Dari Novel Menuju Film

Oktober 13, 2011

Novel “Negeri 5 Menara” karya A. Fuadi yang kaya akan kisah inspiratif meledak di pasaran sejak cetakan pertamanya pada Juli 2009, kini sudah mencapai 170.000 kopi. Semua cerita yang tertutur di buku setebal 422 itu terinspirasi dari kisah nyata perjalanan hidupnya yang berserak dari mulai masa kecil di ranah Minang, lalu merantau ke tanah Jawa untuk menimba ilmu agama di Pondok Modern Gontor Ponorogo, hingga belajar di luar negeri. Kesemuanya ditulis dengan gaya sastra sehingga enak dibaca dan dibalut dengan nilai-nilai luhur kehidupan yang ia peroleh sewaktu nyantri di Gontor sehingga mampu mengobarkan aras semangat diri siapa saja yang membacanya dengan mantra sakti man jadda wajada.

Segera saja tawaran untuk memfilmkan novel tersebut datang dari sejumlah rumah produksi. Awalnya, Fuadi enggan, namun setelah ditimbang-timbang kembali demi asas kemanfaatan sesama akhirnya Fuadi memilih Kompas Gramedia dan Million Picture untuk mengerjakannya dengan sutradara muda berbakat Afandi Abdurrahman. Sementera untuk urusan skenario dipercayakan kepada penulis skenario kondang, Salman Aristo.

Namun ada kekhawatiran dari beberapa kalangan ketika novel yang ”super” indah dan inspiratif itu difilmkan. Sebab kedahsyatan cerita dalam sebuah novel seringkali tereduksi manakala divisualisasikan. Banyak sudah contoh bagaimana novel-novel hebat sebelumnya ceritanya menjadi “dangkal” ketika tampil dalam bentuk gambar. Fuadi sejatinya sudah menyadari kemungkinan akan resiko ini, tapi dia tak seberapa merisaukannya. Sebab, niat dibuatnya film ”Negeri 5 Menara” bukan semata untuk mengejar prestisiusme di jagad perfilman melainkan lebih pada alasan kemanfaatan lebih luas. Logikanya, meskipun menjadi buku best seller, terjual 170.000 kopi, tapi jumlah itu tak seberapa bila dibanding jumlah penduduk Indonesia. Dengan film diharapkan lebih banyak lagi masyarakat yang bisa tertular semangat novel tersebut, karena dunia film lebih mudah dan disukai masyarakat.

Ingin tahu lebih lanjut bagaimana respon sang penulis tentang karyanya yang sebentar lagi akan dijadikan film ini, dan bagaimana kisah perjuangan dia saat awal menyiapkan naskah ”Negeri 5 Menara” yang bahan ceritanya sudah tertimbun belasan tahun silam? Pertengahan Juni 2011 lalu, saya dan dua teman dari majalah intrepreneur bersilaturrahim ke kediaman Fuadi di Bumi Bintaro Permai dan berbincang-bincang mengenai banyak hal. Kurang lebih dua jam lamanya kami ngobrol di dalam suasana penuh keramahan dengan ditemani bercangkir-cangkir teh hangat.

Apa yang melandasi Mas Fuadi menulis buku Negeri 5 Menara itu?

Saya sangat beruntung masuk Gontor. Jadi 4 tahun itu begitu berkesan karena banyak sekali yang saya dapat: semangat, tujuan hidup, dan macam-macam. Dan saya memang ingin menulis tentang Gontor dari dulu tapi selalu tertunda. Jadi tahun 2007 itu sampai pada titik bahwa mungkin sudah saatnya menuliskannya. Jadi ada masa dimana saya sudah merasa semua sudah sampai: sudah keliling dunia, sekolah di luar negeri, master di Amerika, master di Inggris, sudah kerja di luar negeri juga sebagai direktur komunikasi di NGO internasional. Jadi sudah pada zona nyaman sekali. Tapi ingat lagi kata-kata Pak Kyai yang suka mengutip hadis, khoirunnas anfa’uhum linnas, bahwa sebaik-baiknya kita adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Saya pikir bagaimana ya bermanfaat itu?

Dulu Pak Kyai selalu bilang, apapun pekerjaan kalian selalu sempatkan mengajarkan, karena mengajar itu membuat ilmu bermanfaat. Waktu itu saya tidak mengajar. Saya pikir, wah saya harus melakukan sesuatu agar saya bisa bermanfaat, mungkin dengan menulis. Jadi itu kombinasi: ingin menemukan manfaat lebih dengan menulis, ingat lagi keinginan dulu ingin menulis tentang Gontor, ketiga karena dorongan istri saya. Istri saya kan orang Jakarta, jauh dari pesantren. Waktu saya cerita lucu-lucunya pesantren dia tertarik, ”Wah, hebat sekali pesantren. Ini harus ditulis. Ini inspiratif, enggak banyak orang yang tahu.” Jadi kombinasi dari 3 hal itu.

