Berfikir Jernih di Tengah Kisruh Pro-Kontra Rencana Pembangunan Pabrik Semen Gresik di Sukolilo

Januari 13, 2009

Rencana pendirian Pabrik Semen Gresik di Sukolilo mengundang sejumlah perdebatan sengit yang akhirnya membelah mayarakat ke dalam dua kutub yang saling bertentangan: pro dan kontra. Di luar dua kelompok tersebut, adalah mereka yang tidak peduli terhadap persoalan ini.

Masing-masing kelompok memiliki alasan dan pembenarnya masing-masing. Secara umum, masyarakat yang setuju rata-rata memiliki harapan akan mendapatkan pekerjaan yang lebih menarik dari sekedar bertani. Masyarakat ini juga menaruh kepercayaan pada PT. Semen Gresik yang menjamin tidak akan merusak lingkungan serta menjamin pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat jika ada kerusakan pada mata air mereka. Selebihnya, masyarakat golongan ini merasa tidak berdaya karena menganggap rencana penambangan tersebut merupakan keputusan pemerintah yang sudah tidak bisa diganggu gugat.

Di lain pihak, masyarakat yang menolak rencana penambangan umumnya memiliki kekhawatiran akan keselamatan lingkungan mereka, terutama pada lahan pertanian dan suplai air dari mata air untuk kebutuhan sehari-hari. Kelompok masyarakat ini tidak termakan janji yang dilontarkan oleh pihak perusahaan, karena tidak percaya akan kebenaran realisasinya. Hal ini didasarkan pada fakta yang sudah ada, dimana setiap industri besar berdiri pasti akan melahirkan persoalan baru yang jauh lebih pelik.

Sementara itu, masyarakat yang tidak peduli akan rencana penambangan, kebanyakan adalah mereka yang tinggal di lokasi yang jauh dari daerah rencana konsesi penambangan. Masyarakat golongan ini, sebenarnya tidak keberatan ada aktivitas penambangan di sekitar mereka, namun dengan syarat mereka minta ganti rugi yang sepadan, semisal ada upaya bedol desa ke daerah yang lebih baik dan tidak terlalu jauh dari tempat kelahiran mereka, serta mendapat jaminan hidup dengan layak. Alasannya, mereka ini ingin tetap dapat memantau seperti apa perubahan wilayah mereka selama/ pasca penambangan. Ketidakpedulian ini juga agak rumit, karena justru sebagian masyarakat merasa kecewa atas perlakuan beberapa perusahaan tambang yang telah berlaku semena-mena pada saat ekplorasi beberapa waktu sebelumnya.

Namun, bila dicermati lebih lanjut, alasan-alasan dari masing-masing kelompok itu masih bersandar pada level ’harapan’ dan ’kekhawatiran’, belum didasarkan pada pemahaman yang utuh dari berbagai sisi yang terkait dengan persoalan ini. Sehingga tidak jarang yang tampak kemudian, masing-masing kelompok dalam berargumen dan menentukan sikapnya atas dasar ”pokoknya”. Lemahnya pemahaman ini terjadi lantaran sulitnya akses informasi dan minimnya peyediaan bahan-bahan yang terkait dengan persoalan tersebut.

Untuk itu, rangkuman data ini mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua dalam upaya untuk memahami lebih jauh mengenai rencana pendirian pabrik semen Gresik di Sukolilo dari berbagai sisi. Dengan ini pula, agar kita tidak terombang-ambing dan mudah terseret oleh arus kepentingan-kepentingan tertentu. Jernih melihat dan berfikir adalah landasan utama untuk menentukan sikap.

I. GAMBARAN UMUM

1.1. Profile Kabupaten Pati

Kabupaten Pati merupakan salah satu dari 35 daerah kabupaten/kota di Jawa Tengah. Kabupaten Pati terletak di daerah pantai utara Pulau Jawa dan di bagian timur Propinsi Jawa Tengah. Berbatasan dengan Kabupaten Jepara di sebelah utara, Kabupaten Kudus di sebelah barat, Kabupaten Grobogan di sebelah selatan dan Kabupaten Rembang di selebah timur. Secara administratif Kabupaten Pati mempunyai luas wilayah 150.368 hektar yang terdiri dari 58.749 hektar lahan sawah dan 91.619 hektar lahan bukan sawah. Kabupaten Pati terbagi dalam 21 kecamatan, 401 desa, 5 kelurahan. Ada 1.106 dukuh, 1.464 RW dan 7.463 RT.

Dari segi letaknya Kabupaten Pati merupakan daerah yang strategis di bidang ekonomi, sosial budaya dan memiliki potensi sumberdaya alam yang dapat dikembangkan dalam banyak aspek kehidupan masyarakat; seperti pertanian, peternakan, perikanan, perindustrian, pertambangan dan pariwisata.

Potensi utama Kabupaten Pati adalah pada sektor pertanian[1]. Potensi pertanian yang cukup besar meliputi pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan.

Terkait dengan kondisi alam dan peninggalan sejarah, Kabupaten Pati juga menyimpan banyak situs dan juga tempat-tempat alami yang eksotis yang sangat potensial untuk pariwisata. Salah satu daerah yang potensial untuk pariwisata adalah wilayah di Kecamatan Kayen, Tambakromo dan Sukolilo. Di tiga kecamatan tersebut terdapat banyak goa (Goa Wareh, Goa Lowo, Goa Pancur) dan beberapa situs sejarah (Makan Saridin, Pertapaan Watu Payung, Peninggalan Kerajaan Malawapati).

2.1. Wilayah Administratif Sukolilo

Secara administratif, wilayah Kecamatan Sukolilo masuk di wilayah Kabupaten Pati, Secara kordinat terletak pada 0470000 m, 0500000 m dan 922 0000 m,n 9250000 UTM, Peta Bakosurtanal, Lembar Sukolilo, Skala 1 : 25.000.

3.1. Tentang Pegunungan Kendeng

Tidak banyak yang tahu bahwa pegunungan kapur (karst) yang membentang dari desa Taban (Kudus) sampai Tuban bernama Pegunungan Kendeng Utara. Di pegunungan yang dulu cukup lebat dengan pohon jati ini bermukim sebagian besar penduduk Kecamatan Sukolilo. Selain digunakan untuk tempat tinggal warga, pegunungan ini juga memberikan beberapa manfaat lain bagi warga yang hidup di sekitarnya. Pertama, sumber air yang telah mengairi 15.873,9 ha lahan pertanian di sekitarnya. Kedua, lahan di pegunungan ini juga menjadi lahan pekerjaan bagai ribuan peladang yang menanam berbagai palawija di sela-sela pepohonan jati milik Perhutani.

Rona Lingkuan Alam dan Budaya:

  • Pegunungan Kendeng dengan kekayaannya berupa sumber air dan goa telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi masyarakat sekitar, khususnya bagi masyarakat di Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Kayen. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sumber air juga bermanfaat untuk mengairi lahan pertanian.
  • Secara keseluruhan sumber daya alam di wilayah Pegunungan Kendeng telah memberikan kemanfaatan bagi 91 688 jiwa di kecamatan Sukolilo dan 73 051 jiwa di Kecamatan Kayen.
  • Kecamatan Sukolilo yang meliputi 16 Desa dan Kecamatan Kayen meliputi 17 Desa yang sistem pengairannya melalui irigasi teknis dengan bersumber dari Waduk Kedungombo (Klambu kanan) dan sistem pompanisasi.
  • Mata air di pegunungan Kendeng merupakan sumber pengairan 15.873,900 ha sawah di Kecamatan Sukolilo dan 9 603,232 ha di Kecamatan Kayen.
  • Sawah yang berada di kaki gunung Kendeng utara menggunakan irigasi teknis sementara yang terletak di sebelah utara sepanjang sungai Juana II dan Juana I menggunakan sistem pompanisasi dengan bersumber dari sumber air yang berada pada Pegunungan Kendeng.

II. DATA MENGENAI RENCANA PEMBANGUNAN PABRIK SG

Di Kecamatan Sukolilo, rencananya akan di bangun pabrik semen oleh PT. Semen Gresik dengan luas lahan mencapai ± 2000 hektar ( bahkan lebih luas ). Bahan baku pabrik semen tersebut adalah batu gamping / batu kapur yang berasal dari kawasan perbukitan Kars di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Kegiatan penambangan ini tentunya akan mengambil dan mengeruk perbukitan kapur yang berfungsi sebagai penyimpan air alami (reservoir) dari mata air-mata air yang bermunculan di kaki perbukitan kawasan kars tersebut.

2.1. Data Studi Kelayakan Semen Gresik

  • KEBUTUHAN BAHAN BAKU

§ 2,5 juta ton semen / tahun = 8 000 ton semen / hari.

§ Batu kapur = + 11. 700 ton / hari

§ Tanah liat = + 2. 600 ton / hari

§ PB + PS = + 120 ton / hari

§ Gipsum = + 320 ton / hari

  • KEBUTUHAN ENERGI LISTRIK

§ Batubara = + 1. 200 ton / hari

§ Listrik = + 105 Kwh / ton semen

  • BIAYA INVESTASI PABRIK SEMEN DI PATI = + 3,5 Trilyun
  • Kebutuhan Tenaga kerja Pembangunan Pabrik semen di Pati
  • Kontruksi = + 2000 Orang
  • Operasi = + 1000 Orang

Meliputi : = Tenaga internal PT. S G

= Tenaga Eksternal (jasa angkutan semen, jasa kontruksi dll.)

  • KEBUTUHAN LAHAN PT. SG di Pati

§ Sawah = + 639 ha

§ Tegalan = + 794 ha

§ Total = 1433 ha

Ø Tapi lahan yang rencananya akan dibebaskan nantinya mencapai + 2000 ha (bahkan bisa lebih luas)

v Kelemahan Yang Ada Dari Studi Kelayakan Semen Gresik

  • Hanya memuat perhitungan ekonomi produksi (keuntungan dan biaya produksi semen).
  • Analisis mengenai dampak-dampak negatif diserahkan pada Studi Amdal.
  • Tidak secara rinci menjelaskan biaya-biaya apa saja yang dibutuhkan dalam pembangunan pabrik Semen Gresik tersebut.
  • Keuntungan produksi tidak memiliki dampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.


2.2. Terkait Rencana Pembangunan Pabrik SG[2]

  • Pembangunan pabrik di Desa Kedomulyo.
  • Penambangan batu kapur di pegunungan Kendeng yang meliputi desa Sukolilo, Sumbersoko, Gadudero, Kedomulyo, dan Tempo gunung.
  • Penambangan tanah liat dilakukan di lahan pertanian Desa Gadudero, Desa Baturejo, dan Desa Kasihan.
  • Pada kenyataan sekarang yang terjadi banyak lahan tegalan yang di tanami pohon jati, & ternyata hasil produksinya juga tidak kalah dengan tanaman yang sifatnya musiman.
  • 1 ha ditanami 600 pohon jati dalam jangka waktu 9 tahun bisa di panen & di jual 40 jt – 2 jt biaya produksi bibit & perawatan hasil / tahun rata-rata 4, 2 jt
  • Dari jumlah penduduk 29 474 jiwa kalau dihitung KK 5894, ¼ dari total Kepala Keluarga adalah 1473 KK sebagai peternak sapi
  • Rata- rata setiap KK punya 2 ekor ternak sapi. 2946 ekor sapi x rata – rata Rp 5 jt = 14 730 000 000. Sapi/ kambing merupakan pendapatan tahunan. Ini belum termasuk peternak kambing.
  • Pakan didapat dari jerami di saat masa panen dan rumput di saat tidak ada panen. Sehingga untuk mendapatkan pakan, dibutuhkan lahan sawah.
  • 79 mata air yang mengalir sepanjang tahun di Kecamatan Sukolilo. Yang masuk dalam batasan yang ditetapkan oleh SG, ada 42 mata air yang mengalir sepanjang tahun (bukan musiman, dan bukan 10). Debit mata air tersebut paling kecil 0.06 liter/detik dan paling besar 178 liter/detik.
  • Total debit yang merupakan sisa tersebut 1009.6 liter/detik
  • Hitung debit air tersebut hanya merupakan sisa dari total karena sudah dimanfaatkan oleh masyarakat.
  • Mata air itu tersebar dari wilayah yang paling tinggi sampai yang paling rendah di kecamatan Sukolilo.
  • Dari analisis morfologis, 75% wilayah Pati dialiri oleh sumber air dari Pegunungan Kendeng.
  • Dari 24 gua yang ditemui, 15 gua sudah jelas berair, artinya gua tersebut merupakan sungai bawah tanah dengan demikian sistem hidrologi tanah di atas gua masih ada. Hanya 10 gua yang masuk di konsesi studi kelayakan SG.
  • Mulut gua berair itu artinya proses karstifikasi masih berjalan. Inilah indikasi dari karakter KARS I.
  • Kelelawar berguna untuk kontrol hama. Kotoran kelelawar dapat dijadikan pupuk.
  • Ekosistem di dalam mulut gua berair: kelelawar dalam jumlah besar, ditandai dengan adanya penambang2 fosfat (fosfat dari kotoran kelelawar).


III. KAJIAN KAWASAN KARS SUKOLILO, PATI

Fenomena Kars Sukolilo (Kendeng Utara) tercermin melalui banyaknya bukit-bukit kapur kerucut, munculnya mata-mata air pada rekahan batuan, mengalirnya sungai-sungai bawah tanah dengan lorong gua sebagai koridornya. Sering ditemukan lahan yang sangat kering di permukaan saat musim kemarau pada bagian bagian bukit karena sungai-sungai yang mengalir di permukaan sangat jarang. Aliran air masuk kedalam rekahan batuan kapur atau batugamping (limestone) dan melarutkannya, sehingga di bagian bawah kawasan ini bayak ditemukan sumber-sumber mata air yang keluar melalui rekahan-rekahan batuan.

Kawasan Kars Kendeng Utara yang melingkupi Kabupaten Grobogan, kabupaten Pati hingga Kabupaten Blora belum ditetapkan mengenai klasifikasi wilayah kars tersebut. Berdasarkan peraturan ”KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1456 K/20/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KAWASAN KARS MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL” dalam pengelolaan sebuah kawasan kars harus melakukan sebuah pengkajian dan survey terlebih dahulu. Apabila dalam penetapannya sebuah kawasan kars memiliki kriteria sebagai kawasan Kars Kelas 1 (Pasal 12) maka segala bentuk aktivitas penambangan tidak diperbolehkan di kawasan tersebut.

Berangkat dari isu sentral mengenai rencana pembangunan pabrik semen oleh PT. SEMEN GRESIK dan terbitan KEPMEN ESDM no 1456/K/20/MEM/2000, maka kegiatan survey dan pengkajian wilayah Kars Pati (Kendeng Utara) harus dilakukan sebagai tahapan paling penting dalam rencana pengelolaan kawasan kars. Tahapan pengkajian dan survey memiliki tujuan menghasilkan data-data potensi kawasan kars. Hasil kajian dan survey tersebut akan menjadi bahan acuan dalam pengklasifikasian kawasan Kars Pati (Kendeng Utara) dan pengambilan kebijakan oleh Pemerintahan Kabupaten Pati dalam pengelolaannya berhubungan dengan rencana pembangunan pabrik semen yang berpotensi menimbulkan ancaman kekeringan akibat kerusakan fungsi hidrologi di kawasan tersebut.

3.1. Proses Karstifikasi

Kars adalah sebutan umum yang digunakan untuk suatu kawasan dimana batuan penyusunnya adalah batu gamping yang telah mengalami proses pelarutan. Batu gamping bersifat karbonatan (mengandung CaC03) sehingga mudah terlarut oleh air hujan yang mengandung asam. Dikatakan kawasan kars apabila batugamping tersebut telah mengalami proses kartisifikasi. Kartisifikasi merupakan serangkaian proses mulai dari terangkatnya batu gamping ke permukaan bumi akibat proses endogen serta terjadi proses pelarutan di dalam ruang dan waktu geologi hingga akhirnya menghasilkan bentukan lahan kars.

Proses pelarutan oleh air hujan di permukaan menghasilkan bentang alam eksokars yang khas, yakni karren atau lapies, bukit kerucut (conical hill), menara kars (kars tower), lembah/topografi negatif di antara sekumpulan bukit kerucut (doline), telaga kars, sungai periodik yang berujung pada mulut gua vertikal (sinkhole), lubang air masuk (ponour), sungai permukaan hilang masuk ke mulut gua (shallow hole), dan lembah-lembah tidak teratur yang buntu (blind Valey). Selanjutnya, proses pelarutan berkembang ke bawah permukaan menghasilkan bentukan di bawah permukaan (endokars). Proses tersebut menghasilkan jaringan lorong-lorong komplek dengan jenis dan ukuran bervariasi membentuk sistem perguaan (cave sistem) atau sistem sungai bawah tanah.[3]

3.2. Fisiografi & Geomorfologi

Berdasarkan pengklasifikasian fisiografi Jawa (Bemmelen, 1949) tersebut maka Kawasan Kars Sukolilo Pati terletak pada pegunungan Kendeng (antiklinorium Bogor – Serayu Utara – Kendeng). Tepatnya pada Pegunungan Kendeng Utara yang merupakan lipatan perbukitan dengan sumbu membujur dari arah Barat – Timur dan sayap Lipatan berarah Utara – Selatan.

Morfologi Kawasan Kars Sukolilo Pati secara regional merupakan komplek perbukitan kars yang teletak pada struktur perbukitan lipatan. Setelah perlipatan mengalami proses pelarutan, pada bagian puncak perbukitan Kars di permukaan (eksokars) ditemukan morfologi bukit-bukit kerucut (conical hills), cekungan-cekungan hasil pelarutan (dolina), lembah-lembah aliran sungai yang membentuk mulut gua (Sinkhole), mata air dan telaga kars ditemukan pada bagian bawah tebing. Morfologi bawah permukaan (endokars) kawasan kars tersebut terbentuk morfologi sistem perguaan dan sungai bawah tanah. Pada bagian Utara dan Selatan batas akhir batuan kapur/ batugamping merupakan dataran.

Ketinggian tertinggi komplek perbukitan kars ini antara 300 – 530 mdpl. Bagian Selatan dari perbukitan tersebut terdapat tebing yang memanjang dari Barat – Selatan dengan kemiringan lereng tegak hingga atau curam. Bagian ini merupakan blok struktur patahan dari komplek Perbukitan Kars Sukolilo Pati yang terbentuk saat proses pengangkatan Pegunungan Kendeng Utara.

3.3. Geologi

Stratigrafi kawasan Kars Kendeng Utara masuk kedalam Formasi Bulu dengan batuan penyusun (litologi) batu gamping masif yang mengandung koral, alga dan perlapisan batugamping yang juga mengandung foram laut berupa koral, orbitoid dan alga. Sesekali diselangselingi oleh Batupasir Kuarsa bersifat karbonatan. Formasi Bulu penyusun kawasan Kars Grobogan ini terbentuk pada masa Meosen Tengah – Meosen Atas, terbentuk 25 juta tahun yang lalu berdasarkan skala waktu geologi.

Struktur geologi yang berkembang di Kawasan Kars Sukolilo adalah struktur sinklinal. Pada bagian Formasi Bulu yang menjadi kawasan kars merupakan bagian dari sinklin dengan arah sayap lipatan Utara – Selatan. Sumbu sinklin terdapat pada bagian puncak komplek perbukitan kars yang memanjang dari Beketel hingga wilayah Wirosari, perbatasan dengan Blora. Terdapat juga struktur patahan yang berarah relatif Timur Laut – Barat Daya. Kondisi struktur geologi demikian menyebabkan batugamping sebagai batuan dasar penyusun formasi Kars Sukolilo Pati memiliki banyak rekahan, baik yang berukuran minor maupun mayor. Rekahan-rekahan ini merupakan cikal bakal pembentukan dan perkembangan sistem perguaan di kawasan kars setelah mengalami proses pelarutan dalam ruang dan waktu geologi.

3.4. Speleologi

Mulut-mulut gua di kawasan ini tersingkap dengan 2 tipe. Yaitu tipe runtuhan dan pelarutan dari permukaan. Tipe runtuhan umumnya membentuk mulut gua vertikal, Contohnya Gua Kembang, Dusun. Wates, Gua Lowo Misik, Gua Kalisampang, Gua Tangis, Gua Telo, Gua Ngancar, dan Sumur Jolot Dusun Kancil, Desa Sumber Mulyo Pati. Tipe ini memiliki karakter banyak terdapat bongkahan batuan yang runtuh dari atap lorong, hal ini merupakan bukti bahwa sistem gua ini terbentuk pada jalur rekahan yang relatif lemah sehingga batuan dasarnya labil dan mudah lepas. Disamping itu juga akan di temukan lorong-lorong yang berkelok-kelok seperti retakan batuan. Bukti lain kalau kontrol struktur mempengaruhi pembentukan gua dapat dilihat pada penjajaran ornamen gua di atap-atap yang terbentuk dari hasil pengendapan karbonat hasil pelarutan.

Selain kontrol struktur yang dominan di Kawasan Kars Sukolilo Pati dalam pembentukan sistem perguaannya, proses pelarutan yang berasal dari air permukaan juga terdapat di kawasan ini. Dapat di jumpai di beberapa gua yang mulutnya terdapat di dasar-dasar lembah, Seperti pada Gua Urang, Dsn. Guwo, Kemadoh Batur, Grobogan Gua Bandung, Gua Serut, Gua Gondang dan Gua Banyu Desa Sukililo dan Gua Wareh Desa Kedungmulyo, Kecamatan Sukolilo serta Gua Pancur di Kecamatan Kayen. Pada musim hujan mulut-mulut gua tersebut merupakan jalur sungai periodik yang masuk kedalam gua dan juga sebagai sungai utama yang keluar dari dalam gua. Pada umumnya gua-gua horizontal di kawasan ini berkembang mengikuti pola perlapisan batuan dasarnya dengan kemiringan lapisan ke arah Utara sehingga akumulasi sungai-sungai permukaan akan terpusat pada daerah-daerah bawah yang keluar melalui mata air ataupun mulut-mulut gua.

Selama proses karstifikasi berlangsung, sistem hidrologi mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pembentukan sistem-sistem perguaan yang terakumulasi pada zona jenuhnya menjadi aliran bawah permukaan atau sungai bawah permukaan. Gua menjadi corridor sistem penghubung antara proses-proses eksokars di permukaan dan endokars dibawah permukaan. Corridors adalah suatu struktur fungsional pada bentanglahan, adanya corridors menjadi dasar untuk mencegah fragmentasi menjadi kepingan atau sebaliknya untuk meningkatkan penetrasi dari makhluk asing. Corridors adalah suatu fungsi struktur dalam satu bentuklahan. Corridors dapat terbentuk oleh topografi seperti adanya siklus hidrologi seperti lapisan sungai, oleh manusia seperti pada kasus pembukaan hutan.

3.5. Hidrogeologi Kars

Pola hidrogeologi Kawasan Kars Sukolilo Pati secara regional adalah pola aliran paralel dimana terdapat penjajaran mataair dan mengikuti struktur geologi yang ada. Pola aliran seperti ini merupakan cerminan bahwa pola aliran sungai di Kawasan Kars Sukolilo Pati dipengaruhi oleh struktur geologi yang berkembang. Sungai-sungai yang mengalir dibagi menjadi dua zona, yaitu zona aliran Utara dan zona aliran Selatan. Baik zona Utara maupun Selatan adalah sungai-sungai yang muncul dari rekahan batugamping kawasan tersebut atau Kars Spring dengan tipe mata air kars rekahan (fracture springs). Terbentuknya mataair rekahan tersebut akibat terjadinya patahan pada blok batugamping di kawasan ini saat proses pengangkatan dan perlipatan.

Zona ditemukannya penjajaran mata air tersebut merupakan batas zona jenuh air di Kawasan Kars Sukolilo Pati. Pada Zona Utara pemunculan mata air kars berada pada daerah-daerah berelief rendah hingga dataran dengan kisaran ketinggian 20 – 100 mdpl dan pada Zona Selatan muncul pada ketinggian antara 100 – 350 mdpl. Bukti lain bahwa proses karstifikasi kawasan ini masih berlanjut dan masih merupakan fungsi hidrologis adalah ditemukannya sungai-sungai bawah permukaan yang keluar sebagai aliran permukaan melalui corridor-corridor mulut gua yang ada pada daerah Sukolilo. Bukti ini dapat dilihat dari sungai bawah tanah yang terdapat di Gua Wareh, Gua Gua Gondang, Gua Banyu dan Gua Pancuran. Keempat gua tersebut merupakan sistem perguaan sekaligus sistem sungai bawah tanah yang masih aktif. Fenomena tersebut memberikan gambaran bahwa perbukitan Kawasan Kars Sukolilo Pati berfungsi sebagai kawasan resapan air (recharge area), kemudian air resapan tersebut terdistribusi keluar melalui mata air-mata air yang bermunculan di bagian permukiman dan di daerah-daerah dataran sekitar Kawasan Kars Pati.

Dalam Kawasan Kars Kendeng ini terdapat 33 sumber mata air yang mengelilingi Kawasan Kars Grobogan dan 79 sumber mata air yang mengelilingi Kawasan Kars Sukolilo Pati (Kendeng utara). Keseluruhan mata air tersebut bersifat parenial artiya terus mengalir dalam debit yang konstan meskipun pada musim kemarau. Berikut ini daftar mata air hasil survey di kawasan Kars Grobogan (Kendeng Utara). Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa pemunculan air di sepanjang musim selalu berubah. Pada musim kemarau berdasarkan perhitungan dari 38 sumber air yang ada di kawasan Sukolilo mencapai lebih dari 1000 lt/dtk, dan mencukupi kebutuhan air lebih dari 7882 KK yang ada di Kecamatan Sukolilo. Perhitungan ini akan lebih meningkat drastis pada saat musim hujan.

3.7. Fungsi Kawasan

Kawasan Kars Sukolilo memiliki fungsi utama sebagai fungsi hidrologi, yang berguna bagi kelangsungan sistem ekosistem yang ada di kawasan kars. Banyaknya outlet-outlet mataair yang keluar menunjukkan bahwa Kawasan Kars Sukolilo merupakan kawasan kars aktif yang telah dan sedang mengalami proses karstifikasi. Keberadaan air yang melewati sungai-sungai bawah permukaan dan sumber-sumber air sangat memberikan peranan penting terhadap setiap aset-aset kehidupan dan penghidupan yang ada di kawasan kars baik oleh biota-biota yang ada di dalam gua, flora dan fauna yang ada di purmukaan dan manusia sebagai komponen utama yang berperan penting dalam suatu ekosistem. Perbukitan batugamping kawasan ini memiliki sifat-sifat kawasan karst.

Ciri-ciri penting bentukan bukit dan lembah yang khas akibat proses-proses pelarutan, terdapat gua-gua, aliran sungai bawah permukaan, dan mataair. Air hujan yang jatuh di perbukitan, akan meresap ke dalam tanah, masuk ke rekahan-rekahan dan pori-pori batugamping menjadi aliran konduit. Selanjutnya, air mengalir ke tempat yang lebih rendah melalui rekahan-rekahan dan kemiringan lapisan batuan yang membentuk lorong-lorong gua, menjadi aliran sungai bawah permukaan. Hingga akhirnya, air akan muncul lagi ke permukaan tanah di tempat yang lebih rendah menjadi mataair

Fisik dan struktur geologi perbukitan ini, dengan sempurna telah menyimpan dan memelihara air, dalam jumlah dan masa tinggal yang ideal. Sehingga dapat mencukupi kebutuhan air bagi warga setempat di musim kemarau sampai datangnya musim hujan berikutnya. “Kemampuan bukit karst dan mintakat epikarst pada umumnya telah mampu menyimpan tiga hingga empat bulan setelah berakhirnya musim penghujan, sehingga sebagian besar sungai bawah tanah dan mataair mengalir sepanjang tahun dengan kualitas air yang baik.”(Haryono. 2001).

Mata air epikarst, menurut studi Linhua (1996), dikenal mempunyai kelebihan dalam hal:

1. Kualitas air. Air yang keluar dari mataair epikarst sangat jernih karena sedimen yang ada sudah terperangkap dalam material isian atau rekahan.

2.  Debit yang stabil. Mataair yang keluar dari mintakat epikarst dapat mengalir setelah 2-3 bulan setelah musim hujan dengan debit relatif stabil.

3. Mudah untuk dikelola. Mataair epikarst umumnya muncul di kaki-kaki perbukitan, sehingga dapat langsung ditampung tanpa harus memompa

Kawasan karst ini menjadi sebuah tandon air alam raksasa bagi semua mataair yang terletak di kedua kabupaten tersebut. Akifer yang unik menyebabkan sumberdaya air di kawasan karst terdapat sebagai sungai bawah permukaan, mataair, danau dolin/telaga, dan muara sungai bawah tanah (resurgence). Kawasan karst disinyalir merupakan akifer yang berfungsi sebagai tandon terbesar keempat setalah dataran aluvial, volkan, dan pantai.

Selain potensi sumber daya air, sebagian gua di kawasan karst Kendeng Utara Pati merupakan tempat tinggal bagi komunitas kelelawar. Kelelawar sangat berperan dalam mengendalikan populasi serangga yang menjadi hama dan vektor penyebaran penyakit menular.

3.8. Pemanfaatan Sumberdaya Air

Sumberdaya air di kawasan kars merupakan aset berharga bagi masyarkat sekitar kawasan kars. Hampir seluruh masyarakat di kawasan Kars Kendeng Utara meliputi; kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo Kabupaten Pati memanfaatkan sumber-sumber air yang berasal dari kawasan Kars Sukolilo, karena 90% suplai air berasal dari Kawasan Kars Kendeng Utara. Hampir setiap dusun yang berada Desa Sukolilo (19 mataair), Desa Gadudero (3 mataair), Desa Tompe Gunung (21 mataair), Desa Kayen (4 mataair), Desa Kudumulyo (1 mataair), Desa Mlawat (1 mataair), Desa Baleadi (3 mataair), Desa Sumbersuko (24 mataair) yang ada di Kecamatan Sukolilo memiliki sumber-sumber mataair yang memiliki debit aliran bervariasi dari 1 liter/detik hingga 178,90 liter/detik. Sumber air yang terbesar di kecamatan Sukolilo adalah Sumber lawang yang terletak di Dusun Tengahan, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo dengan debit aliran di musim kemarau 178,90 liter/detik. Sumber ini mampu memenuhi kebutuhan air lebih dari 2000 KK di Kecamatan Sukolilo, karena sumber ini merupakan sumber utama yang aliran permukaannya bergabung dengan beberapa sumber air yang ada di sekitarnya sehingga menjadi sungai permukaan yang memiliki aliran terbesar dan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti ; mencuci, MCK, ternak, kebutuhan dasar sehari-hari dan sebagai saluran irigasi untuk lebih dari 4000 hektar areal persawahan di Desa Sukolilo. Selain itu juga Sumber Lawang juga telah dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik mikrohidro untuk memenuhi kebutuhan listrik di Dusun Tengahan.

Dari beberapa mataair yang ada di Kecamatan Sukolilo, debit aliran terkecil yaitu 0,06 liter/detik, yaitu Sumber Ngowak di Dusun Tompe Gunung, Desa Tompe Gunung, Kecamatan Sukolilo. Debit ini belum termasuk dengan aliran pipa yang sudah dimanfaatkan pada sumber ini. Dari sumber ini mampu memenuhi kebutuhan air bagi 40 KK yang ada di sekitar Dusun Tompe Gunung. Setiap sumber air yang ada di Kawasan Kars Sukolilo mampu memenuhi rata-rata kebutuhan air masyarakat lebih dari 200 KK di setiap dusun atau desa Pemanfaatan air per hari untuk 1 orang sekitar 15-20 liter, dapat dihitung jika 1 KK memanfaatkan air untuk kebutuhan sehari-hari bisa mencapai 100 liter. Hal ini dapat menunjukkan bahwa sumberdaya air yang ada di kawasan Kars Sukolilo melebihi kapasitas kebutuhan air masyarakat, dan yang lainnya juga dimanfaatkan sebagian besar untuk lahan-lahan pertanian dan peternakan.

3.9. Kesimpulan

Berdasarkan hasil kajian dapat ditarik kesimpulan :

1. Wilayah perbukitan pada kawasan Kendeng Utara merupakan kawasan Kars. Geomorfolgi Kawasan Kars Sukolilo adalah Perbukitan Kars Struktural dengan morfologi permukaan (eksokars) berupa bukit kerucut yang menjajar (conical hills), Tebing patahan yang memanjang, Lembah-lembah hasil pelarutan (dolina) dan mataair kars (kars spring). Morfologi bawah permukaan (endokars) ditemukan sistem perguaan struktural dan sungai bawah tanah yang berkembang mengikuti pola rekahan.

2. Pola aliran (sistem hidrologi) yang berkembang adalah pola pengaliran paralel yang dikontrol oleh struktur geologi yang ada dikawasan tersebut. Penjajaran mata air kars pada bagian Utara dan Selatan perbukitan kars Sukolilo, muncul pada ketinggian kisaran 5 -150 mdpl radius 1 – 2 km dari perbukitan kars Sukolilo. Mata air dan sistem sungai bawah tanah di Kawasan Kars Sukolilo bersifat parennial (mengalir sepanjang musim). Fungsi hidrologi di kawasan ini merupakan pengontrol utama sistem ekologi yang meliputi hubungan antara-komponen-komponen abiotik (tanah, batuan, sungai, air, dll), biotik (biota-biota gua serta flora dan fauna yang ada di kawasan kars), dan culture (lingkungan sosial, masyarakat, kebudayaan, dan adat istiadat) yang berinteraksi antara satu dengan yang lainnya membentuk suatu ekosistem dimana kars sebagai kontrol utamanya.

3. Perbukitan Kawasan Kars Sukolilo berfungsi sebagai daerah resapan dan penyimpan air untuk mataair–mata air yang mengalir di pemukiman, baik dibagian Utara maupun bagian Selatan Kawasan ini. Komplek perguaan kawasan Kars Grobogan memiliki potensi sumber daya air untuk kebutuhan dasar 8.000 rumah tangga serta 4.000 ha lahan pertaniaan sebagai sumber penghidupan mereka. Pola permukiman di kawasan tersebut semuanya mendekati pemunculan mata air-mata air, terutama pada bagian-bagian atas.

4. Berdasarkan hasil kajian dari fakta-fakta lapangan mengenai potensi dan kerberlangsungan fungsi utama kawasan kars grobogan, maka Kawasan Kars Pati – Kawasan Kars Grobogan masuk dalam klasifikasi Kawasan Kars Kelas 1 menurut Kepmen ESDM NO. 1456/K/20/MEM/2000 pasal 12.

3.10. Rekomendasi

  • Kawasan Kars Sukolilo merupakan kawasan penyimpan air bagi seluruh mata air kars di Pati dan Grobogan, sehingga Pemerintahan Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Pati perlu menetapkan kawasan ini sebagai kawasan kars yang dilindungi agar fungsinya tetap terjaga sehingga risiko bencana kekeringan bagi 8000 kk dan 4000 ha lahan pertanian di kemudian hari dapat dihindari.
  • Perlu dilakukan eksplorasi bawah pemukaan untuk memetakan sistem-sistem perguaan dan sisten-sistem sungai bawah permukaan di Kawasan Kars Sukolilo seperti yang sudah dilakukan di Kawasan Kars Grobogan untuk menemukan hubungan sistem-sistem utama Kawasan Kars Kendeng Utara.[4]

IV. PROBLEM AMDAL DAN KAJIAN VALUASI EKONOMI

Di bawah ini adalah tulisan Andreas Lako, Dosen Akuntasi Sosial dan Lingkungan; Dekan Fakultas Ekonomi UNIKA Soegijapranata Semarang yang diberi judul ”Bolehkah Sukolilo Dijual (Dibeli)?”.

4.1. Latar Masalah:

Hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) yang dilakukan PT Semen Gresik (SG) bekerjasama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Pusat Penelitian Universitas Diponegoro terkait rencana pembangunan prabrik semen PT SG di Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Jawa Tengah telah selesai. Hasilnya, berupa dokumen hasil Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) sudah diterbitkan untuk kalangan terbatas pada November 2008.

Hasil ANDAL menyimpulkan bahwa rencana kegiatan pembangunan pabrik semen PT SG di Sukolilo Pati dapat menurunkan prosentase kualitas lingkungan dan dapat menimbulkan perubahan skala kuliatas lingkungan hidup (LH). Namun, rekomendasi kelayakannya justru menyatakan bahwa: LAYAK LINGKUNGAN BERSYARAT.

Rekomendasi tersebut bermakna: Pertama, PT SG bisa diijinkan membangun pabriknya di Sukolilo dengan syarat harus memperhatikan dampak kumulatif terhadap komponen geofisik kimia, biologi, sosial, kesehatan masyarakat, dan komponen lingkungan. Kedua, dampak-dampak positif dari pembangunan PT SG di Sukolilo hanya akan bisa dicapai dan dinikmati masyarakat dan lingkungan setempat dan sekitarnya jika dan hanya jika PT SG melaksanakan rencana pengelolaan dengan baik sesuai rekomendasi dalam RKL dan pemerintah Pati melakukan pemantauan secara efektif seperti direkomendasi dalam RPL.

Dalam RKL dan RPL diatur rencana pengelolaan lingkungan hidup oleh perusahaan dan rencana pemantauan pengelolaannya oleh Pemda Pati. Komponen yang diatur dan akan dipantau meliputi komponen geofisik-kimia, komponen biologi, komponen sosial dan komponen kesehatan masyarakat baik pada tahap kegiatan penambangan maupun pada tahap kegiatan pembangunan pabrik semen dan jalan produksi. Hal-hal yang direncanakan dan dipantau meliputi:

1. Pada komponen geofisik-kimia mencakup tingkat kebisingan, kuantitas dan kualitas air permukaan, morfologi dan stabilitas medan, tata guna lahan, estetika benteng alam, kapasitas pelayanan lalulintas dan keadaan fisik jalan.

2. Pada komponen biologi mencakup flora darat, fauna darat, bakteri air, plankton dan makrobenthos.

3. Pada komponen sosial mencakup: persepsi negatif dan keresahan masyarakat, proses social, kecemburuan, sikap dan persepsi masyarakat, kenyamanan, sikap dan persepsi masyarakat, sikap dan persepsi masyarakat,

4. Pada komponen kesehatan masyarakat meliputi pola penyakit dan sanitasi lingkungan.

Dari sisi prosedural AMDAL tampak pekerjaan AMDAL yang dilakukan PPLH Undip sudah sesuai prosedur sehingga kesimpulan dan rekomendasi yang diberikan layak dipertimbangkan. Namun, menyimak komponen-komponen, indikator-indikator dan desain yang digunakan dalam AMDAL, hasil dan rekomendasinya patut diragukan akurasinya.

4.2. Pertanyaan krusial

Dengan adanya rekomendasi ANDAL yang menyatakan ”Layak Lingkungan Bersyarat” maka pertanyaan krusialnya adalah: Apakah Pemda Pati dan Pemprov Jateng sudah bisa mengijinkan PT SG membangun pabrik semennya di Sukolilo?

Jawabnya: Belum!

Mengapa?

  1. Kelayakan hasil AMDAL Sukolilo masih harus dinilai Komisi Penilai AMDAL yang terdiri dari unsur pemerintah dan unsur-unsur masyarakat yang terkena dampak sehingga belum tentu diijinkan.
  2. Rekomendasi ANDAL bukanlah satu-satunya ”kartu AS” untuk melegalkan pemerintah memperbolehkan atau tidak memperbolehkan berdirinya suatu perusahaan di suatu lokasi lingkungan. Dari perspektif etika bisnis, diperlukan persetujuan langsung yang ”jujur” dari masyarakat yang terkena dampak langsung atau tidak langsung dan pihak-pihak kompeten untuk menerimanya (willingness to accept).
  3. Masih perlu dilakukan suatu studi empiris yang mendalam dan jujur untuk menyajikan fakta-fakta tentang dampak-dampak positif dan negatif terhadap masyarakat dan lingkungan secara longitudinal (jangka waktu yang panjang) yang telah ditimbulkan PT SG dan sejumlah perusahaan semen lainnya di Indonesia selama ini. Bukti-bukti empiris dari sejumlah negara juga perlu disertakan untuk memberikan gambaran yang utuh tentang dampak sosial-ekologis kepada masyarakat. Hasil studi empiris tersebut perlu disosialisasikan secara jujur dan transparan kepada masyarakat setempat, pemerintah dan publik untuk pertimbangan dalam bersikap dan mengambil keputusan apakah mengijinkan atau tidak mengijinkan PT SG mendirikan pabriknya di Sukolilo.

4.3. Permasalahan krusial

1. Hasil analisis dan rekomendasi ANDAL dari PPLH Undip bisa diragukan kewajaran atau kejujurannya oleh masyarakat. Hal ini disebabkan PPLH Undip bekerja atas kepentingan atau atas permintaan (dibayar) dari PT SG selaku pemrakarsa pembangunan pabrik semen di Sukolilo sehingga bisa diragukan independensinya. Karena itu, jika masyarakat meragukan atau tidak percaya dengan “kewajaran dan netralitas” hasil AMDAL PPLH Undip-PT SG maka bisa dibentuk tim AMDAL independen untuk menilai tingkat kelayakan, keakuratan dan kevalidan hasil AMDAL PPLH Undip-PT SG.Tim ANDAL independen bisa dibentuk atas permintaan masyarakat yang kontra dengan rencana pembangunan pabrik atau kelompok masyarakat independen, misalnya dari perguruan tinggi dan LSM.

2. Hasil dan rekomendasi AMDAL Undip-PT SG diduga tidak akurat dan bahkan mungkin menyesatkan sehingga perlu dikaji ulang oleh tim independen yang kompeten. Dari empat komponen yang dianalisis, yaitu fisik-kimia, biologi, sosial, ekonomi dan budaya, dan kesehatan masyarakat, hanya komponen sosial, ekonomi dan budaya yang mendapat skor positif 4,90%. Sementara skor tiga komponen lainnya adalah minus yang bermakna terjadi penurunan kualitas lingkungan. Khusus untuk komponen sosial, ekonomi dan budaya, yang diukur hanya hal-hal yang bersifat jangka pendek atau pragmatis misalnya kesempatan kerja, pendapatan asli daerah (PAD), peluang berusaha, sarana dan prasarana. Sementara potensi masyarakat akan kehilangan lapangan pekerjaan akibat hilangnya lahan pertanian, tingginya tingkat kemiskinan dan kematian selama dan pasca perusahaan beroperasi, besarnya PAD yang terkuras untuk biaya pemulihan lingkungan pasca perusahaan beroperasi, rusaknya sarana dan prasarana akibat aktivitas ekonomi perusahaan dan masih banyak lagi yang bersifat jangka panjang tidak diperhitungkan. Yang lebih parah lagi, dalam pengukuran komponen sosial-budaya, besaran nilai kecemburuan sosial dan pemberdayaan masyarakat justru positif yang bermakna akan meningkatkan kualitas lingkungan. Ini aneh karena sejumlah bukti empiris menunjukkan kecemburuan dan gejolak sosial justru meningkat signifikan pasca perusahaan yang mengeksploitasi sumberdaya alam dan lingkungan berdiri. Pemberdayaan masyarakat setempat juga hanya slogan semata. Rusaknya ekosistem dan hilangnya sumber penghidupan (air) bagi masyarakat di 10 kecamatan dari generasi ke generasi apabila PT SG berdiri tidak diperhitungkan.

3. Laporan Hasil AMDAL per November 2008 yang diterbitkan Direktur Litbang & Operasional PT SG mengandung sejumlah keterbatasan (kelemahan) yang serius:

  • Laporan tersebut memperlakukan lingkungan hidup, ekosistem dan masyarakat Sukolilo sebagai ”obyek penderita” yang dianalisis dan akan dijadikan ”komoditas transaksi ekonomi’ antara PT SG dan Pemda Pati yang dianggap sebagai subyek pelaku. Meski secara prosedural AMDAL mungkin benar, namun secara moral dan etika lingkungan perlakuan tersebut salah kaprah karena dalam proses studi kelayakan dan tawar-menawar berdirinya suatu perusahaan di suatu lokasi/daerah, subyek pelakunya adalah masyarakat ”calon korban” dan perusahaan. Sementara pemerintah seharusnya berperan sebagai mediator, fasilitator dan pengayom, bukan sebagai pemilik wilayah yang bisa menjual/membeli semaunya.
  • Dalam Laporan RKL dan RPL sama sekali tidak terlihat bagaimana keterlibatan aktif masyarakat ”korban” dalam proses perencanaan, pemantauan, evaluasi dan umpan-balik terhadap kinerja sosial dan lingkungan PT SG pada setiap tahapan yang akan dilalui. Padahal, partisipasi aktif dari masyarakat dalam setiap tahapan perencanaan, pembangunan, pemantauan, evaluasi, pengendalian dan umpan-balik kinerja lingkungan dari suatu perusahaan merupakan persyaratan mutlak yang perlu dipertimbangkan.
  • Dalam laporan ANDAL tidak terlihat hasil valuasi ekonomi terhadap nilai atau harga ”aset lingkungan Sukolilo” yang akan dieksploitasi SG. Pengabaian tersebut memberi kesan seolah-olah ”aset lingkungan” Sukolilo tidak memiliki harga ekonomis yang tinggi sehingga biarlah kekuatan pasar, terutama kekuatan atau kesediaan membayar (willingness to pay) dari PT SG, yang menentukan harganya. Padahal, keinginan menggebu-gebu PT SG untuk segera mendirikan pabriknya di Pati karena menilai potensi nilai ekonomis yang akan diperoleh perusahaan dari aset lingkungan Sukolilo sangat besar atau bisa mendongkrak nilai aset dan laba perusahaan dalam jangka panjang.

4.4. Problema Dampak dan Manfaat ekonomi

Dalam Laporan ANDAL (Bab 1) memang telah dipaparkan dampak dan manfaat yang bakal timbul jika PT SG jadi mendirikan pabriknya di Sukolilo (lihat tabel berikut).

Dampak

Manfaat

1. Debu yang keluar dari cerobong

1. Mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam batu kapur dan tanah liat sebagai bahan baku semen

2. Penggunaan lahan yang luas

2. Memenuhi kebutuhan semen dalam negeri

3. Kebutuhan energi listrik yang cukup besar

3. Meningkatkan pendapatan asli daerah

4. Kebutuhan energi panas yang cukup besar

4. meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan sarana dan prasarana wilayah, kesempatan kerja dan kesempatan berusaha

5. Kebutuhan tenaga kerja yang besar

6. Potensi berbagai jenis limbah: padat, debu, limbah cair, limbah gas dari pembakaran batubara, minyaa dan gas

7. Berpotensi mengganggu sistem geohidrologi dan topografi karst, dampak sosial, ekologi, perubahan morfologi dan fisiografi, kestabilan lahan, lalulintas dan proses alamiah di kawasan karst.

Dari sejumlah dampak yang ditunjukkan, tampak bahwa dampak 1-5 lebih berorientasi pada konsekuensi ekonomi yang bakal ditanggung perusahaan yang bisa berpotensi menurunkan laba perusahaan. Hal ini sungguh aneh karena yang ditunjukkan seharusnya sejumlah konsekuensi negatif yang bakal ditanggung penduduk setempat dan pemerintah. Sementara dampak 6-7 sudah memaparkan potensi risiko berkelanjutan yang bakal ditanggung masyarakat dan pemerintah serta lingkungan bila pabrik semen SG jadi didirikan.

Dari sisi manfaat ekonomi yang ditunjukkan, terlihat manfaat 1-4 hanya bersifat normatif saja, sangat pragmatis dan lebih berorientasi pada kepentingan ekonomi jangka pendek. Manfaat 1-3 lebih berorietansi pada kepentingan negara dan daerah serta masyarakat luas daripada kepentingan masyarakat dan lingkungan setempat (yang akan mengorbankan hak hidup layak masyarakat Sukolilo). Sementara manfaat 4 lebih berorientasi pada kepentingan ekonomi masyarakat setempat dalam jangka pendek (10-20 tahun) sehingga sangat berpotensi mengorbankan kepentingan hak-hak hidup generasi-generasi berikutnya pasca operasi perusahaan.

Karena itu, menyimak kedangkalan paparan dampak dan manfaat yang disajikan dalam laporan ANDAL, maka harus dilakukan kajian yang mendalam secara ekonomi dan ekologi tentang potensi costs-benefits berkelanjutan yang bakal ditanggung dan dinikmati masyarakat dan lingkungan Sukolilo apabila pabrik semen SG beroperasi.

Fakta-fakta empiris menunjukkan bahwa di daerah-daerah yang terdapat banyak perusahaan pertambangan beroperasi, tingkat kemiskinan dan kematian masyarakat begitu tinggi, tingkat keresahan dan gejolak sosial begitu tinggi, menjadi sumber penyakit dan bencana alam, dan rusaknya ekosistem. Dan lebih penting lagi, pasca operasi perusahaan, pemerintah harus menyisihkan sekitar 5-20% APBN/APBD secara berkelanjutan untuk biaya pemulihan lingkungan yang tak pernah kunjung selesai.

Singkatnya, manfaat ekonomi berupa peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) untuk meningkatkan APBD/APBN, kenaikan tingkat kesejahteraan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja hanya bisa dinikmati dalam satu atau dua generasi alias jangka pendek. Tapi setelah itu, justru mudarat berkepanjangan yang harus ditanggung.

4.5. Valuasi ekonomi aset lingkungan

Dalam teori ekonomi/akuntansi lingkungan, ada dua prinsip valuasi aset lingkungan (hypothetical valuation) yang biasa digunakan untuk memvaluasi nilai suatu aset lingkungan:

1. Prinsip willingness to pay (WTP):

A Batas atas nilai pasar suatu aset lingkungan didasarkan pada kemauan perusahaan untuk membayarnya.

2. Prinsip willingness to accept (WTA):

A Penentuan harga pasar suatu aset lingkungan didasarkan pada kemauan perusahaan untuk menerima harga yang ditawarkan pihak lain atau pihak lain (masyarakat, pemerintah) untuk menerima harga yang ditawarkan perusahaan.

Berdasarkan prinsip hypothetical valuation tersebut, perusaahaan dan masyarakatlah yang berperan dominan menentukan berapa harga maksimal dari suatu aset lingkungan. Jika salah satu pihak tidak menyepakati atau tidak menerima harga yang ditawarkan, maka tidak terbentuk suatu level harga atau tidak terjadi proses jual-beli asset lingkungan.

Untuk menentukan berapa level harga yang optimal dan bisa disepakati, kedua belah pihak perlu memiliki basis teoritis, model valuasi, variabel-variabel ukuran, tolok ukur dan justifikasi yang sama. Peran pemerintah dalam proses valuasi tersebut adalah sebagai stimulator dan fasilitator atau “wasit” agar kedua pihak bisa melakukan valuasi dan menentukan harga aset lingkungan secara fair alias tidak curang.

4.6. Kesimpulan

  • Sukolilo bisa dijual oleh masyarakat atau dibeli PT SG jika telah dilakukan: 1) hasil ANDAL, RPL dan RKL telah disepakati bersama antara PT SG, masyarakat setempat (pro-kontra) dan pemerintah; dan 2) valuasi ekonomi untuk menentukan harga pasar yang wajar dan analisis sustainable costs-benefits yang berbasiskan pada pilar lingkungan, sosial, ekonomi dan keadilan yang berkelanjutan.
  • Hasil AMDAL PPLH Undip-PT SG yang merekomendasikan “Layak Lingkungan Bersyarat” dengan merujuk pada nilai holistik ANDAL sebesar -0,54% (dari kisaran 1 hingga -1) patut diRAGUKAN keakuratan dan kevalidannya. Alasannya, banyak variabel dampak negatif dari komponen sosial, ekonomi dan budaya, serta kesehatan masyarakat yang tidak diperhitungkan dalam ANDAL. Apabila diperhitungkan besar kemungkinan nilai holistiknya MENJADI lebih besar dari -1 sehingga rekomendasinya adalah TIDAK LAYAK LINGKUNGAN.
  • Karena Komisi Penilai AMDAL menjadi faktor penentu dalam menilai kelayakan hasil AMDAL PPLH Undip-PT SG dan boleh atau tidak boleh diijinkannya PT SG mendirikan pabrik di Sukolilo, maka tim Komisi Penilai AMDAL haruslah independen, kompeten, punya integritas yang tinggi dan merupakan representasi dari pihak-pihak yang berkepentingan langsung atau tidak langsung. Hal ini dimaksudkan agar keputusan atau hasil penilaian yang dihasilkan komisi ini bisa fair dan diterima masyarakat.
  • Dalam menghadapi kasus pro-kontra rencana dibangunkannya pabrik semen PT SG di Sukolilo (Pati), semua pihak, terutama pemerintah daerah, jangan menempatkan pertimbangan ekonomi (dampak positif-negatif) sebagai “panglima tertinggi” dalam berargumentasi dan mengambil keputusan. Alasannya, karena dampaknya hanya bersifat jangka pendek, parsial dan seringkali lebih banyak menimbulkan masalah daripada solusi. Pertimbangan utamanya harus difokuskan pada dampak-dampak sosial-ekologi secara berkelanjutan yang bakal timbul bila PT SG membangun pabriknya di Sukolilo karena sifatnya adalah permanen, kolektif dan berkelanjutan. Kekeliruan dalam pengambilan keputusan saat ini justru bisa menimbulkan penyesalan dan kutukan, menjadi sumber malapetaka dan bisa mengakibatkan Pemda Pati dan Jateng kian melarat di kemudian hari. Semoga tidak demikian.


V. BEBERAPA PELANGGARAN

Setelah mempelajari sejumlah data dari beragam sumber, maka didapat informasi tentang beberapa pelanggaran berkaitan dengan rencana pendirin pabrik semen ini, sebagai berikut:

Ø Pertama, rencana pembangunan Semen Gresik tidak berdasarkan pada Peraturan Daerah Kabupaten Pati tentang Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah (RTRW) karena Rancangan Perda RTRW 2008- 2009 Kabupaten Pati masih dalam proses persetujuan Pemerintah Pusat. Perda RTRW Kabupaten Pati periode 2006-2007 telah kadaluarsa. Kondisi ini pastinya dipahami oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pati, tetapi yang menjadi ganjil adalah ketika Bupati Pati mengeluarkan Surat Bupati Pati No. 131/1814/2008 tanggal 17 April 2008 untuk dijadikan rujukan dalam menilai kesesuaian rencana kegiatan dengan tata ruang kabupaten dan membuat Semen Gresik dapat merealisasikan rencananya untuk membangun Semen Gresik di Kecamatan Sukolilo, Pati. Padahal, Surat Bupati tidak memiliki kekuatan hukum sebagai pengganti Perda.

Dalam Surat Bupati Pati tersebut dinyatakan bahwa:

  • Lokasi kawasan pertambangan golongan C terdapat di Kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Gabus, Pucakwangi, Dukuhseti, Tayu, Tlogowungu, Gembong, Cluwak, dan Gunungwungkal.
  • Kawasan peruntukan industri besar dan sedang terdapat di Kecamatan Margorejo, Pati, Juwana, Batangan, Sukolilo, Kayen, dan Gabus.

Berdasarkan hal tersebut maka lokasi rencana kegiatan penambangan bahan baku di Kecamatan Sukolilo sudah sesuai dengan butir satu, sedangkan rencana lokasi pabrik semen di Kecamatan Sukolilo sudah sesuai dengan butir kedua.

Ø Kedua, penetapan pegunungan Kendeng sebagai kawasan Karst jenis I, II, ataupun III belum memiliki dasar hukum. Semen Gresik hanya mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan, Departemen ESDM bekerjasama dengan Semen Gresik tentang kawasan karst Sukolilo tahun 2005. Namun demikian, di dalam KA ANDAL tersebut, hasil penelitian tersebut tidak menyebutkan golongan karst dari pegunungan Kendeng.

Sementara hasil penelitian dari Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta (Bapak Eko Teguh Paripurno), Acintyacunyata Speleological Club (ASC), Yogyakarta (Dikky Mesah, AB Rodialfallah, Rikky Raimon, dkk), dan juga Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM tentang kajian potensi Kars Kawasan Sukolilo, Pati menyimpulkan bahwa kawasan Kars Pati–kawasan kars Grobogan masuk dalam klasifikasi kars I menurut Kepmen ESDM no. 1456/K/20/MEM/2000 pasal 12.

Selain itu perbukitan kawasan Kars Sukolilo berfungsi sebagai daerah resapan dan penyimpan air untuk mata air-mata air yang mengalir di pemukiman, baik di bagian Utara maupun bagian Selatan kawasan ini yang meliputi Pati dan Grobogan, sehingga Pemerintah di dua kabupaten ini seharusnya menetapkan kawasan ini sebagai kawasan Kars yang dilindungi agar fungsinya tetap terjaga sehingga resiko bencana kekeringan bagi 8000 kepala keluarga dan 4000 ha lahan pertanian di kemudian hari dapat dihindari.

Pegunungan Kendeng Utara di Jawa Tengah ditetapkan oleh KepMen ESDM sebagai kawasan Kars Sukolilo yang meliputi tiga kabupaten: Kecamatan Sukolilo, Kecamatan Kayen, Kecamatan Tambakromo Kabupaten Pati; Kecamatan Grobogan, Kecamatan Brati, Kecamatan Tawang Harjo, Kecamatan Wirosari, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan; dan Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora.

Di tiga kecamatan yang masuk dalam wilayah kabupaten Pati, yaitu Kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo, lebih dari 300.000 jiwa menggantungkan hidupnya pada mata air dari pegunungan kendeng untuk kebutuhan sehari-hari dan juga untuk pengairan lahan pertanian seluas lebih dari 30.000 hektar.

Fakta lain, di luar hal teknis dan regulasi, aparat pemerintah daerah juga melakukan berbagai praktik intimidasi kepada masyarakat yang menolak rencana ini. Beberapa fakta bisa dilihat dalam beberapa pemberitaan media massa. Bupati Pati; Tasiman, SH bahkan berkali-kali mengeluarkan statement yang mengancam dan menuduh bahwa aksi-aksi penolakan ditumpangi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan bukan orang asli Pati. Tidak hanya itu, Bupati Pati; Tasiman juga mengancam kepada masyarakat yang menolak rencana pembangunan pabrik semen itu dengan istilah: Jangan membangunkan macan tidur![5]. Ketua DPRD Pati; Sunarwi, SH juga menyatakan bahwa semua fraksi di DPRD Pati mendukung rencana pembangunan pabrik semen dan meminta masyarakat supaya tidak melakukan penolakan. Hapir semua statement yang dilontarkan oleh Pemkab (baik oleh bupati maupun staf-staf Pemkab) terkait dengan pro-kontra rencana pembangunan pabrik semen ini tidak ada yang mengindikasikan i’tikat baik kepada masyarakat yang kontra rencana pembangunan pabrik semen ini[6]. Pemkab juga tidak memiliki inisiatif untuk menemui dan membangun komunikasi kepada masyarakat yang kontra.

Menurut kesaksian masyarakat terkait dengan peran-serta pemerintah desa; apa yang dilakukan kepala desa dan perangkat desa tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Pemkab. Sekitar 95% kepala desa dan perangkat desa yang berada diwilayah yang masuk peta rencana pembangunan pabrik semen, disamping bersikap mendukung rencana itu juga melakukan intimidasi kepada masyarakat yang menolak. Sebagian mereka bahkan berperan sebagai makelar tanah untuk proyek ini. Bentuk intimidasi itu berupa pelarangan terhadap kegiatan-kegiatan yang dianggap mendukung penolakan rencana pabrik semen, menakut-nakuti warga yang tidak bersedia menjual tanahnya dengan berbagai modus, dan lain-lain[7].

VI. DAMPAK YANG DITIMBULKAN

Dengan 2000 hektar lahan yang akan digunakan untuk pabrik Semen Gresik, jelas akan memunculkan dampak pada lingkungan maupun masyarakat sekitar. Dampak dari akan dikeprasnya pegunungan kapur dan diambilnya tanah liat untuk bahan baku semen akan mengakibatkan beberapa dampak sebagai berikut:

  • Perubahan pada produktivitas, aktivitas produksi masyarakat setempat.
  • Perubahan fungsi lahan-lahan pertanian menjadi daerah hunian dan berbagai macam bangunan.
  • Perubahan fungsi lahan perikanan menjadi daerah industri dengan tingkat kepadatan yang tinggi.

Selain dampak lingkungan, industrialisasi akan membawa dampak sosial bagi masyarakat sekitar, antara lain:

  • Perpindahan tempat tinggal yang berarti tergusurnya masyarakat lokal dan digantikan oleh masyarakat pendatang yang memiliki modal lebih besar.
  • Hilangnya mata pencaharian sebagian besar masyarakat wilayah Pati Selatan yang menggantungkan hidupnya pada keberadaan lahan pertanian.
  • Hilangnya semangat kebersamaan dikarenakan tenaga kerja yang diserap oleh industri semen jelas tidak akan menampung seluruh tenaga kerja yang telah kehilangan lahan pertanian. Kondisi ini jelas akan memicu persaingan yang menjurus pada konflik pada masyarakat sekitar lokasi pabrik semen.
  • Rusaknya tatanan sosial dan budaya karena proses industrialisasi akan memunculkan banyaknya tempat-tempat hiburan yang cenderung menuju ke arah kemaksiatan.

Selain itu, proses penambangan secara besar-besaran akan membawa dampak pada keseimbangan lingkungan, misalnya perubahan ekosistem pada lingkungan sekitar, hilangnya sumber mata air, polusi udara, polusi suara, zat-zat beracun dalam limbah pabrik, dan perubahan suhu udara.

Dengan adanya bukti banyaknya bencana alam seperti banjir, kekeringan, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, lumpur Lapindo, dan lain-lain, satu-satunya jalan untuk mengurangi bencana tersebut hanyalah menghijaukan kembali Pegunungan Kendeng menjadi kawasan lindung. Hal ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional Pasal 53 Ayat 1 dan 3dan Pasal 60 Ayat 2 huruf ( c) dan ( F ).

Tulisan ini diringkas dari berbagai sumber


[1] Kabupaten Pati dalam angka, 2007.

[2] Ismalina, P., Valuasi Ekonomi, 2007.

[3] Acintyacunya Speleological Club –ASC, Laporan Survey Speleologi, Hidrogeologi Kars dan Permanfaatan Sumberdaya air Kawasan Kars Pati, Kec. Tawang Harjo dan Kec. Wirosari –Jawa Tengah-, 2008.

[4] Pusat Studi Manajemen Bencana UPN “Veteran” Yogyakarta dan Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta, KAJIAN POTENSI KARS KAWASAN SUKOLILO – PATI JAWA TENGAH, 2008.

[5] Harian Kompas, 1 Agustus 2008

[6] Semua dokumen pendukung terkait dengan hal ini bisa didapatkan di Yayasan SHEEP Indonesia Sekretariat Jawa Tengah; Jl. Ahmad Yani 06 Pati dalam bentuk dokumen kliping Koran.

[7] Warga bernama Salim Desa Tompe Gunung dan Purwati Desa Sumbersoko mengalami hal ini.

6 Responses to “Berfikir Jernih di Tengah Kisruh Pro-Kontra Rencana Pembangunan Pabrik Semen Gresik di Sukolilo”


  1. weh analisis teknisnya kayak orang teknik saja kamu dim. Hebat


  2. kami selaku masyarakat yang terdekat tentunya mendukung aedanya program SG yang akan masuk membangun pabrik di sukolilo. namun hal yang paling kita sikapi adalah bagaimana kita bisa berfikir jernih dan rasional, dampak pasti ada tapi bagaimana di minimalis sehingga tidak akan merusak tatanan yang sudah ada. kita sudah tidak jamanya berfikir mundur apapun harus di selaraskan dengan adanya kemajuan jaman. kami selaku yang sudah umur mestinya harus bersiap siap bagaimana generasi kita ke depan di samping kami sekolahkan apa langkah yang di persiapkan agar setelah selesai sekolah tidak bingung cari lapangab kerja.makanya ayo kita sambut adanya rencana SG masuk di desa kami. tapi jangan lupa sekaligus mengawasi kinerja dan dampak terburuk yang akan menimpa desa kami.semua pasti jalan yang baik.

  3. ideea Says:

    saya setuju dengan judul tulisan ini. ada beberapa tulisan yang sangat mirip diberbagai blog maupun release. atas komentar ifans team 25 saya juga sepakat. namun ada beberapa catatan bagi tulisan ini maupun komentar ifans team 25 :

    1. perlu disepakati bahwa studi kelayakan adalah upaya yang dilakukan untuk mengenali potensi, yang dalam hal ini potensi deposit kapur dan potensi bahaya (dampaknya). sehingga studi kelayakan berupa rekomendasi-rekomendasi dan pada akhirnya memiliki kesimpulan yang dapat menolak dan dapat menerima rencana tersebut. langkah dalam melakukan studi pun bukan upaya untuk instalasi pabrik.

    2. pembangunan memang tidak dapat dihentikan dan tidak dapat dihindari. perkembangan sosial dan dinamika masyarakat terus bergerak. sesuatu yang diawal dianggap sebagai baik bagi lingkungan bisa menjadi dicap sebagai perusak lingkungan (contoh DDT). begitupun sebaliknya. namun fakta pun perlu kita ungkap bahwa tidak sedikit wilayah nusantara dimana didaerah tersebut dibangun sebuah industri, masyarkat sekitar menikmati sumber daya alamnya. diangkat jadi buruh kasar di pabrik/industri tersebut mungkin sudah lebih dari baik. dijadikan tukang kebun, dijadikan satpam (no offense dan tanpa bermaksud mengecilkan tugas dan profesi yang telah disebut tadi).apakah lapangan pekerjaan seperti itu yang dikatakan sebagai penciptaan lapangan pekerjaan? adakah masyarakat sekitar industri menjadi makmur?? atau setidaknya hidup mereka menjadi lebih nyaman? pertanyaan tersebut tidak untuk dijawab cepat, mungkin sekedar buat perenungan kita bersama.

    3. penghargaan atas hukum. mungkin supremasi hukum sudah berada dalam dasar septipteng. namun upaya untuk menaati apa yang telah menjadi aturan maen sebaiknya perlu tetap dijaga. salah satu tujuan dari aturan maen tersebut adalah menyelaraskan upaya pembangunan dan kelangsungan hidup masyarakat. jika ditemukan indikasi (bahkan telah ditetapkan sebagai ) kawasan lindung, kenapa musti tetep diijinkan untuk kegiatan industri/tambang??? itulah gunanya zonasi. bukankah kawasan karst indonesia sejak awal tahun 80an telah berupaya dizonasikan? ya gunakan saja hasil-hasil zonasi tersebut. mana zonasi pemanfaatan mana zonasi konservasi.

    4. sayang sekali ifans team 25 tidak meninggalkan jejak untk diajak berdialog. padahal dialog ini penting dalam mencari solusi bersama.

    terima kasih atas kesempatan urun ketakketiknya pak.

  4. alamendah Says:

    kawasan karst merupakan kekayaan kita yang berharga. mungkin lantaran itu para birokrat di pemerintahan merasa sayang jika harus mewariskan kekayaan itu ke anak cucu kita (tentunya juga, ke pejabat setelahnya)

    nitip: http://alamendah.wordpress.com/2009/05/12/alamku-sayang-alamku-malang/


  5. Sepertinya gresik gak jadi ke Pati seiring dicabutnya izin gubernur. Kini gresik ngelirik Tuban. Moga2 betulan gak jadi, soale sukolilo adlh salah satu tmpt favoritku.
    http://alamendah.wordpress.com/2009/05/19/mantanku-semen-dan-air-di-sukolilo/

  6. syawal88 Says:

    maaf setahu saya ada beberapa tampilan diatas merupakan penelitian seseorang kalau tidak salah dari UPN ada baiknya memberikan keterangan sumber untuk menghargai penelitian tersebut


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: