color:#669999;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><span style="color:black;">Total debit yang merupakan sisa tersebut 1009.6 liter/detik</span><span style="color:#669999;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><span style="color:black;">Hitung debit air tersebut hanya merupakan sisa dari total karena sudah dimanfaatkan oleh masyarakat. </span><span style="color:#669999;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><span style="color:black;">Mata air itu tersebar dari wilayah yang paling tinggi sampai yang paling rendah di kecamatan Sukolilo.</span><span style="color:#669999;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><span style="color:black;">Dari analisis morfologis, 75% wilayah Pati dialiri oleh sumber air dari Pegunungan Kendeng.</span><span style="color:#cccc00;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><span style="color:black;">Dari 24 gua yang ditemui, 15 gua sudah jelas berair, artinya gua tersebut merupakan sungai bawah tanah dengan demikian sistem hidrologi tanah di atas gua masih ada. Hanya 10 gua yang masuk di konsesi studi kelayakan SG.</span><span style="color:#cccc00;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><span style="color:black;">Mulut gua berair itu artinya proses karstifikasi masih berjalan. Inilah indikasi dari karakter KARS I.</span><span style="color:#cccc00;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><span style="color:black;">Kelelawar berguna untuk kontrol hama. Kotoran kelelawar dapat dijadikan pupuk.</span><span style="color:#330066;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><span style="color:black;">Ekosistem di dalam mulut gua berair: kelelawar dalam jumlah besar, ditandai dengan adanya penambang2 fosfat (fosfat dari kotoran kelelawar).</span><span style="color:#330066;"></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="SV">III. KAJIAN KAWASAN KARS SUKOLILO, PATI</span></strong><strong><span lang="SV"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Fenomena Kars Sukolilo (Kendeng Utara) tercermin melalui banyaknya bukit-bukit kapur kerucut, munculnya mata-mata air pada rekahan batuan, mengalirnya sungai-sungai bawah tanah dengan lorong gua sebagai koridornya. Sering ditemukan lahan yang sangat kering di permukaan saat musim kemarau pada bagian bagian bukit karena sungai-sungai yang mengalir di permukaan sangat jarang. Aliran air masuk kedalam rekahan batuan kapur atau batugamping (<em>limestone</em>) dan melarutkannya, sehingga di bagian bawah kawasan ini bayak ditemukan sumber-sumber mata air yang keluar melalui rekahan-rekahan batuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Kawasan Kars Kendeng Utara yang melingkupi Kabupaten Grobogan, kabupaten Pati hingga Kabupaten Blora belum ditetapkan<span> </span>mengenai klasifikasi<span> </span>wilayah kars tersebut. Berdasarkan peraturan <strong>”KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1456 K/20/MEM/2000<span> </span> TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KAWASAN KARS MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL”</strong> dalam pengelolaan sebuah kawasan kars harus melakukan sebuah pengkajian dan survey terlebih dahulu. Apabila dalam penetapannya sebuah kawasan kars memiliki kriteria sebagai kawasan Kars Kelas 1 (Pasal 12) maka segala bentuk aktivitas penambangan tidak diperbolehkan di kawasan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Berangkat dari isu sentral mengenai rencana pembangunan pabrik semen oleh <strong>PT. SEMEN GRESIK</strong> dan terbitan <strong>KEPMEN ESDM no 1456/K/20/MEM/2000</strong>, maka kegiatan survey dan pengkajian wilayah Kars Pati (Kendeng Utara) harus dilakukan sebagai tahapan paling penting dalam rencana pengelolaan kawasan kars.<span> </span>Tahapan pengkajian dan survey memiliki tujuan menghasilkan data-data potensi kawasan kars. Hasil kajian dan survey tersebut akan menjadi bahan acuan dalam pengklasifikasian kawasan Kars Pati (Kendeng Utara) dan pengambilan kebijakan oleh Pemerintahan Kabupaten Pati dalam pengelolaannya berhubungan dengan rencana pembangunan pabrik semen yang berpotensi menimbulkan ancaman kekeringan akibat kerusakan fungsi hidrologi di kawasan tersebut.</span><span lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span><strong><span lang="SV">3.1. </span></strong><strong><span lang="SV">Proses Karstifikasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Kars<span> </span>adalah sebutan umum yang digunakan untuk suatu kawasan dimana batuan penyusunnya adalah batu gamping yang telah mengalami proses pelarutan. Batu gamping bersifat karbonatan (mengandung CaC03) sehingga mudah terlarut oleh air hujan yang mengandung asam. Dikatakan kawasan <em>kars</em> apabila batugamping tersebut telah mengalami proses kartisifikasi. Kartisifikasi merupakan serangkaian proses mulai dari terangkatnya batu gamping ke permukaan bumi akibat proses endogen serta terjadi proses pelarutan di dalam ruang dan waktu geologi hingga akhirnya menghasilkan bentukan<span> </span>lahan <em>kars</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV"><span> </span>Proses pelarutan oleh air hujan di permukaan menghasilkan bentang alam <em>eksokars</em> yang khas, yakni karren atau lapies, bukit kerucut (<em>conical hill</em>), menara <em>kars</em> (<em>kars tower</em>), lembah/topografi negatif di antara sekumpulan bukit kerucut (<em>doline</em>), telaga <em>kars</em>, sungai periodik yang berujung pada mulut gua vertikal (<em>sinkhole</em>), lubang air masuk (<em>ponour</em>), sungai permukaan hilang masuk ke mulut gua (<em>shallow hole</em>), dan lembah-lembah tidak teratur yang buntu (<em>blind Valey</em>). Selanjutnya, proses pelarutan berkembang ke bawah permukaan menghasilkan bentukan di bawah permukaan (<em>endokars</em>). Proses tersebut menghasilkan jaringan lorong-lorong komplek dengan jenis dan ukuran bervariasi membentuk sistem perguaan (<em>cave sistem</em>) atau sistem sungai bawah tanah.</span><a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IT"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IT">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span><strong><span lang="SV">3.2. </span></strong><strong><span lang="IN">Fisiografi &amp; Geomorfologi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Berdasarkan pengklasifikasian fisiografi Jawa (Bemmelen, 1949) tersebut maka Kawasan Kars Sukolilo Pati terletak pada pegunungan Kendeng (antiklinorium Bogor – Serayu Utara &#8211; Kendeng).<span> </span>Tepatnya pada Pegunungan Kendeng Utara yang merupakan lipatan perbukitan dengan sumbu membujur dari arah Barat – Timur dan sayap Lipatan berarah Utara – Selatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Morfologi Kawasan Kars Sukolilo Pati secara regional merupakan komplek perbukitan kars yang teletak pada struktur perbukitan lipatan. Setelah perlipatan mengalami proses pelarutan, pada bagian puncak perbukitan Kars di permukaan (<em>eksokars</em>) ditemukan morfologi bukit-bukit kerucut (<em>conical hills</em>), cekungan-cekungan hasil pelarutan (<em>dolina</em>), lembah-lembah aliran sungai yang membentuk mulut gua (<em>Sinkhole</em>), mata air dan telaga kars ditemukan pada bagian bawah tebing. Morfologi bawah permukaan (<em>endokars</em>) kawasan kars tersebut terbentuk morfologi sistem perguaan dan sungai bawah tanah. Pada bagian Utara dan Selatan batas akhir batuan kapur/ batugamping merupakan dataran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Ketinggian tertinggi komplek perbukitan kars ini antara 300 &#8211; 530 mdpl.<span> </span>Bagian Selatan dari perbukitan tersebut terdapat tebing yang memanjang dari Barat – Selatan dengan kemiringan lereng tegak hingga atau curam. Bagian ini merupakan blok struktur patahan dari komplek Perbukitan Kars Sukolilo Pati yang terbentuk saat proses pengangkatan Pegunungan Kendeng Utara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span><strong><span lang="SV">3.3.<span> </span>Geologi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Stratigrafi kawasan Kars Kendeng Utara masuk kedalam Formasi Bulu dengan batuan penyusun (litologi) batu gamping masif yang mengandung koral, alga dan perlapisan batugamping yang juga mengandung foram laut berupa koral, orbitoid dan alga. Sesekali diselangselingi oleh Batupasir Kuarsa bersifat karbonatan. Formasi Bulu penyusun kawasan Kars Grobogan ini terbentuk pada masa Meosen Tengah – Meosen Atas, terbentuk 25 juta tahun yang lalu berdasarkan skala waktu geologi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Struktur geologi yang berkembang di Kawasan Kars Sukolilo adalah struktur sinklinal. Pada bagian Formasi Bulu yang menjadi kawasan kars merupakan bagian dari sinklin dengan arah sayap lipatan Utara – Selatan. Sumbu sinklin terdapat pada bagian puncak komplek perbukitan kars yang memanjang dari Beketel hingga wilayah Wirosari, perbatasan dengan Blora. Terdapat juga struktur patahan yang berarah relatif Timur Laut – Barat Daya. Kondisi struktur geologi demikian menyebabkan batugamping sebagai batuan dasar penyusun formasi Kars Sukolilo Pati memiliki banyak rekahan, baik yang berukuran minor maupun mayor. Rekahan-rekahan ini merupakan cikal bakal pembentukan dan perkembangan sistem perguaan di kawasan kars setelah mengalami proses pelarutan dalam ruang dan waktu geologi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span><strong><span lang="SV">3.4. Speleologi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Mulut-mulut gua di kawasan ini tersingkap dengan 2 tipe. </span><span lang="FI">Yaitu tipe runtuhan dan pelarutan dari permukaan. Tipe runtuhan umumnya membentuk mulut gua vertikal, Contohnya Gua Kembang, Dusun. Wates, Gua Lowo Misik, Gua Kalisampang, Gua Tangis, Gua Telo, Gua Ngancar, dan<span> </span>Sumur Jolot Dusun Kancil, Desa Sumber Mulyo Pati. Tipe ini memiliki karakter banyak terdapat bongkahan batuan yang runtuh dari atap lorong, hal ini merupakan bukti bahwa sistem gua ini terbentuk pada jalur rekahan yang relatif lemah sehingga batuan dasarnya labil dan mudah lepas. </span><span lang="SV">Disamping itu juga akan di temukan lorong-lorong yang berkelok-kelok seperti retakan batuan. Bukti lain kalau kontrol struktur mempengaruhi pembentukan gua dapat dilihat pada penjajaran ornamen gua di atap-atap yang terbentuk dari hasil pengendapan karbonat hasil pelarutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Selain kontrol struktur yang dominan di Kawasan Kars Sukolilo Pati dalam pembentukan sistem perguaannya, proses pelarutan yang berasal dari air permukaan juga terdapat di kawasan ini. Dapat di jumpai di beberapa gua yang mulutnya terdapat di dasar-dasar lembah, Seperti pada Gua Urang, Dsn. Guwo, Kemadoh Batur, Grobogan Gua Bandung, Gua Serut, Gua Gondang dan Gua Banyu Desa Sukililo dan Gua Wareh Desa Kedungmulyo, Kecamatan Sukolilo serta Gua Pancur di Kecamatan Kayen. Pada musim hujan mulut-mulut gua tersebut merupakan jalur sungai periodik yang masuk kedalam gua dan juga sebagai sungai utama yang keluar dari dalam gua. Pada umumnya gua-gua horizontal di kawasan ini berkembang mengikuti pola perlapisan batuan dasarnya dengan kemiringan lapisan ke arah Utara sehingga akumulasi sungai-sungai permukaan akan terpusat pada daerah-daerah bawah yang keluar melalui mata air ataupun mulut-mulut gua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Selama proses karstifikasi berlangsung, sistem hidrologi mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pembentukan sistem-sistem perguaan yang terakumulasi pada zona jenuhnya menjadi aliran bawah permukaan atau sungai bawah permukaan. Gua menjadi corridor sistem penghubung antara proses-proses eksokars di permukaan dan endokars dibawah permukaan. Corridors adalah suatu struktur fungsional pada bentanglahan, adanya corridors menjadi dasar untuk mencegah fragmentasi menjadi kepingan atau sebaliknya untuk meningkatkan penetrasi dari makhluk asing. Corridors adalah suatu fungsi struktur dalam satu bentuklahan. Corridors dapat terbentuk oleh topografi seperti adanya siklus hidrologi seperti lapisan sungai, oleh manusia seperti pada kasus pembukaan hutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">3.5. Hidrogeologi Kars </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Pola hidrogeologi Kawasan Kars Sukolilo Pati secara regional adalah pola aliran paralel dimana terdapat penjajaran mataair dan mengikuti struktur geologi yang ada. Pola aliran seperti ini merupakan cerminan bahwa pola aliran sungai di Kawasan Kars Sukolilo Pati dipengaruhi oleh struktur geologi yang berkembang. Sungai-sungai yang mengalir dibagi menjadi dua zona, yaitu zona aliran Utara dan zona aliran Selatan. Baik zona Utara maupun Selatan adalah sungai-sungai yang muncul dari rekahan batugamping kawasan tersebut atau <em>Kars Spring</em> dengan tipe mata air kars rekahan (<em>fracture springs).</em><span> </span>Terbentuknya mataair rekahan tersebut akibat terjadinya patahan pada blok batugamping di kawasan ini saat proses pengangkatan dan perlipatan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Zona ditemukannya penjajaran mata air tersebut merupakan batas zona jenuh air di Kawasan Kars Sukolilo Pati. Pada Zona Utara pemunculan mata air kars berada pada daerah-daerah berelief rendah hingga dataran dengan kisaran ketinggian 20 &#8211; 100 mdpl dan pada Zona Selatan muncul pada ketinggian antara 100 &#8211; 350 mdpl. Bukti lain bahwa proses karstifikasi kawasan ini masih berlanjut dan masih merupakan fungsi hidrologis adalah ditemukannya sungai-sungai bawah permukaan yang keluar sebagai aliran permukaan melalui corridor-corridor mulut gua yang ada pada daerah Sukolilo. Bukti ini dapat dilihat dari sungai bawah tanah yang terdapat di Gua Wareh, Gua Gua Gondang, Gua Banyu dan Gua Pancuran. Keempat gua tersebut merupakan sistem perguaan sekaligus sistem sungai bawah tanah yang masih aktif. Fenomena tersebut memberikan gambaran bahwa perbukitan Kawasan Kars Sukolilo Pati berfungsi sebagai kawasan resapan air (<em>recharge area</em>), kemudian air resapan tersebut terdistribusi keluar melalui mata air-mata air<span> </span>yang bermunculan di bagian permukiman dan di daerah-daerah dataran sekitar Kawasan Kars Pati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IN">Dalam Kawasan Kars Kendeng ini terdapat 33 sumber mata air yang mengelilingi Kawasan Kars Grobogan dan 79 sumber mata air yang mengelilingi Kawasan Kars Sukolilo Pati (Kendeng utara). Keseluruhan mata air tersebut bersifat <em>parenial</em> artiya terus mengalir dalam debit yang konstan meskipun pada musim kemarau. Berikut ini daftar mata air hasil survey di kawasan Kars Grobogan (Kendeng Utara). Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa pemunculan air di sepanjang musim selalu berubah. Pada musim kemarau berdasarkan perhitungan dari 38 sumber air yang ada di kawasan Sukolilo mencapai lebih dari 1000 lt/dtk, dan mencukupi kebutuhan air lebih dari 7882 KK yang ada di Kecamatan Sukolilo. Perhitungan ini akan lebih meningkat drastis pada saat musim hujan. </span><span lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV"> 3.7. Fungsi Kawasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Kawasan Kars Sukolilo memiliki fungsi utama sebagai fungsi hidrologi, yang berguna bagi kelangsungan sistem ekosistem yang ada di kawasan kars. Banyaknya outlet-outlet mataair yang keluar menunjukkan bahwa Kawasan Kars Sukolilo merupakan kawasan kars aktif yang telah dan sedang mengalami proses karstifikasi. Keberadaan air yang melewati sungai-sungai bawah permukaan dan sumber-sumber air sangat memberikan peranan penting terhadap setiap aset-aset kehidupan dan penghidupan yang ada di kawasan kars baik oleh biota-biota yang ada di dalam gua, flora dan fauna yang ada di purmukaan dan manusia sebagai komponen utama yang berperan penting dalam suatu ekosistem. Perbukitan batugamping kawasan ini memiliki sifat-sifat kawasan karst. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Ciri-ciri penting bentukan bukit dan lembah yang khas akibat proses-proses pelarutan, terdapat gua-gua, aliran sungai bawah permukaan, dan mataair. Air hujan yang jatuh di perbukitan, akan meresap ke dalam tanah, masuk ke rekahan-rekahan dan pori-pori batugamping menjadi aliran konduit. Selanjutnya, air mengalir ke tempat yang lebih rendah melalui rekahan-rekahan dan kemiringan lapisan batuan yang membentuk lorong-lorong gua, menjadi aliran sungai bawah permukaan. Hingga akhirnya, air akan muncul lagi ke permukaan tanah di tempat yang lebih rendah menjadi mataair</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Fisik dan struktur geologi perbukitan ini, dengan sempurna telah menyimpan dan memelihara air, dalam jumlah dan masa tinggal yang ideal. Sehingga dapat mencukupi kebutuhan air bagi warga setempat di musim kemarau sampai datangnya musim hujan berikutnya. “Kemampuan bukit karst dan mintakat epikarst pada umumnya telah mampu menyimpan tiga hingga empat bulan setelah berakhirnya musim penghujan, sehingga sebagian besar sungai bawah tanah dan mataair mengalir sepanjang tahun dengan kualitas air yang baik.”(Haryono. 2001).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span> </span>Mata air epikarst, menurut studi Linhua (1996), dikenal mempunyai kelebihan dalam hal:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.1pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Kualitas air. Air yang keluar dari mataair epikarst sangat jernih karena sedimen yang ada sudah terperangkap dalam material isian atau rekahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.1pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>2. <span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Debit yang stabil. Mataair yang keluar dari mintakat epikarst dapat mengalir setelah 2-3 bulan setelah musim hujan dengan debit relatif stabil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.1pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Mudah untuk dikelola. Mataair epikarst umumnya muncul di kaki-kaki perbukitan, sehingga dapat langsung ditampung tanpa harus memompa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Kawasan karst ini menjadi sebuah tandon air alam raksasa bagi semua mataair yang terletak di kedua kabupaten tersebut. Akifer yang unik menyebabkan sumberdaya air di kawasan karst terdapat sebagai sungai bawah permukaan, mataair, danau dolin/telaga, dan muara sungai bawah tanah <em>(resurgence). </em>Kawasan karst disinyalir merupakan akifer yang berfungsi sebagai tandon terbesar keempat setalah dataran aluvial, volkan, dan pantai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Selain potensi sumber daya air, sebagian gua di kawasan karst Kendeng Utara Pati merupakan tempat tinggal bagi komunitas kelelawar. Kelelawar sangat berperan dalam mengendalikan populasi serangga yang menjadi hama dan vektor penyebaran penyakit menular.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span><strong><span lang="SV">3.8. Pemanfaatan Sumberdaya Air</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV"><span> </span></span></strong><span lang="SV">Sumberdaya air di kawasan kars merupakan aset berharga bagi masyarkat sekitar kawasan kars. Hampir seluruh masyarakat di kawasan Kars Kendeng Utara meliputi; kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo Kabupaten Pati memanfaatkan sumber-sumber air yang berasal dari kawasan Kars Sukolilo, karena 90% suplai air berasal dari Kawasan Kars Kendeng Utara. Hampir setiap dusun yang berada Desa Sukolilo (19 mataair), Desa Gadudero (3 mataair), Desa Tompe Gunung (21 mataair), Desa Kayen (4 mataair), Desa Kudumulyo (1 mataair), Desa Mlawat (1 mataair), Desa Baleadi (3 mataair), Desa Sumbersuko (24 mataair) yang ada di Kecamatan Sukolilo memiliki sumber-sumber mataair yang memiliki debit aliran bervariasi dari 1 liter/detik hingga 178,90 liter/detik. Sumber air yang terbesar di kecamatan Sukolilo adalah Sumber lawang yang terletak di Dusun Tengahan, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo dengan debit aliran di musim kemarau 178,90 liter/detik. Sumber ini mampu memenuhi kebutuhan air lebih dari 2000 KK di Kecamatan Sukolilo, karena sumber ini merupakan sumber utama yang aliran permukaannya bergabung dengan beberapa sumber air yang ada di sekitarnya sehingga menjadi sungai permukaan yang memiliki aliran terbesar dan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti ; mencuci, MCK, ternak, kebutuhan dasar sehari-hari dan sebagai saluran irigasi untuk lebih dari 4000 hektar areal persawahan di Desa Sukolilo. Selain itu juga Sumber Lawang juga telah dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik mikrohidro untuk memenuhi kebutuhan listrik di Dusun Tengahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Dari beberapa mataair yang ada di Kecamatan Sukolilo, debit aliran terkecil yaitu 0,06 liter/detik, yaitu Sumber Ngowak di Dusun Tompe Gunung, Desa Tompe Gunung, Kecamatan Sukolilo. Debit ini belum termasuk dengan aliran pipa yang sudah dimanfaatkan pada sumber ini. Dari sumber ini mampu memenuhi kebutuhan air bagi 40 KK yang ada di sekitar Dusun Tompe Gunung. Setiap sumber air yang ada di Kawasan Kars Sukolilo mampu memenuhi rata-rata kebutuhan air masyarakat lebih dari 200 KK di setiap dusun atau desa Pemanfaatan air per hari untuk 1 orang sekitar 15-20 liter, dapat dihitung jika 1 KK memanfaatkan air untuk kebutuhan sehari-hari bisa mencapai 100 liter. Hal ini dapat menunjukkan bahwa sumberdaya air yang ada di kawasan Kars Sukolilo melebihi kapasitas kebutuhan air masyarakat, dan yang lainnya juga dimanfaatkan sebagian besar untuk lahan-lahan pertanian dan peternakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span><strong>3.9. Kesimpulan </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berdasarkan hasil kajian dapat ditarik kesimpulan :</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.95pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Wilayah perbukitan pada kawasan Kendeng Utara merupakan kawasan Kars. Geomorfolgi Kawasan Kars Sukolilo adalah Perbukitan Kars Struktural dengan morfologi permukaan (<em>eksokars)</em> berupa bukit kerucut yang menjajar (<em>conical hills</em>), Tebing patahan yang memanjang, Lembah-lembah hasil pelarutan (<em>dolina</em>) dan mataair kars (<em>kars spring</em>). Morfologi bawah permukaan (<em>endokars</em>) ditemukan sistem perguaan struktural dan sungai bawah tanah yang berkembang mengikuti pola rekahan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.95pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>2. </span><!--[endif]-->Pola aliran (sistem hidrologi) yang berkembang adalah pola pengaliran paralel yang dikontrol oleh struktur geologi yang ada dikawasan tersebut. Penjajaran mata air kars pada bagian Utara dan Selatan perbukitan kars Sukolilo, muncul pada ketinggian kisaran 5 -150 mdpl radius 1 – 2<span> </span>km dari perbukitan kars Sukolilo. Mata air dan sistem sungai bawah tanah di Kawasan Kars Sukolilo bersifat parennial (mengalir sepanjang musim). Fungsi hidrologi di kawasan ini merupakan pengontrol utama sistem ekologi yang meliputi hubungan antara-komponen-komponen abiotik (tanah, batuan, sungai, air, dll), biotik (biota-biota gua serta flora dan fauna yang ada di kawasan kars), dan culture (lingkungan sosial, masyarakat, kebudayaan, dan adat istiadat) yang berinteraksi antara satu dengan yang lainnya membentuk suatu ekosistem dimana kars sebagai kontrol utamanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.95pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="DE"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Perbukitan Kawasan Kars Sukolilo berfungsi sebagai daerah resapan dan penyimpan air untuk mataair–mata air yang mengalir di pemukiman, baik dibagian Utara maupun bagian Selatan Kawasan ini. Komplek perguaan kawasan Kars Grobogan memiliki potensi sumber daya air untuk kebutuhan dasar 8.000 rumah tangga serta 4.000 ha lahan pertaniaan sebagai sumber penghidupan mereka. <span lang="DE">Pola permukiman di kawasan tersebut semuanya mendekati pemunculan mata air-mata air, terutama pada bagian-bagian atas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.95pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="DE"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="DE">Berdasarkan hasil kajian dari fakta-fakta lapangan mengenai potensi dan kerberlangsungan fungsi utama kawasan kars grobogan, maka Kawasan Kars Pati – Kawasan Kars Grobogan<span> </span>masuk dalam klasifikasi Kawasan Kars Kelas 1 menurut Kepmen ESDM NO. 1456/K/20/MEM/2000 pasal 12.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="DE">3.10. Rekomendasi</span></strong></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span lang="DE">Kawasan Kars Sukolilo merupakan kawasan penyimpan air bagi seluruh      mata air kars di Pati dan Grobogan, sehingga Pemerintahan Kabupaten      Grobogan dan Kabupaten Pati perlu menetapkan kawasan ini sebagai kawasan      kars yang dilindungi agar fungsinya tetap terjaga sehingga risiko bencana      kekeringan bagi 8000 kk dan 4000 ha lahan pertanian di kemudian hari dapat      dihindari.</span><span lang="SV"></span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="DE">Perlu dilakukan eksplorasi bawah pemukaan untuk memetakan      sistem-sistem perguaan dan sisten-sistem sungai bawah permukaan di Kawasan      Kars Sukolilo seperti yang sudah dilakukan di Kawasan Kars Grobogan untuk      menemukan hubungan sistem-sistem utama Kawasan Kars Kendeng Utara.</span><a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IT"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IT">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="SV"></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="SV">IV. PROBLEM AMDAL DAN KAJIAN VALUASI EKONOMI</span></strong><strong><span lang="SV"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Di bawah ini adalah tulisan Andreas Lako, Dosen Akuntasi Sosial dan Lingkungan; Dekan Fakultas Ekonomi UNIKA Soegijapranata Semarang yang diberi judul ”<strong>Bolehkah Sukolilo Dijual (Dibeli)?</strong>”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">4.1. Latar Masalah:</span></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan<span> </span>Hidup (AMDAL) yang dilakukan PT Semen Gresik (SG) bekerjasama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Pusat Penelitian Universitas Diponegoro<span> </span>terkait rencana pembangunan prabrik semen PT SG di Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Jawa Tengah telah selesai. Hasilnya, berupa dokumen hasil Analisis Dampak Lingkungan<span> </span>Hidup (ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) sudah diterbitkan untuk kalangan terbatas pada November 2008. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hasil ANDAL menyimpulkan bahwa <em><span style="text-decoration:underline;">rencana kegiatan<span> </span>pembangunan pabrik semen PT SG di Sukolilo Pati dapat menurunkan prosentase kualitas lingkungan dan dapat menimbulkan perubahan skala kuliatas lingkungan hidup (LH).</span></em> Namun, rekomendasi kelayakannya justru menyatakan bahwa: <strong>LAYAK LINGKUNGAN BERSYARAT. </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong><span lang="IN">Rekomendasi tersebut bermakna: <em>Pertama</em>, <span> </span>PT SG bisa diijinkan<span> </span>membangun pabriknya di Sukolilo dengan syarat harus memperhatikan dampak kumulatif terhadap komponen geofisik kimia, biologi, sosial, kesehatan masyarakat, dan komponen lingkungan.<em> </em>Kedua, dampak-dampak positif dari pembangunan PT SG di Sukolilo hanya akan bisa<span> </span>dicapai dan dinikmati masyarakat dan lingkungan setempat dan sekitarnya <span> </span><strong><span style="text-decoration:underline;">jika dan hanya jika</span></strong> PT SG melaksanakan rencana pengelolaan dengan baik sesuai rekomendasi dalam RKL dan pemerintah Pati melakukan pemantauan secara efektif seperti direkomendasi dalam RPL.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN"></span></em><span lang="IN">Dalam RKL dan RPL diatur rencana pengelolaan lingkungan hidup oleh perusahaan dan rencana pemantauan pengelolaannya oleh Pemda Pati. Komponen yang diatur dan akan dipantau meliputi komponen geofisik-kimia, komponen biologi, komponen sosial dan komponen kesehatan masyarakat baik pada tahap kegiatan penambangan maupun pada tahap kegiatan pembangunan pabrik semen dan jalan produksi. Hal-hal yang direncanakan dan dipantau meliputi: <em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="IN">Pada komponen geofisik-kimia mencakup<span> </span>tingkat kebisingan, kuantitas dan kualitas air permukaan, morfologi dan stabilitas medan, tata guna lahan, estetika benteng alam,<span> </span>kapasitas pelayanan lalulintas dan keadaan fisik jalan.<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="IN">Pada komponen biologi mencakup flora darat, fauna darat, bakteri air, plankton dan makrobenthos.<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="IN"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="IN">Pada komponen sosial mencakup: persepsi negatif dan keresahan masyarakat, proses social, kecemburuan, sikap dan persepsi masyarakat, kenyamanan, sikap dan persepsi masyarakat,<span> </span>sikap dan persepsi masyarakat, <em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="IN"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="IN">Pada komponen kesehatan masyarakat meliputi pola penyakit dan<span> </span>sanitasi lingkungan.<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> Dari sisi prosedural AMDAL tampak pekerjaan AMDAL yang dilakukan PPLH Undip sudah sesuai prosedur sehingga kesimpulan dan rekomendasi yang diberikan layak dipertimbangkan. Namun, menyimak komponen-komponen, indikator-indikator dan desain yang digunakan dalam AMDAL, hasil dan rekomendasinya patut diragukan akurasinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">4.2. Pertanyaan krusial</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dengan adanya rekomendasi ANDAL yang menyatakan ”<strong>Layak Lingkungan Bersyarat</strong>” maka pertanyaan krusialnya adalah: Apakah Pemda Pati dan <span> </span>Pemprov Jateng sudah bisa mengijinkan PT SG membangun pabrik semennya di Sukolilo?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Jawabnya:<span> </span>Belum! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Mengapa?</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Kelayakan      hasil AMDAL Sukolilo masih harus dinilai Komisi Penilai AMDAL yang terdiri      dari unsur pemerintah dan unsur-unsur masyarakat yang terkena dampak      sehingga belum tentu diijinkan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Rekomendasi      ANDAL bukanlah satu-satunya ”kartu AS” untuk melegalkan pemerintah      memperbolehkan atau tidak memperbolehkan berdirinya suatu perusahaan di      suatu lokasi lingkungan. Dari perspektif etika bisnis, diperlukan      persetujuan langsung yang ”jujur” dari masyarakat yang terkena dampak      langsung atau tidak langsung dan pihak-pihak kompeten untuk menerimanya (<em>willingness to accept</em>).</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Masih      perlu dilakukan suatu studi empiris yang mendalam dan jujur untuk      menyajikan<span> </span>fakta-fakta tentang dampak-dampak      positif dan negatif terhadap masyarakat dan lingkungan secara longitudinal      (jangka waktu yang panjang) yang telah ditimbulkan PT SG dan sejumlah      perusahaan semen lainnya di Indonesia selama ini. Bukti-bukti empiris dari      sejumlah negara juga perlu disertakan untuk memberikan gambaran yang utuh      tentang dampak sosial-ekologis kepada masyarakat. Hasil studi empiris      tersebut perlu disosialisasikan secara jujur dan transparan kepada      masyarakat setempat, pemerintah dan publik untuk pertimbangan dalam      bersikap dan mengambil keputusan apakah mengijinkan atau tidak mengijinkan      PT SG mendirikan pabriknya di Sukolilo.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">4.3. Permasalahan krusial</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="IN">Hasil analisis dan rekomendasi ANDAL dari PPLH Undip bisa diragukan kewajaran atau kejujurannya oleh masyarakat. Hal ini disebabkan PPLH Undip bekerja atas kepentingan atau atas permintaan (dibayar) dari PT SG selaku pemrakarsa pembangunan pabrik semen di Sukolilo sehingga bisa diragukan independensinya. Karena itu, jika masyarakat meragukan atau tidak percaya dengan “kewajaran dan netralitas” hasil AMDAL PPLH Undip-PT SG maka bisa dibentuk tim AMDAL independen untuk menilai tingkat kelayakan, keakuratan dan kevalidan hasil AMDAL PPLH Undip-PT SG.Tim ANDAL independen bisa dibentuk atas permintaan masyarakat yang kontra dengan rencana pembangunan pabrik atau kelompok masyarakat independen, misalnya dari perguruan tinggi dan LSM.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="IN"> <span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="IN">Hasil dan rekomendasi AMDAL Undip-PT SG diduga tidak akurat dan bahkan mungkin menyesatkan sehingga perlu dikaji ulang oleh tim independen yang kompeten. Dari empat komponen yang dianalisis, yaitu fisik-kimia, biologi, sosial, ekonomi dan budaya, dan kesehatan masyarakat, hanya komponen sosial, ekonomi dan budaya yang mendapat skor positif 4,90%. Sementara skor tiga komponen lainnya adalah<span> </span>minus yang bermakna terjadi penurunan kualitas lingkungan. Khusus untuk komponen sosial, ekonomi dan budaya, yang diukur hanya hal-hal yang bersifat jangka pendek atau pragmatis misalnya kesempatan kerja, pendapatan asli daerah (PAD), peluang berusaha, sarana dan prasarana. Sementara potensi masyarakat akan kehilangan lapangan pekerjaan akibat hilangnya lahan pertanian, tingginya tingkat kemiskinan dan kematian selama dan pasca perusahaan beroperasi, besarnya PAD yang terkuras untuk biaya pemulihan lingkungan pasca perusahaan beroperasi, rusaknya sarana dan prasarana akibat aktivitas ekonomi perusahaan dan masih banyak lagi yang bersifat jangka panjang tidak diperhitungkan. Yang lebih parah lagi, dalam pengukuran komponen sosial-budaya, besaran nilai kecemburuan sosial dan pemberdayaan masyarakat justru positif yang bermakna akan meningkatkan kualitas lingkungan. Ini aneh karena sejumlah bukti empiris menunjukkan kecemburuan dan gejolak sosial justru meningkat signifikan pasca perusahaan yang mengeksploitasi sumberdaya alam dan lingkungan berdiri. Pemberdayaan masyarakat setempat juga hanya slogan semata. Rusaknya ekosistem dan hilangnya sumber penghidupan (air) bagi masyarakat di 10 kecamatan dari generasi ke generasi apabila PT SG berdiri tidak diperhitungkan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="IN"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="IN">Laporan Hasil AMDAL per November 2008 yang diterbitkan Direktur Litbang &amp; Operasional PT </span>SG<span lang="IN"> mengandung sejumlah keterbatasan (kelemahan) yang serius:</span></p>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="IN"><span></span></span><span lang="IN">Laporan tersebut memperlakukan lingkungan hidup, ekosistem dan masyarakat Sukolilo sebagai ”obyek penderita” yang dianalisis dan akan dijadikan ”komoditas transaksi ekonomi’ antara PT SG dan Pemda Pati yang dianggap sebagai subyek pelaku. Meski secara prosedural AMDAL mungkin benar, namun secara moral dan etika<span> </span>lingkungan perlakuan tersebut salah kaprah karena dalam proses studi kelayakan dan tawar-menawar<span> </span>berdirinya suatu perusahaan di suatu lokasi/daerah, subyek pelakunya adalah masyarakat ”calon korban”<span> </span>dan perusahaan. Sementara pemerintah seharusnya berperan sebagai mediator, fasilitator dan pengayom, bukan sebagai pemilik wilayah yang bisa menjual/membeli semaunya.<span> </span></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="IN"><span></span></span><span lang="IN">Dalam Laporan RKL dan RPL sama sekali tidak terlihat bagaimana keterlibatan aktif masyarakat ”korban”<span> </span>dalam proses perencanaan, pemantauan, evaluasi dan umpan-balik terhadap kinerja sosial dan lingkungan PT SG pada setiap tahapan yang akan dilalui. Padahal, partisipasi aktif dari masyarakat dalam setiap tahapan perencanaan, pembangunan, pemantauan, evaluasi, pengendalian dan umpan-balik kinerja lingkungan dari suatu perusahaan merupakan persyaratan mutlak yang perlu dipertimbangkan.</span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="IN"><span></span></span><span lang="IN">Dalam laporan ANDAL tidak terlihat hasil valuasi ekonomi terhadap<span> </span>nilai atau harga ”aset lingkungan Sukolilo” yang akan dieksploitasi SG. Pengabaian tersebut memberi kesan seolah-olah ”aset lingkungan” Sukolilo tidak memiliki harga ekonomis yang tinggi sehingga biarlah kekuatan pasar, terutama kekuatan atau kesediaan membayar (<em>willingness to pay</em>) dari PT SG, yang menentukan harganya. Padahal, keinginan menggebu-gebu PT </span>SG<span lang="IN"> untuk segera mendirikan pabriknya di Pati karena menilai potensi nilai ekonomis yang akan diperoleh<span> </span>perusahaan dari aset lingkungan Sukolilo sangat besar atau bisa mendongkrak nilai aset dan laba perusahaan dalam jangka panjang.<span> </span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span><strong><span lang="IN">4.4. Problema Dampak dan Manfaat ekonomi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> Dalam Laporan ANDAL (Bab 1) memang telah dipaparkan dampak dan manfaat yang bakal timbul jika PT SG jadi mendirikan pabriknya di Sukolilo (lihat tabel berikut).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="border:medium none;width:441pt;margin-left:14.4pt;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="588">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:225pt;padding:0 5.4pt;" width="300" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:9pt;"><strong><span lang="IN">Dampak</span></strong></p>
</td>
<td style="width:216pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Manfaat</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:225pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="300" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-align:justify;text-indent:-12.6pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">1. Debu   yang keluar dari cerobong</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-align:justify;text-indent:-12.6pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">1. Mengoptimalkan   pemanfaatan sumberdaya alam batu kapur dan tanah liat sebagai bahan baku   semen</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:225pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="300" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-align:justify;text-indent:-12.6pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">2.   Penggunaan lahan yang luas</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-align:justify;text-indent:-12.6pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">2.   Memenuhi kebutuhan semen dalam negeri</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:225pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="300" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-align:justify;text-indent:-12.6pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">3.   Kebutuhan energi listrik yang cukup besar</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-align:justify;text-indent:-12.6pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">3.   Meningkatkan pendapatan asli daerah</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:225pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="300" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-align:justify;text-indent:-12.6pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">4.   Kebutuhan energi panas yang cukup besar</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-align:justify;text-indent:-12.6pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">4.   meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan sarana dan   prasarana wilayah, kesempatan kerja dan kesempatan berusaha</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:225pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="300" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-align:justify;text-indent:-12.6pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">5.   Kebutuhan tenaga kerja yang besar</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-align:justify;text-indent:-12.6pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:225pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="300" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-align:justify;text-indent:-12.6pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">6.   Potensi berbagai jenis limbah: padat, debu, limbah cair, limbah gas dari   pembakaran batubara, minyaa dan gas</span></p>
</td>
<td style="width:216pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-align:justify;text-indent:-12.6pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:225pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="300" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-align:justify;text-indent:-12.6pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">7.   Berpotensi mengganggu sistem geohidrologi dan topografi karst, dampak sosial,   ekologi, perubahan morfologi dan fisiografi, kestabilan lahan, lalulintas dan   proses alamiah di kawasan karst. </span></p>
</td>
<td style="width:216pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="288" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.6pt;text-align:justify;text-indent:-12.6pt;"><span style="font-size:10pt;" lang="IN"> </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span><em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari sejumlah dampak yang ditunjukkan, tampak bahwa dampak 1-5 lebih berorientasi pada konsekuensi ekonomi yang bakal ditanggung perusahaan yang bisa berpotensi menurunkan laba perusahaan. Hal ini sungguh aneh karena yang ditunjukkan seharusnya sejumlah konsekuensi negatif yang bakal ditanggung penduduk setempat dan pemerintah. Sementara dampak 6-7 sudah memaparkan potensi risiko berkelanjutan yang bakal ditanggung masyarakat dan pemerintah serta lingkungan bila pabrik semen </span><span style="font-size:11pt;" lang="IN">SG</span><span lang="IN"> jadi didirikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari sisi manfaat ekonomi yang ditunjukkan, terlihat manfaat 1-4 hanya bersifat normatif saja, sangat pragmatis dan lebih berorientasi pada kepentingan ekonomi jangka pendek. Manfaat 1-3 lebih berorietansi pada kepentingan negara dan daerah serta masyarakat luas daripada kepentingan masyarakat dan lingkungan setempat (yang akan mengorbankan hak hidup layak masyarakat Sukolilo). Sementara manfaat 4 lebih berorientasi pada kepentingan ekonomi masyarakat setempat dalam jangka pendek (10-20 tahun) sehingga sangat berpotensi mengorbankan kepentingan hak-hak hidup generasi-generasi berikutnya pasca operasi perusahaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Karena itu, menyimak kedangkalan paparan dampak dan manfaat yang disajikan dalam laporan ANDAL, maka harus dilakukan kajian yang mendalam secara ekonomi dan ekologi tentang potensi <em>costs-benefits</em> berkelanjutan yang bakal ditanggung dan dinikmati masyarakat dan lingkungan Sukolilo apabila pabrik semen </span><span style="font-size:11pt;" lang="IN">SG</span><span lang="IN"> beroperasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Fakta-fakta empiris menunjukkan bahwa di daerah-daerah<span> </span>yang terdapat banyak perusahaan pertambangan beroperasi, tingkat kemiskinan dan kematian masyarakat begitu tinggi,<span> </span>tingkat keresahan dan gejolak sosial begitu tinggi, menjadi sumber penyakit dan bencana alam, dan rusaknya ekosistem. Dan lebih penting lagi, pasca operasi perusahaan, pemerintah harus menyisihkan sekitar 5-20% APBN/APBD secara berkelanjutan untuk biaya pemulihan lingkungan yang tak pernah kunjung selesai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Singkatnya, manfaat ekonomi berupa peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) untuk meningkatkan APBD/APBN, kenaikan tingkat kesejahteraan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja hanya bisa dinikmati dalam satu atau dua generasi alias jangka pendek. Tapi setelah itu, justru mudarat berkepanjangan yang harus ditanggung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span><strong><span lang="IN">4.5. Valuasi ekonomi aset lingkungan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> Dalam teori ekonomi/akuntansi lingkungan, ada dua prinsip valuasi aset lingkungan (<em>hypothetical valuation</em><span>) yang biasa digunakan untuk memvaluasi nilai suatu aset lingkungan</span>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span></span><em><span lang="IN"></span>1. <strong>P</strong></em><strong>rinsip <em>willingness to pa</em>y (WTP):</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span>A</span></span> Batas atas nilai pasar suatu aset lingkungan<span> </span>didasarkan pada kemauan perusahaan untuk membayarnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span> </span>2. <strong>P</strong></em><strong>rinsip <em>willingness to accept</em> (WTA):</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span>A</span></span> Penentuan harga pasar suatu aset lingkungan didasarkan pada kemauan perusahaan untuk menerima harga yang ditawarkan pihak lain atau pihak lain (masyarakat, pemerintah) untuk menerima harga yang ditawarkan perusahaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berdasarkan prinsip <em>hypothetical valuation </em><span>tersebut<em>, </em></span>perusaahaan dan masyarakatlah yang berperan dominan menentukan berapa harga maksimal dari suatu aset lingkungan. Jika salah satu pihak tidak menyepakati atau tidak menerima harga yang ditawarkan, maka tidak terbentuk suatu level harga atau tidak terjadi proses jual-beli asset lingkungan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untuk menentukan berapa level harga yang optimal dan bisa disepakati, kedua belah pihak perlu memiliki basis teoritis, model valuasi, variabel-variabel ukuran, tolok ukur dan justifikasi yang sama. Peran pemerintah dalam proses valuasi tersebut adalah sebagai stimulator dan fasilitator atau “wasit” agar kedua pihak bisa melakukan valuasi dan menentukan harga aset lingkungan secara fair alias tidak curang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>4.6. Kesimpulan</strong></p>
<ul>
<li> <span lang="IN">Sukolilo      bisa dijual oleh masyarakat atau dibeli PT SG jika telah dilakukan:      1)<span> </span>hasil ANDAL, RPL dan RKL telah      disepakati bersama antara PT SG, masyarakat setempat (pro-kontra) dan      pemerintah; dan 2) valuasi ekonomi untuk menentukan harga pasar yang wajar      dan analisis <em>sustainable</em> <em>costs-benefits</em> yang berbasiskan      pada pilar lingkungan, sosial, ekonomi dan keadilan yang berkelanjutan. </span></li>
</ul>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Hasil      AMDAL PPLH Undip-PT SG yang merekomendasikan “Layak Lingkungan Bersyarat”      dengan merujuk pada nilai holistik ANDAL sebesar -0,54% (dari kisaran 1      hingga -1) patut diRAGUKAN keakuratan dan kevalidannya. Alasannya, banyak      variabel dampak negatif dari komponen sosial, ekonomi dan budaya, serta      kesehatan masyarakat yang tidak diperhitungkan dalam ANDAL. Apabila      diperhitungkan besar kemungkinan nilai holistiknya<span> </span>MENJADI lebih besar dari -1 sehingga      rekomendasinya adalah TIDAK LAYAK LINGKUNGAN.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Karena      Komisi Penilai AMDAL menjadi faktor penentu dalam menilai kelayakan hasil      AMDAL PPLH Undip-PT SG dan boleh atau tidak boleh diijinkannya PT SG      mendirikan pabrik di Sukolilo, maka tim Komisi Penilai AMDAL haruslah      independen, kompeten, punya integritas yang tinggi dan merupakan      representasi dari pihak-pihak yang berkepentingan langsung atau tidak      langsung. Hal ini dimaksudkan agar keputusan atau hasil penilaian yang      dihasilkan komisi ini bisa fair dan diterima masyarakat.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Dalam      menghadapi kasus pro-kontra rencana dibangunkannya pabrik semen PT SG di      Sukolilo (Pati), semua pihak, terutama pemerintah daerah, jangan      menempatkan pertimbangan ekonomi (dampak positif-negatif) sebagai “panglima      tertinggi” dalam berargumentasi dan mengambil keputusan. Alasannya, karena      dampaknya hanya bersifat jangka pendek, parsial dan seringkali lebih      banyak menimbulkan masalah daripada solusi. Pertimbangan utamanya harus      difokuskan pada dampak-dampak sosial-ekologi secara berkelanjutan yang      bakal timbul bila PT SG membangun pabriknya di Sukolilo karena sifatnya      adalah permanen, kolektif dan berkelanjutan. Kekeliruan dalam pengambilan      keputusan saat ini justru bisa menimbulkan penyesalan dan kutukan, menjadi      sumber malapetaka dan bisa mengakibatkan Pemda Pati dan Jateng kian      melarat di kemudian hari. Semoga tidak demikian.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="SV">V. BEBERAPA PELANGGARAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Setelah mempelajari sejumlah data dari beragam sumber, maka didapat informasi tentang beberapa pelanggaran berkaitan dengan rencana pendirin pabrik semen ini, sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span>Pertama</span></em></strong><em><span lang="SV">,</span></em><span lang="SV"> rencana pembangunan Semen Gresik tidak berdasarkan pada Peraturan Daerah Kabupaten Pati tentang Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah (RTRW) karena Rancangan Perda RTRW 2008- 2009 Kabupaten Pati masih dalam proses persetujuan Pemerintah Pusat.<span> </span></span><span>Perda RTRW Kabupaten Pati periode 2006-2007 telah kadaluarsa. Kondisi ini pastinya dipahami oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pati, tetapi yang menjadi ganjil adalah ketika Bupati Pati mengeluarkan Surat Bupati Pati No. 131/1814/2008 tanggal 17 April 2008 untuk dijadikan rujukan dalam menilai kesesuaian rencana kegiatan dengan tata ruang kabupaten dan membuat Semen Gresik dapat merealisasikan rencananya untuk membangun Semen Gresik di Kecamatan Sukolilo, Pati.<span> </span><strong>Padahal, Surat Bupati tidak memiliki kekuatan hukum sebagai pengganti Perda. </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 17.85pt;"><span lang="SV">Dalam Surat Bupati Pati tersebut dinyatakan bahwa:</span></p>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;"><span></span></span><span style="font-size:10pt;" lang="SV">Lokasi kawasan pertambangan golongan C terdapat di Kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Gabus, Pucakwangi, Dukuhseti, Tayu, Tlogowungu, Gembong, Cluwak, dan Gunungwungkal.</span><span style="font-size:10pt;"></span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;"><span></span></span><span style="font-size:10pt;" lang="SV">Kawasan peruntukan industri besar dan sedang terdapat di Kecamatan Margorejo, Pati, Juwana, Batangan, Sukolilo, Kayen, dan Gabus.</span><span style="font-size:10pt;"></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 17.85pt;"><span lang="SV">Berdasarkan</span><span> hal tersebut maka lokasi rencana kegiatan penambangan bahan baku di </span><span lang="SV">Kecamatan</span><span> Sukolilo sudah sesuai dengan<span> </span>butir satu, sedangkan rencana lokasi pabrik semen di Kecamatan Sukolilo sudah sesuai dengan butir kedua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-17.85pt;margin:6pt 0 .0001pt 17.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span>Kedua</span></em></strong><em><span lang="SV">,</span></em><span lang="SV"><span> </span>penetapan pegunungan Kendeng sebagai kawasan Karst jenis I, II, ataupun III belum memiliki dasar hukum.<span> </span>Semen Gresik hanya mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan, Departemen ESDM bekerjasama dengan Semen Gresik<span> </span>tentang kawasan karst Sukolilo tahun 2005. Namun demikian, di dalam KA ANDAL tersebut, hasil penelitian tersebut tidak menyebutkan golongan karst dari pegunungan Kendeng.</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 17.85pt;"><span lang="SV">Sementara hasil penelitian dari Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta (Bapak Eko Teguh Paripurno), Acintyacunyata Speleological Club (ASC), Yogyakarta (Dikky Mesah, AB Rodialfallah, Rikky Raimon, dkk), dan juga Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM tentang kajian potensi Kars Kawasan Sukolilo, Pati menyimpulkan bahwa k</span><span>awasan Kars Pati–kawasan kars Grobogan masuk dalam klasifikasi kars I menurut Kepmen ESDM no. 1456/K/20/MEM/2000 pasal 12.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 17.85pt;"><span>Selain itu perbukitan kawasan Kars Sukolilo berfungsi sebagai daerah resapan dan penyimpan air untuk mata air-mata air yang mengalir di pemukiman, baik di bagian Utara maupun bagian Selatan kawasan ini yang meliputi<span> </span>Pati dan Grobogan, sehingga Pemerintah di dua kabupaten ini seharusnya<span> </span>menetapkan kawasan ini sebagai kawasan Kars yang dilindungi agar fungsinya tetap terjaga sehingga resiko bencana kekeringan bagi 8000 kepala keluarga dan 4000 ha lahan pertanian di kemudian hari dapat dihindari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 17.85pt;"><span lang="SV">Pegunungan Kendeng Utara<span> </span>di Jawa Tengah<span> </span>ditetapkan oleh KepMen ESDM sebagai kawasan Kars Sukolilo yang meliputi tiga kabupaten: Kecamatan Sukolilo, Kecamatan Kayen, Kecamatan Tambakromo Kabupaten Pati; Kecamatan Grobogan, Kecamatan Brati, Kecamatan Tawang Harjo, Kecamatan Wirosari, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan; dan Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 17.85pt;"><span lang="SV">Di tiga kecamatan yang masuk dalam wilayah kabupaten Pati, yaitu Kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo, lebih dari 300.000 jiwa menggantungkan hidupnya pada mata air dari pegunungan kendeng untuk kebutuhan sehari-hari dan juga untuk pengairan lahan pertanian seluas lebih dari 30.000 hektar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><span lang="SV">Fakta lain</span></strong><span lang="SV">, d</span><span lang="SV">i luar hal teknis dan regulasi, aparat pemerintah daerah juga melakukan berbagai praktik intimidasi kepada masyarakat yang menolak rencana ini. Beberapa fakta bisa dilihat dalam beberapa pemberitaan media massa. Bupati Pati; Tasiman, SH bahkan berkali-kali mengeluarkan statement yang mengancam dan menuduh bahwa aksi-aksi penolakan ditumpangi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan bukan orang asli Pati. Tidak hanya itu, Bupati Pati; Tasiman juga mengancam kepada masyarakat yang menolak rencana pembangunan pabrik semen itu dengan istilah: <strong>Jangan membangunkan macan tidur!<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="SV">[5]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a>.</strong><span> </span>Ketua DPRD Pati; Sunarwi, SH juga menyatakan bahwa semua fraksi di DPRD Pati mendukung rencana pembangunan pabrik semen dan meminta masyarakat supaya tidak melakukan penolakan. Hapir semua statement yang dilontarkan oleh Pemkab (baik oleh bupati maupun staf-staf Pemkab) terkait dengan pro-kontra rencana pembangunan pabrik semen ini tidak ada yang mengindikasikan i’tikat baik kepada masyarakat yang kontra rencana pembangunan pabrik semen ini<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="SV">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. Pemkab juga tidak memiliki inisiatif untuk menemui dan membangun komunikasi kepada masyarakat yang kontra.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Menurut kesaksian masyarakat terkait dengan peran-serta pemerintah desa; apa yang dilakukan kepala desa dan perangkat desa tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Pemkab. Sekitar 95% kepala desa dan perangkat desa yang berada diwilayah yang masuk peta rencana pembangunan pabrik semen, disamping bersikap mendukung rencana itu juga melakukan intimidasi kepada masyarakat yang menolak. Sebagian mereka bahkan berperan sebagai makelar tanah untuk proyek ini. Bentuk intimidasi itu berupa pelarangan terhadap kegiatan-kegiatan yang dianggap mendukung penolakan rencana pabrik semen, menakut-nakuti warga yang tidak bersedia menjual tanahnya dengan berbagai modus, dan lain-lain<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="SV">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>.</span><span lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="SV">VI. DAMPAK YANG DITIMBULKAN</span></strong><strong><span lang="SV"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Dengan 2000 hektar lahan yang akan digunakan untuk pabrik Semen Gresik, jelas akan memunculkan dampak pada lingkungan maupun masyarakat sekitar. Dampak dari akan dikeprasnya pegunungan kapur dan diambilnya tanah liat untuk bahan baku semen akan mengakibatkan beberapa dampak sebagai berikut:</span></p>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;" lang="SV"><span></span></span><span lang="SV">Perubahan pada produktivitas, aktivitas produksi masyarakat setempat.</span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;" lang="SV"><span></span></span><span lang="SV">Perubahan fungsi lahan-lahan pertanian menjadi daerah hunian dan berbagai macam bangunan.</span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;" lang="SV"><span></span></span><span lang="SV">Perubahan fungsi lahan perikanan menjadi daerah industri dengan tingkat kepadatan yang tinggi.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Selain dampak lingkungan, industrialisasi akan membawa dampak sosial bagi masyarakat sekitar, antara lain: </span></p>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;" lang="SV"><span></span></span><span lang="SV">Perpindahan tempat tinggal yang berarti tergusurnya masyarakat lokal dan digantikan oleh masyarakat pendatang yang memiliki modal lebih besar.</span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;" lang="SV"><span><span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Hilangnya mata pencaharian sebagian besar masyarakat wilayah Pati Selatan yang menggantungkan hidupnya pada keberadaan lahan pertanian.</span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;" lang="SV"><span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Hilangnya semangat kebersamaan dikarenakan tenaga kerja yang diserap oleh industri semen jelas tidak akan menampung seluruh tenaga kerja yang telah kehilangan lahan pertanian. Kondisi ini jelas akan memicu persaingan yang menjurus pada konflik pada masyarakat sekitar lokasi pabrik semen.</span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;" lang="SV"><span></span></span><span lang="SV">Rusaknya tatanan sosial dan budaya karena proses industrialisasi akan memunculkan banyaknya tempat-tempat hiburan yang cenderung menuju ke arah kemaksiatan.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Selain itu, proses penambangan secara besar-besaran akan membawa dampak pada keseimbangan lingkungan, misalnya perubahan ekosistem pada lingkungan sekitar, hilangnya sumber mata air, polusi udara, polusi suara, zat-zat beracun dalam limbah pabrik, dan perubahan suhu udara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Dengan adanya bukti banyaknya bencana alam seperti banjir, kekeringan, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, lumpur Lapindo, dan lain-lain, satu-satunya jalan untuk mengurangi bencana tersebut hanyalah menghijaukan kembali Pegunungan Kendeng menjadi kawasan<span> </span>lindung. Hal ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional Pasal 53 Ayat 1 dan 3dan Pasal 60 Ayat 2 huruf ( c) dan ( F ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><em><span>Tulisan ini diringkas dari berbagai sumber</span></em></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"></a><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span><span lang="SV"> Kabupaten Pati dalam angka, 2007.</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"></a><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span><span> <span lang="SV">Ismalina, P., <strong>Valuasi Ekonomi</strong>, 2007.</span></span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"></a><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:0;line-height:normal;"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span><span> </span><span style="font-size:10pt;" lang="IT">Acintyacunya Speleological Club –ASC, </span><span style="font-size:10pt;" lang="SV">Laporan Survey Speleologi, Hidrogeologi Kars dan Permanfaatan Sumberdaya air Kawasan Kars Pati, Kec. Tawang Harjo dan Kec. Wirosari –Jawa Tengah-, 2008.</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"></a><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span><span> </span><span style="font-size:10pt;" lang="SV">Pusat Studi Manajemen Bencana<span> </span>UPN “Veteran” Yogyakarta dan Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta, </span><strong><span style="font-size:10pt;" lang="FI">KAJIAN POTENSI KARS KAWASAN SUKOLILO – PATI JAWA TENGAH, </span></strong><span style="font-size:10pt;" lang="FI">2008.</span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI"></span></strong></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="SV"> Harian Kompas, 1 Agustus 2008</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="SV"> Semua dokumen pendukung terkait dengan hal ini bisa didapatkan di Yayasan SHEEP Indonesia Sekretariat Jawa Tengah; Jl. Ahmad Yani 06 Pati dalam bentuk dokumen kliping Koran.</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="SV"> Warga bernama Salim Desa Tompe Gunung dan Purwati Desa Sumbersoko mengalami hal ini.</span></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pinggirmalam.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pinggirmalam.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pinggirmalam.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pinggirmalam.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pinggirmalam.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pinggirmalam.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pinggirmalam.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pinggirmalam.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pinggirmalam.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pinggirmalam.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pinggirmalam.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pinggirmalam.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pinggirmalam.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pinggirmalam.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=81&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pinggirmalam.wordpress.com/2009/01/13/berfikir-jernih-di-tengah-kisruh-pro-kontra-rencana-pembangunan-pabrik-semen-gresik-di-sukolilo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c3b7a5434b0f445f669b2c8376dfffb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kodim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melacak Jejak Gerakan Islam Transnasional</title>
		<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/2008/12/26/melacak-jejak-gerakan-islam-transnasional/</link>
		<comments>http://pinggirmalam.wordpress.com/2008/12/26/melacak-jejak-gerakan-islam-transnasional/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 08:45:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kodim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Gerakan-gerakan yang berideologi transnasional belakangan ini kembali menjadi perbincangan hangat, khususnya di kalangan Islam. Dua organisasi keagamaan besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, tampaknya cukup keras dan hati-hati menyikapi fenomena merebaknya ideologi tersebut. Beberapa minggu yang lalu, Pengurus Pusat Muhammadiyah mengeluarkan surat edaran yang diperuntukkan bagi para anggotanya yang terlibat juga dalam organisasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=77&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><strong>Gerakan-gerakan </strong>yang berideologi transnasional belakangan ini kembali menjadi perbincangan hangat, khususnya di kalangan Islam. Dua organisasi keagamaan besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, tampaknya cukup keras dan hati-hati menyikapi fenomena merebaknya ideologi tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Beberapa minggu yang lalu, Pengurus Pusat Muhammadiyah mengeluarkan surat edaran yang diperuntukkan bagi para anggotanya yang terlibat juga dalam organisasi transnasional, seperti Hizbut Tahrir, Ihwanul Muslimin yang mewujud dalam Partai Keadilan Sejahtera, dan lain-lain. Surat itu secara tegas berisi tentang pilihan: Muhammadiyah atau organisasi yang berideologi transnasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi memberi statemen cukup keras terhadap persoalan ini. Secara eksplisit dia mengajak masyarakat Indonesia untuk mewaspadai gerakan yang berideologi transnasional tersebut karena dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).<span id="more-77"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Istilah transnasional sendiri mungkin masih baru terdengar. Namun itu hanyalah nama lain dari istilah <em>Globalized</em> (globalisasi) Islam, Fundamentalisme, Islam Kanan, dan Islam Radikal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Lalu siapa mereka itu? Dari mana asal usulnya? Bagaimana strategi gerakannya? Bentuknya seperti apa? Untuk menjawab semua itu, <em>Syirah</em> mengajak penulis buku Arus Baru Islam Radikal, Imdadun Rahmat, <em>ngobrol</em> santai seputar gerakan transnasional. Mengacu pada bukunya itu, Imdad mengurai panjang lebar asal usul gerakan Islam radikal di Indonesia &#8211;khususnya Hizbut Tahrir yang banyak dia soroti—dengan mengajak mundur sejenak untuk melihat sejarah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Sekilas Mengenai Organisasi-organisasi Transnasional</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Ikhwanul Muslimin didirikan oleh Hasan al-Banna (1324—1368 H/ 1906—1949 M) di Mesir tahun 1928. Di antara doktrin dalam Ikhwanul Muslimin adalah, pertama, gerakan ikhwan adalah gerakan <em>Rabbaniyyah </em>(ketuhanan). Sebab, asas yang menjadi poros sasarannya ialah mendekatkan manusia kepada <em>Rabb</em>-nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Kedua, gerakan ikhwan bersifat alamiyah (Internasional). Sebab, arah gerakannya ditujukan kepada semua umat manusia. Semua manusia pada dasarnya harus bersaudara. Asalnya satu, nenek moyangnya satu, dan nasabnya satu. Hanya <em>taqwa</em> yang menentukan seseorang itu lebih dari yang lain. Dari ketaqwaannya akan terefleksi pada kebaikan dan keutamaannya yang utuh dan menyeluruh yang ia berikan kepada orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Ketiga, gerakan ikhwan bersifat Islami. Sebab, orientasi dan nisbatnya hanya kepada Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Tahun 1948 organisasi ini dibubarkan </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;" lang="IN">pemerintah Mesir atas tuduhan telah melakukan pembunuhan terhadap Perdana Menteri Mesir saat itu dan merencanakan konspirasi untuk menggulingkan Raja Faruq.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Meski sudah dibubarkan, tapi pemikirannya terus <span> </span>tetap berjalan. Pola penyebaran pemikirannya itu lewat buku, kuliah, mahasiswa, dan lewat jaringan-jaringan politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Dalam praktiknya, pola yang diterapkan oleh Ihwanul Muslimin tidak tersentral dalam satu markas dan satu komando, tidak seperti pola yang diterapkan Hizbut Tahrir. Kenapa tidak terpusat? Karena Ihwanul Muslimin tidak memimpikan <em>khilafah islamyiah </em>internasional. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Oleh sebab itu, masing-masing daerah punya kewenangan sendiri untuk mengembangkan Ihwanul Muslimin sesuai dengan kultur dan politik negara di mana ia berkembang, dan bisa bernama apa pun. Kalau di Indonesia bernama Partai Keadilan Sejahtera (PKS), di Turki bisa memakai nama Partai Kesejahteraan dan Keadilan, di Malaysia menggunakan nama PAS.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Meski namanya berbeda, tapi ideologi, <em>manhaj</em> dan pola-polanya memiliki kesamaan antara Ihwanul Muslimin di daerah satu dengan daerah yang lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Kemudian, dalam Ikhwanul Muslimin itu lahir <em>Tandhimul Jihad</em>. <span class="postbody">Yaitu institusi jihad dalam struktur Ikhwanul Muslimin yang sangat rahasia dan dilatih secara militer. Dalam <em>Tandhimul Jihad</em> ini terdapat seorang tokoh bernama Taqiuddin Nabhani. Namun antara Hasan Al-Banna dan Taqiuddin ini kemudian terjadi perbedaan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span class="postbody"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Hasan Al-Banna berprinsip kita terus melakukan perjuangan dan memperbaiki sumber daya manusia. Sedang Taqiuddin bersikukuh agar terus melakukan perjuangan bersenjata, militer. Taqiuddin berpendapat, kekalahan Arab atau Islam karena dijajah oleh sistem politik demokrasi dan nasionalisme.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span class="postbody"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Sedang Hasan Al-Banna berpendapat sebaliknya. Menurut dia, tidak masalah umat Islam menerima sistem demokrasi dan nasionalisme, yang penting kehidupan syariat Islam berjalan dalam suatu negara.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span class="postbody"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Perdebatan itu berlangsung kian memanas dan tiada berakhir. Tidak terjadi titik kesepakatan antara keduanya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span class="postbody"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Hingga akhirnya, pada tahun 1949, Hasan Al-Banna meninggal karena ditembak agen pemerintah. Kematian Hasan Al-Banna dianggap syahid dalam pandangan Islam. Sedang Taqiuddin terus berkampanye di kelompoknya di Syria, Libanon dan Yordania. Lalu berdirilah Hizbut Tahrir. Artinya, partai pembebasan. Maksudnya, pembebasan kaum muslimin dari cengkraman Barat dan dalam jangka dekat membebaskan Palestina dari Israel. Konsep utamanya adalah <em>khilafah Islamiyah</em>. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Kesamaan Orientasi dan Perbedaan Strategi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Semenjak tahun 1979, pasca revolusi Iran, muncul ekspektasi dari dunia pinggir Islam untuk mencari inspirasi dari Timur Tengah. Kemudian lahirlah dengan apa yang disebut sebagai <em>globalized islam</em>; Islam yang terglobalisasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Islam yang terglobalisasi itu pada praktiknya berbeda-beda, tidak sama. Mulai dari <em>manhaj</em> atau metodenya, dasar pemikirannya, sampai akar dan silsilah pemikirannya pun berbeda. Meskipun lantai pijakannya berbeda, namun ada hal yang mempersatukan dari gerakan <em>globalized Islam</em> atau yang disebut dengan transnasional itu. Mereka mempunyai isu yang sama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Pertama, purifikasi Islam. Adalah upaya penyucian Islam dari unsur-unsur yang datang dari Barat maupun lokal. Lokal dalam konteks ini adalah tempat dimana gerakan tersebut ditanam. Dengan demikian, baik Barat maupun kultur lokal sama-sama dinegasikan. Jadi Islam yang sudah melakukan persenyawaan dengan demokrasi, ide-ide tentang <em>nation-state </em>(negara bangsa), ekonomi kapital, ekonomi sosialis itu disucikan kembali. Singkatnya, mereka membuat jalan untuk kembali ke keaslian Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Kedua</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">, bahwa gerakan transnasional semuanya berorientasi pada munculnya model negara seperti yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad saw. Jadi, mereka menginginkan adanya sebuah sistem politik yang pernah dipraktekkan oleh Nabi saat itu dan ada dalam al-Quran dan hadis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Dua isu di atas inilah yang menjadi pemersatu sekaligus penanda dari gerakan ini. Namun dalam praksis implementasinya, masing-masing organisasi ini baik Hizbut Tahrir, Ihwanul Muslimin, Gerakan Salafi, maupun Al Qaeda, mempunyai cara dan strategi berbeda-beda dalam perjuangan mereka untuk mencapai <em>ultimate goal</em>-nya itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Pola gerakan mereka pun diperagakan secara berbeda pula. Ada yang menggunakan cara-cara kekerasan, ada pula yang memilih jalan damai saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Seperti Ihwanul Muslimin di Indonesia &#8211;yang diperankan oleh PKS&#8211; yang mencoba berdamai dengan situasi lokal. Dengan model demikian, Ihwanul Muslimin sebenarnya ingin mendirikan negara Islam yang berbasis <em>nation-state</em>, seperti konsepnya Abul A’la Al-Maududi (lahir 1903). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Al-Maududi adalah ulama Pakistan yang mendirikan gerakan Islam <em>Jamaat-e-Islami</em> pada tahun 1940-an. Konsep itu dituangkan dalam bukunya yang terkenal, <em>Al-Khilâfah wa al-Mulk</em> (Khilafah dan Kekuasaan), yang terbit di Kuwait tahun 1978. Dari sini bisa dilihat jelas bahwa konsep Ihwanul Muslimin sesungguhnya <span> </span>adalah <em>Teo-demokrasi</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Sementara itu, Hizbut Tahrir berbeda sama sekali dengan konsepnya al-Maududi. Dia menginginkan sebuah negara transnasional, sebuah negara Pan Islamisme Internasional dalam bentuk <em>khilafah</em>, yang sistem politiknya mengacu pada al-Quran dan hadis. Bahkan lebih jauh lagi, mereka sudah mempunyai semacam struktur kenegaraan sendiri; ada Khalifah (pimpinan), <em>Ahlul Hali wal Aqdi </em>(Dewan Petimbangan) panglima perang, dan lengkap juga dengan beberapa kementerian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Model demikian tentu berbeda lagi dengan apa yang diperagakan oleh gerakan Salafi. Karena gerakan Salafi pada dasarnya hanya gerakan dakwah cultural yang tidak bermain-main dalam ruang politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Saat ini, ada gerakan transnasional yang menonjol, transnasional dalam faksi paling radikal yang diinspirasi oleh Al Qaeda. Meskipun tidak ada hubungan organisasi secara langsung, tapi pengaruh Al Qaeda ini begitu luar biasa bagi kelompok-kelompok kecil yang menggunakan teror sebagai sarana perjuangan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Gerakan Al Qaeda saat ini berkembang di Asia Tenggara, Afrika –khususnya sekarang yang bergolak di Somalia maupun di Nigeria&#8211;, Asia Tengah, kemudian negara-negara bekas jajahan Uni Soviet, dan sekarang yang ikut memperkeruh di Iran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:10pt 0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Demikianlah kisah singkat organisasi-organisasi transnasional yang tampil dengan beragam model dan strategi namun satu orientasi, yang belakangan ini menjadi sorotan utama sekaligus kekhawatiran tersendiri bagi organisasi besar Islam di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah. Keberadaan organisasi-organisasi transnasional dinilai tidak sesuai dengan kultur lokal Indonesia dan justru akan menghancurkan nilai Islam dan nasionalisme yang selama ini sudah bersenyawa.[]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:10pt 0;" align="right"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">Tulisan ini pernah dimuat di Syirah Online, 03 Mei 2007.</span></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pinggirmalam.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pinggirmalam.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pinggirmalam.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pinggirmalam.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pinggirmalam.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pinggirmalam.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pinggirmalam.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pinggirmalam.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pinggirmalam.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pinggirmalam.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pinggirmalam.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pinggirmalam.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pinggirmalam.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pinggirmalam.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pinggirmalam.wordpress.com&amp;blog=2552427&amp;post=77&amp;subd=pinggirmalam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pinggirmalam.wordpress.com/2008/12/26/melacak-jejak-gerakan-islam-transnasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c3b7a5434b0f445f669b2c8376dfffb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kodim</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