Kesulitannya seperti apa?

Kesulitannya adalah itu kan cerita yg sudah belasan tahun lalu. Nah, yang pertama saya lakukan adalah saya buka diary. Jadi di meja komputer saya itu diary zaman-zaman dahulu menumpuk. Saya pulang, saya bongkar buku-buku dari Gontor. Di Gontor itu ada budaya bagus, semua orang pas lulus harus punya buku lengkap dari kelas satu sampai kelas enam, baik catatan maupun buku teks. Buku man jadda wajada pertama saya itu masih ada, 20 Juni 1988, hari pertama.

Semuanya itu bring back all memories. Melihat buku yang sudah kuning itu jadi ingat lagi masa-masa dulu itu. Terus saya punya foto-foto zaman masih di Gontor. Gontor itu menekankan kita perlu punya arsip pribadi. Setiap kelas wajib punya foto bersama. Itu sampai mengorbatan kegiatan lain selama satu hari untuk foto, saking pentingnya. Semua orang harus punya, satu kamar harus punya foto, satu club pidato harus punya, satu regu pramuka harus punya.

Terus saya mulai riset karakter teman-teman. Saya mulai kontak satu-satu. Ada yang belum saya kontak, entah gimana, ajaib juga, tahu-tahu ketemu di mana. Antara lain teman-teman yang jadi karakter di novel itu saya ajak ngobrol lagi, ”Eh, dulu kita gimana?” Jadi seperti wartawan saja bikin investigasi, ngumpulin semua bahan, terus saya bikin semacam outline-nya, outline-nya kan sebetulnya kronologis saja. Udah, tiap hari saya cicil. Habis subuh saya duduk di depan komputer, barang setengah jam lebih. Kemudian saya pergi ke kantor, nanti jam makan siang kadang-kadang saya tambahi lagi. Malam saya tambahi. Sehari saja, misalnya sehari saya dapat setengah halaman, kali 365 hari kan dapat hampir 200 halaman. Lama-kelamaan satu setengah tahun jadi buku juga. Jadi refresh memori itu dengan berbagai cara.

Tapi satu lagi yang unik, waktu pulang ke Padang, saya bilang ke Ibu bahwa saya mau nulis novel. Terus ibu saya ngasih sesuatu, setebal buku. Itu kumpulan semua surat saya yang saya tulis dan kirim ke ibu selama 4 tahun di Gontor, dikasih nomor lagi sama ibu saya. Jadi semuanya itu alhamdulillah dimudahkan, saya punya semua bahan: diary ada, surat ada, foto-foto ada, teman-teman yang bisa dikontak ada. Sudah, tinggal saya mau menuliskan atau tidak.

Apakah ada kendala soal waktu dan penulisannya?

Beruntung saya pernah jadi wartawan. Wartawan kan enggak boleh enggak mood. Kalau enggak mood enggak terbit. Saya menganggap ini seperti nulis berita saja. Nah, kekurangannya kemudian banyak kritik juga, ini novelnya bagus tapi kayak reportase. Saya bilang, alhamdulillan berarti saya wartawan benar, kan saya enggak berpretensi jadi sastrawan, cuma buat cerita saja.

Jadi kombinasi itu. Pertama, niat dulu. Niatnya kan bagaiamana saya bermanfaat, bagaimana berbagi sesuatu. Itu luar biasa, karena kalau saya enggak sampai menemukan niat itu mungkin malas kali saya nulis. Pertama saya kerja tiap hari, terus sudah dalam zona kenyamanan, ngapaian sih nulis. Kedua, yang saya tulis adalah yang saya peduli, yang saya tahu, yang saya care, yang saya suka. Jadi tulisannya mungkin lebih berwarna. Terus saya lakukan secara konsisten tiap hari dan referensinya banyak. Saya juga riset berbagai hal. Terus saya juga sambil belajar. Istri saya belikan buku How To Write A Novel. Sebelumnya kan enggak pernah tahu novel, baca novel saja enggak senang. Kemudian istri saya pesan lagi ke amazone.com–karena dia punya akun di sana–buku How To Write Dialogue. Terus buku How To Write Caracter. Jadi itu adalah sebuah pekerjaan yang asik sebetul, nulis sambil belajar.

Waktu awal-awal bikin buku apakah Mas Fuadi sudah punya keyakinan bahwa novel ini bakal booming?

Balik ke niat awal. Bukan booming ukurannya tapi bermanfaat atau enggak. Kalau dia booming itu bonus. Cuma feeling saya bilang begini: menurut saya ini inspiratif, saya merasa terinspirasi mungkin orang lain juga terinspirasi.

Jadi kata kuncinya adalah manfaat tadi?

Ada di situ. Saya bilang, event before you start writing sesuatu itu harus ada investigasi ke dalam dulu, saya nulis buat apa. Reason (why)-nya harus dapat. Kalau enggak, energi nulisnya kurang kuat. Nanti nulisnya cepat, habis itu sebulan pelan, habis itu berhenti. Nah, itu kan sebenarnya dapatnya di pesantren. Selama ini kan dikhutbahin aja tuh, innamal a’malu binniyah, tapi sekarang makin kesini makin terasa: iya ya ini yang dimaksud.

Dengar-dengar novel Negeri 5 Menara mau difilmkan?

Iya.

Apa pertimbanggannya menfilmkan novel ini? Karena beberapa novel yang populer ketika mau dipindahkan ke bahasa visual terjadi banyak reduksi. Bagaimana penilaiaan Mas Fuadi tentang hal itu?

Film itu bonus juga, Mas. Niat awalnya kan bermanfaat. Jadi setelah terbit sebulan ada PH besar yang telepon, kami tertarik memfilmkan. Kaget saja, oh sudah ada yang mau memfilmkan. Tapi dalam pikiranku, ah nanti saja lah. Terus bulan depan ada PH yang lain, ada lagi, ada lagi. Kalau dihitung-hitung mungkin ada 10 PH yang tertarik. Mungkin mereka melihat potensi cerita dan novel ini sudah booming. Terus saya pikir, mungkin sudah saatnya, karena kembali ke niatnya, yaitu bisa bermanfaat. Mungkin dengan film bisa lebih bermanfaat lagi. Orang Indonesia itu kan budaya literasinya kurang. Negeri 5 Menara sudah dianggap best seller, sudah terjual 170.000 kopi, itu sudah hebat. Tapi penduduk Indonesia sekarang berapa? Jadi sangat sedikit. Sementara kalau orang nonton film itu banyak, sejutaan. Dan masuk akal ya, buku beli puluhan ribu, lalu butuh berhari-hari untuk baca. Nonton film berapa jam? Harga tiketnya berapa sekarang? Jadi seklai lagi efek kemanfaatannya, sharing inspirasinya mungkin lebih banyak. Saya pikir ya udah, ayo kita filmkan.

Pertanyaan Mas tadi benar tuh: resiko ketika sebuah novel difilmkan. Tapi kalau saya melihatnya dia dua media yang berbeda: buku adalah buku, film adalah film. Jadi tidak bisa dibanding-bandingkan. Setiap orang yang baca buku dia punya bioskop sendiri di kepalanya. Sama-sama baca buku tapi yang dibayangkan tokohnya itu enggak selalu sama persis. Pasti beda. Karena masing-masing ada di kepala orang. Sementara novel difilmkan itu teathre of mind-nya sutradara, jadi pasti banyak orang yang bayangannya enggak seperti yang saya bayangin.

Kedua, film itu durasinya maksimal berapa? Dua jam itu sudah hebat. Buku, 300 atau 400 lembar, enggak muat di sana (kepala). Pasti akan ada yang dikurangi, ada yang dilompati, ada yang dipadatkan, ada yang mungkin ditambah atau dikurangi. Yang jelas tidak bisa di-compaire dan pasti berbeda. Nah, yang saya harap yang enggak berbeda adalah semangatnya tadi. Kan spiritnya man jaddah wajada, dan jangan pernah remehkan impian setinggi apapun, Tuhan itu maha mendengar. Kalau story itu agak susah kita banding-bandingkan. Itu bagian dari resiko kalau difilmkan.

Jadi Mas Fuadi sebenarnya sudah menyadari sejak awal mengenai resiko itu?

Iya.

Sejauh mana mas Fuadi mengawal proses film ini agar tidak terlalu jauh dari yang di novel, meskipun pastinya masih ada reduksi?

Film kan sebuah industri. Dia sudah punya caranya sendiri, sudah ada ahlinya. Saya penyedia bahan dasarnya. Bahan dasar ini akan diolah lagi untuk jadi film. Pertama dijadikan skenario.

Kalau boleh tahu, penulis skenarionya siapa?

Salman Aristo. Dia juga menulis Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta. Jadi yang adaptasi dari Novel, Salman Aristo ini sudah terbukti. Jadi saya percayakan kepada dia. Tapi saya dianggap creative consultant. Jadi setiap ada draf skenario pasti masuk ke saya, saya kasih masukan, nanti dibenerin, dibikin draf baru, bolak-balik, selalu saling melengkapi untuk menjaga di skenario agar alur semangatnya tetap sama. Kalau yang lainnya, misalnya casting, casting kita ramai banget loh, sehari itu bisa 150 orang yang ngantri.

Castingnya di mana saja?

Dua kali di Graha Obor, Kemang. Terus kemarin muter ke kota-kota besar.

Untuk PH yang menggarap?

Kompas Gramedia dan Million Picture.

Sutradaranya?

Afandi Abdurrahman, sutradara muda berbakat.

Penulisan skenarionya sendiri dimulai sejak kapan?

Hampir setahunan, 2010.

Targetnya selesai sampai kapan?

Baru tadi kita udah lock script. Sekarang sudah pindah ke sutradara. Akhirnya Juli sampai Agustus akan dilakukan syuting, Dan rencananya awal tahun nanti sudah tayang. Nanti settingnya di Maninjau (kampung saya), di pesantren (Jawa), terus di London.

Kalau boleh tahu, pemain utamanya siapa?

Pemain utamanya belum akan diumumkan sampai akhir bulan ini, karena kan casting-nya baru saja selesai. Calon-calon kuatnya sudah ada.

Siapa saja itu?

Belum bisa disebutkan karena beberapa calon kan belum tandatangan.

Tapi pakai artis-artis yang sudah ngetop enggak?

Kalau pemeran utama, anak-anak itu, orang baru semua, fresh tallent, kan kita mencari lokalitas. Itu anaknya ada yang dari Padang, Medan, dll. Terus usianya SMP/SMA, tapi nanti dicampur dengan pemeran yang lain-lain, bukan yang utama, itu sudah ada yang terkenal.

Jadi tokoh asli dalam novel ini tidak akan ada yang masuk di film ini, semuanya diberikan pada yang profesional dan sesuai umur waktu itu. Jadi setting pertama itu tahun 1988. Itu masih muda sekali. Terus setting terakhirnya tahun 2003.

Untuk pesantren settingnya ambil Gontor?

Belum tahu. Gontor itu punya sebuah tradisi yang paling penting itu sekolah/kelas itu tdk boleh terganggu, apapun yg terjadi. Nah, kalau syuting bayangkan Mas bisa 30 hari, krunya bisa 200 orang.

Jika gitu rencananya untuk ngambil setting gontor itu di mana?

Udah ada kandidat yg kuat tapi belum diputuskan buat bulan depan. Jadi mungkin di pesantren yang lain.

Tapi tetap di Jawa Timur?

Belum tahu juga, ada bberapa kandidat.

Yakin enggak film ini bakal sesuai dengan reason tadi?

Ya kan sudah diusahakan. Menurut saya sih hutang kita itu kan usaha sekuat mungkin, berdoa sekuat mungkin. Ya sudah, abis itu jangan dipikirkan lagi.

Mas Fuadi kan masih memegang teguh nilai-nilai dari gontor, nah kira2 dg novel yg booming dan sebentar lagi akan dilanjutkan dg film ini, kira2 itu masuk dalam definisi manfaat versi gontor tadi?

Seharusnya yg merasakan manfaat itu orang yg membacanya. Kalau dari saya meilihat sepintas, alhamdulillah, ada manfaatnya. Misalnya yg paling gampang baca di facebook, itu wall-nya penuh. Ada yg bilang, gara2 ini saya kembali mengerjakan skripsi, gara2 ini tiba2 anak saya ingin masuk pesantren, gara-gara ini saya ingin bikin pesantren udah ada tanahnya di Malaysia, saya mau bikin tempat ibadah namanya bingung saya kasih saja man jadda wajada, dan kalau bikin rumah ibadah yang kedua akan saya kasih nama man sobaro zhafiroh. Jadi kalau lihat yang itu, ternyata dia menembus ke banyak level, mulai dari anak kecil yg tersemangati untuk belajar lebih giat lagi. Kemarin di twitter ada yg bilang, benar juga man jadda wajada terbukti dengan nilai raport saya. itu penuh banget, nanti bisa kita lihat.

Jadi kalau itu ukuran manfaatnya menurut saya alhamdulillah sudah sampai. Satu saja yang merasa bermanfaat saya sudah syukur Mas. Kalau banyak ya syukur alhamdulillah.

Filmnya judulnya sama dg judul novelnya?

Insyaallah sama. Yang lagi berjalan sekarang ini adalah penerjemahan novel negeri 5 menara ke bahasa inggris. Nah itu judulnya belum tahu apa ke dalam bahasa inggrisnya, masih dicari-cari. Itu launching bahasa inggrisnya mungkin Oktober 2011. Kalau bahasa Melayunya sudah terbit. Dan rencananya mau ke bahasa Arab juga, tapi masih belum pasti. [ ] Muhammad Kodim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: