Membela Mimpi

Oktober 13, 2011

Banyak orang yang kini terkadang untuk bermimpi saja tak berani. Runyamnya kehidupan membuat mereka harus menekuk asa dan cita. Melalui novel Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi mengajak kita semua untuk membela habis-habisan impian setinggi apapun dengan semangat man jadda wajada. Itulah prasyarat untuk menjadi pribadi yang sukses.

Rute kesuksesan, menurut Fuadi, selalu dimulai dari sebuah impian. Karenanya jangan sekali-kali meremehkan impian kita sendiri. Seringkali seseorang merasa impiannya terlalu tinggi, sehingga kemudian menjadikan dia malas karena pesimis bakal bisa mewujudkannya. Karena itu, serunya, jangan pernah takut untuk bermimpi karena Tuhan itu Maha Mendengar.

”Kamera itu (menunjuk ke kamera merek Nikon yang dibawa oleh salah satu kru intrepreneur) mungkin 200 tahun lalu tidak ada, tapi ada di impian seorang Nikon, penciptanya. Tapi dia tidak pernah meremehkan, lalu dibikin sama dia, jadi ada. Dan sekarang Anda menggunakannya. Jadi segala sesuatu di dunia itu pernah hanya di level impian, lalu dia jadi materialize,” ujar pria berkacamata ini untuk meyakinkan tentang pentingnya sebuah impian.

Impian tersebut harus dicapai melalui usaha maksimal dengan semangat man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Inilah kalimat motivasi sakti yang menjadi ruh dalam novel tersebut. ”Bersungguh-sungguh itu seperti apa?” sahutku. ”Melebihkan usaha dari orang lain,” jawabnya singkat. Karena orang yang terbaik itu biasanya yang lebih dari rata-rata.  Pendek kata, jika ingin mendapatkan lebih dari rata-rata, usahanya pun harus lebih dari rata-rata pula.

Namun usaha yang luar biasa bukanlah jaminan untuk bisa sampai ke impian atau cita-cita. Karena itu perlu tali perantara man sobaro zhafiro, siapa yang bersabar dia beruntung. ”Saya dulu pernah kuliah, belajar habis-habisan, pinginnya dapat nilai A plus tapi dapatnya malah apes, padahal sudah usaha,” ungkapnya membuktikan bahwa ternyata selalu ada jarak antara usaha dan keberhasilan. Jaraknya bisa hanya selangkah atau bahkan puluhan kilo, bisa juga hanya sedetik atau bahkan puluhan tahun. Jarak inilah yang harus diisi dengan kesabaran. Jika tak ada yang mengisinya tentu tak bisa sampai pada impian.

”Sabar itulah yang mengantarkan kepada keberuntungan dan keberhasilan. Dan sekali lagi, impian itu harus tetap kita bela habis-habisan. Karena Tuhan itu bersama orang yang sabar,” tegas pria yang menguasai empat bahasa ini: Indonesia, Arab, Inggris dan Perancis.

Di tengah kesabaran itu, harus pula ada doa dan syukur. Setelah itu stop sudah. Karena berikutnya sudah domain Tuhan. Maka yang perlu kita lakukan adalah tawakkal (berserah) dan khusnuzdhon (berperasangka baik). ”Toh semua usaha sudah habis, semua doa sudah kita panjatkan, semua kesabaran sudah kita kerahkan, enggak boleh stres lagi,” pesan mantan wartawan CJSR 3 TV Communautaire, St-Raymond, Quebec, Kanada ini.

Kesuksesan = Kemanfaatan

Banyak orang yang mendefinisikan dan mengukur kesuksesan dari materi: orang suskses adalah mereka yang bergelimang harta, punya rumah dan mobil mewah, sering jalan-jalan ke luar negeri. Namun tidak demikian bagi alumni Pondok Modern Gontor yang satu ini. Menurut pria yang akrab disapa Fuadi ini, ukuran kesuksesan adalah kemanfaatan. Seorang dikatakan sukses manakala ia bisa memberi manfaat bagi orang lain, bukan hanya untuk dirinya sendiri.

”Saya senang banget dengan definisi hadis Nabi, khoirunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain, bukan bermanfaat bagi diri kita sendiri,” papar peraih beasiswa Fulbright, Program Pascasarjana, The George Washington University (1999-2001) ini.

Memberikan manfaat bagi orang lain tentu dengan caranya masing-masing, karena setiap manusia punya kemampuan untuk bermanfaat dengan caranya sendiri. Seorang penulis akan memberi manfaat kepada orang lain dengan menulis; seorang guru dengan mengarjar; seorang jurnalis dengan sajian berita dan informasinya, dan seterusnya. “Jadi everything single person itu punya ability untuk bermanfaat, tinggal kita mau memanfaatkan atau tidak,” tegasnya.

Dari kemanfaatan sosial itu pulalah antara manusia dan hewan bisa dibedakan. “Kita itu kan bukan kambing, bukan burung. Kalau kambing itu kan sudah happy, apalagi burung, pagi dia nyanyi, sore nyanyi. Dia sudah happy dengan sibuk cari makan, sibuk punya anak, sibuk bikin sarang. Dia bermanfaat buat dirinya tapi bukan buat burung lain. Dan manusia harus bermanfaat buat yang lain. Itu bedanya,” ujarnya mengutip kata-kata Kyainya yang sering dipesankan kepadanya semasa masih nyantri di Gontor.

Al hasil, ukuran kesuksesan bukanlah materi tapi kemanfaatan sosial. ”Orang yang besar, orang yang sukses, menurut ukuran Gontor itu bukan presiden, bukan pejabat, bukan pula pengusaha. Bisa jadi orang itu besar karena dibesar-besarkan orang lain atau merasa besar. Orang besar sebenarnya adalah orang yang pergi mengajarkan sebaris-dua baris pengetahuan di sebuah kampung yang kecil di balik sebuah bukit dengan ikhlas.” Begitulah ukuran dan definisi sukses ala Fuadi.

Masa Kecil di Ranah Minangkabau

Ahmad Fuadi lahir di sebuah kampung kecil di pinggir Danau Maninjau, Bayur namanya. Ia hidup dan tumbuh di tengah keluarga pendidik; ibunya seorang guru SD, ayahnya pernah jadi guru Madrasah, dan kakeknya adalah kepala Madrasah. Meski secara ekonomi biasa-biasa saja, namun keluarga Fuadi adalah keluarga yang sangat menghormati ilmu, terlebih ilmu agama.

Walaupun orang kampung, tapi kakek Fuadi memiliki ruangan khusus yang penuh dengan rak beserta bukunya, mulai dari buku berbahasa Indonesia, bahasa asing, dan kitab-kitab berbahasa Arab. Fuadi mengaku senang sekali ketika berada di dalam ruangan itu. Karena belum bisa baca, ia pun biasanya membuka-buka buku yang banyak gambarnya. Ada salah satu buku berukuran tebal yang ia suka, karena berisi segala macam gambar, serupa ensiklopedi, tapi bertuliskan Arab. Al-Munjid nama kitab itu.

Kakek Fuadi termasuk orang yang sukses mendidik anak-anaknya. Pak Tuo (Pakde) Fuadi berhasil kuliah di Universitas Indonesia (UI). Bagi orang kampung, adalah suatu kebanggaan luar biasa. Lulus UI, dia dapat beasiswa ke Swedia. ”Nah, Pak Tuo suka kirim postcard, kirim surat. Di postcard itu biasanya ada gambar klub sepak bola Buyer Munchen. Terus dia juga suka kirim foto pas musim dingin, dia kirim foto yang sedang pegang salju. Wah, saya ingin bisa pegang salju. Saat itu saya sudah kebayang-bayang, dunia itu luas ya. Dan itu saya dapatkan dari sebuah kamar, kamar kakek saya yang hanya guru madrasah. Saya mendapatkan dunia baru di sana,” ungkapnya menceritakan.

Sementara ibunya, Suhasni, adalah seorang yang suka membaca. Selalu ada buku di mejanya. “Jadi kalau beli oleh-oleh gitu belinya buku, koran, majalah,” ceritanya. Selain membaca, ibunya juga senang menulis diary. Fuadi kecil pun jadi ikut-ikutan senang menulis diary.

Suhasni selalu mengajarkan tentang kejujuran hidup. Saking jurjurnya, Fuadi pernah diberi nilai 5 dalam raportnya. “Seumur hidup baru sekali itu saya dapat nilai merah, pelajaran kesenian. Dan yang memberikan nilai itu ibu saya sendiri. Orang lain nggak ada yang dapat lima, cuma saya,” keluhnya waktu itu. ”Habisnya kamu disuruh maju ke dapan nyanyi beberapa lagu tapi kamu tidak mau, ya udah, kamu dapat lima,” jawab Suhasni menghadapi protes Fuadi kecil.

Setelah dewasa Fuadi baru mengerti tentang nilai 5 itu. “Jadi ibu saya mengajarkan integritas dengan cara tanpa berkhutba. Kalau nggak patuh, nggak sesuai dengan peraturan ada resikonya, bahkan anak sendiri pun dapat nilai lima.”

Dalam soal disiplin ibunya adalah sosok idealis. Ia tak mau korupsi waktu. ”Jadi kalau guru lain datang pas jam mengajar, ibu saya itu datang ke sekolah bahkan sebelum penjaga sekolah itu datang. Jadi dia yang buka sekolah, nyapu-nyapu dulu. Jadi dia melakukan sesuatu itu dengan sebenar-benarnya, dengan hati dan melebihi dari apa yang diharapkan orang lain, karena loyalitas. Nah, mungkin pelan-pelan masuk ke dalam alam bawah sadar anak kecil dan mungkin sekarang semakin terasa berarti buat saya,” ungkapnya menyadari.

Masyarakat di sekitar Danau Maninjau cukup religius. Mereka menghargai ilmu agama, mungkin karena kampungnya Buya Hamka. Di sana, pelajaran mengaji itu wajib. Selain religius juga tradisional. Dalam arti mereka masih mempercayai betul legenda Malin Kundang, jadi anak-anak di sana seolah mewajibkan dirinya untuk patuh dan menghormati orangtua, terlebih sang ibu.

Setelah lulus, Fuadi melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah (setera dengan SMP). Sejatinya dirinya ingin masuk SMP, tapi sang ibu ingin anaknya menjadi ahli agama, pemimpin agama, atau istilahnya ulama intelek. Fuadi ingin protes, tapi kultur Minang membuatnya harus melunak terhadap orangtua. Hal serupa juga terjadi ketika ia lulus Tsanawiyah dan ingin melanjutkan ke sekolah umum, SMA.

Fuadi akhirnya kompromi, meski sempat ”ngambek” berhari-hari. Ia mau masuk sekolah agama tapi sayaratnya harus di luar Sumatera Barat dan jauh dari keluarga. Hingga akhirnya ia memilih nyantri di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

Nyantri Setengah Hati

Fuadi meninggalkan ranah Minangkabau menuju Pondok Gontor dengan setengah hati. Perjalanan itu ia sebut mix feeling. Satu sisi menjadi santri bukanlah yang diimpikan, tapi sisi lain itu sebuah perjalanan menuju tempat yang baru sama sekali yang tidak pernah ia tahu sebelumnya. Gembira bercampur lara.

“Tapi pas masuk Gontor exited-nya nambah, karena bener-bener melihat hal yang baru, sebuah tempat di tengah-tengah kampung tapi orangnya tiga ribuan, datang dari berbagai tempat. Orang-orangnya berbicara bahasa Arab, bahasa Inggris, asyik nih kalau bisa seperti ini,” pikir Fuadi kala itu yang mulai tergoda.

Meskipun ia terkendala imla’ (salah satu materi tes masuk di Gontor), namun akhirnya lulus juga setelah dapat bimbingan belajar dari kumpulan kakak-kakak seniornya asal Minang yang sudah lebih dulu nyantri di sana. Pelajaran pertama yang ia dapat adalah mantra sakti man jadda wajadah, seperti yang ia tulis dalam novel Negeri 5 Menara.

Gontor boleh dikata pesantren yang multi budaya. Semua provinsi terwakili, bahkan dunia. Karenanya ia menyebut Gontor sebagai “dunia kecil”. Semasanya, santri yang mondok di sana ada yang dari Australia, Malaysia, Singapura, Thailand, Suriname. Umur mereka pun beragam, mulai dari yang muda hingga tua. Dalam pergaulan, Fuadi mengaku senang ngobrol dengan santri yang secara usia di atasnya.

Selain ingin menciptakan pribadi yang berbudi luhur, berbadan sehat, berpengetahuan luas, Gontor juga mengajarkan tentang kebebasan berpikir. Semua santri bebas memilih madzhab tanpa harus terbelenggu salah satunya. Di sana tak ada madzhab fikihnya. ”Kitab fikih kita itu Hidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusdy yang mengkaji empat mazhab. Semuanya dipelajari dan tidak pernah ada order dari Pak Kiai maupun ustad untuk memilih salah satu madzhab. Ada yang mau qunut boleh, nggak qunut juga nggak apa-apa,” terangnya mangagumi.

Yang istimewa dari Gontor, salah satunya, adalah pelajaran bahasa. Di sana, bahasa dibuat big deal. “Kita nggak punya pilihan untuk mendengarkan bahasa lain. Semua bunyi-bunyian, seperti pengumunan itu menggunakan bahasa Arab-Inggris, cuma bunyi ketawa saja yang nggak Arab-Inggris hahaha…,” ceritanya seraya tertawa.

Hari-hari di Gontor padat dengan kegiatan. Membuatnya tak sempat lagi bermalas-malasan. Sebuah komunitas yang tak pernah padam mengobarkan semangat, dan siapapun yang di sana merasakan sengatannya.

Empat tahun nyantri di Gontor–dari 1988 hingga 1992–banyak pelajaran hidup yang ia petik: tentang kedisiplinan, kejujuran, mimpi, semangat usaha, kemanfaatan sosial, dan keikhlasan. Uswatun hasanah menjadi contoh yang ia lihat sehari-hari. ”Pak Kyai selalu bilang, kami ikhlas mengajar kalian maka ikhlaskanlah diri kalian untuk diajar,” tuturnya menirukan. Keikhlasan itu diperlihatkan, bukan sekedar diucapkan. Semua ustad di sana tidak digaji, hanya ikhlas mengajar saja. Karenanya tak ada transaksi moneter dan uang, yang ada adalah transaksi ibadah.

Nilai-nilai tersebut melekat begitu kuat dalam diri Fuadi, menjadi tongkat penuntun bagi petualangan dia berikutnya.

Berburu Beasiswa Luar Negeri

Keinginan Fuadi untuk sekolah umum rupanya tak pernah pupus. Usai dari Gontor, dirinya mengikuti UMPTN. Meski dengan susah payah, akhirnya lulus juga dan diterima di Hubungan Internasional, UNPAD, Bandung.

Impiannya sejak kecil untuk bisa pergi ke luar negeri tetap menggelora. Awal masuk di UNPAD, ia sudah sibuk mencari beasiswa. Tanya sana tanya sini. Akhirnya dapat juga informasi pertukaran pemuda antarnegara. ”Saya kemudian ikut tes dan ternyata dapat Kanada di tahun 1995.”

Kesempatan itu tak disia-siakan. Demi ke Kanada, dia rela cuti kuliah satu semester. Sepulang dari sana, kuliahnya kembali dikejar. ”Kalau kuliah ini bisa sajalah dikejar tapi ke luar negeri ini enggak bisa,” pikirnya.

Hasrat ke luar negeri kian membuncah. Setelah dari Kanada ia kian ”bernafsu” untuk menjelajah negara-negara lain. ”Coba cari lagi ah,” serunya dalam batin. Akhirnya dapat di National University Singapore untuk satu semester.

Sepulang dari Singapura, Fuadi kembali melanjutkan kuliahnya yang ”terbengkalai” hingga akhirnya lulus pada tahun 1997. Setamat dari UNPAD, dirinya kemudian sibuk mencari kerja. ”Ternyata susah juga cari kerjaan, karena waktu itu bersamaan dengan krisis moneter,” keluhnya.

Tapi dasar nasib mujur, Fuadi yang sejak kuliah sudah aktif menulis di berbagai media nasional maupun lokal itu akhirnya diterima bekerja di Tempo. Saat itu Tempo baru terbit lagi setelah dibredel. Baru setahun di Tempo, tepatnya 1998, dia mendapatkan beasiswa Fulbright untuk kuliah S-2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Sambil kuliah, dia menjadi koresponden Tempo dan wartawan VOA. Dua tahun lamanya ia berada di Amerika bersama sang istri tercintanya, Danya “Yayi” Dewanti.

Kesempatan untuk menjelajah negeri orang kembali datang di tahun 2004. Fuadi mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London. Dan terakhir, ia menjadi Direktur Komunikasi di NGO konservasi: The Nature Conservancy.

Fuadi benar-benar sudah berada pada zona aman, semua yang diinginkan sudah tercapai: sudah keliling dunia, sekolah ke luar negeri, master di Amerika dan London, dan sudah kerja di NGO internasional. Lengkap sudah.

Saat itulah Fuadi teringat kembali dan terusik dengan kata-kata sang Kyai, khorunnas anfa’uhum linnas. ”Saya berpikir, bagaimana ya supaya saya bisa bermanfaat bagi orang lain?” Dia pun mulai risau.

Pikir punya pikir, Fuadi akhirnya memutuskan untuk menulis tentang Gontor, mengingat pula bekal jurnalistiknya sudah sarat. Keinginan itu sebenarnya sudah lama, tapi selalu tertunda. Kenapa Gontor? Baginya, Gontor merupakan ”kawah candra dimuka” yang memberi kesaktian hidup pada dirinya. ”Saya sangat beruntung bisa masuk Gontor,” syukurnya. Selain itu dia mendapat dukungan penuh dari sang istri.

Menyegarkan Kembali Ingatan Masa Lalu

Tahun 2007, Fuadi mulai menata niat untuk menuliskan pengalaman-pengalaman inspiratifnya sewaktu di Gontor. Tapi ini tentu bukanlah pekerjaan mudah. Sebab ia harus menggali kembali cerita-cerita tentang Gontor yang sudah tertimbun belasan tahun silam.

Beruntung dulunya dia gemar menulis diary yang kini tertumpuk di mejanya. Fuadi mulai membuka diary-diary itu. Ingatan-ingatan lama yang sudah mulai rapuh pun menjadi segar kembali.

Setelah itu Fuadi pulang ke kampung halamannya, membongkar buku dan kitab-kitab dari Gontor yang masih tersimpan rapih nan lengkap. Dalam soal pengarsipan, Gontor memang memiliki tradisi yang patut diacungi jempol. Semua santri saat lulus dari pondok diharuskan punya buku lengkap dari awal ia masuk hingga tamat, baik buku catatan maupun buku teks. ”Buku man jadda wajada pertama saya itu masih ada, tanggal 20 Juni 1988,” ujarnya membuktikan.

“Semuanya itu bring back all memories, melihat buku yang sudah kuning itu saya jadi ingat lagi masa-masa itu. Terus saya punya foto-foto zaman masih di Gontor. Gontor itu menekankan kita perlunya punya arsip pribadi. Semua orang harus punya, satu kamar harus punya foto, satu club pidato harus punya, satu regu pramuka harus punya,” sambungnya.

Setelah membongkar arsip pribadinya, ia mulai melakukan riset karakter teman-temannya semasa di Pondok. Satu per satu teman-temannya pun mulai dikontak. Bahkan ada yang belum dikontak tahu-tahu ketemu di suatu tempat yang tidak pernah direncanakan sebelumnya. Mereka diajak ngobrol, ”Eh, dulu kita gimana, ya?”

Data-data sudah terkumpul, Fuadi lalu membuat semacam outline.

Tiba waktunya untuk mulai menuliskannya, dengan dicicil saban hari. Setiap habis subuh ia duduk di depan komputer untuk menulis sekira setengah jam. Saat makan siang di kantor, kadang-kadang ia menyempatkan untuk menambahinya. Malam harinya dilanjutkan kembali. Begitu seterusnya. Hingga satu setengah tahun kemudian, buku itu akhirnya jadi juga, yang kemudian ia beri judul ”Negeri 5 Menara”.

Tak dinyana, novel setebal 422 halaman yang kaya akan kisah inspiratif itu meledak di pasaran sejak cetakan pertamanya pada Juli 2009, kini bahkan sudah mencapai 170.000 kopi. Best seller. Dan, mantra sakti man jadda wajada mulai menyebar ke berbagai penjuru di Indonesia, bahkan dunia. Menjadi pembicaraan dan diskusi di berbagai tempat.

Padahal Fuadi sendiri tak pernah mengira sebelumnya. Sebab niat dia membukukan kisah-kisah inspiratifnya itu murni untuk kemanfaatan sosial. ”Kalau dia (novel Negeri 5 Menara) booming itu bonus,” komentarnya singkat ketika dimintai respon mengenai karyanya yang tengah merajai pasaran itu. Buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara juga sudah dicetak pada Januari 2011 lalu, judulnya Ranah 3 Warna.

Berkah dari Negeri 5 Menara

Bersamaan dengan booming-nya novel Negeri 5 Menara, aktivitas Fuadi pun kian padat. Mulai dari melakukan roadshow ke berbagai daerah untuk melakukan book launching, seminar, taklshow di berbagai media baik televisi maupun radio, melayani para wartawan media cetak maupun online yang tengah berburu berita, serta undangan-undangan lain dalam beragam kepentingan dan tema.

Kuatnya inspirasi yang tersembul dari novel Negeri 5 Menara membuat para pegiat film tergoda untuk memfilmkannya. Tawaran datang dari sejumlah rumah produksi. Awalnya, Fuadi enggan, namun setelah ditimbang-timbang kembali demi asas kemanfaatan sesama akhirnya Fuadi memilih Kompas Gramedia dan Million Picture untuk mengerjakannya dengan sutradara muda berbakat Afandi Abdurrahman. Sementera untuk urusan skenario dipercayakan kepada Salman Aristo.

Pertengahan Juni 2011 lalu, casting yang diadakan di berbagai tempat sudah selesai. Begitu pun dengan naskah skenarionya, kini sudah pindah ke tangan sutradara. Selama pembuatan skenario, Fuadi mengawalnya dengan ketat agar semangat yang ada di dalam novel tersebut bisa tetap terjaga. Begitu juga saat casting, ia turut serta jadi penentunya.

Sebagian royalti trilogi ini diniatkan untuk membangun Komunitas 5 Menara, sebuah organisasi sosial berbasis volunteerism yang ingin menyediakan sekolah, perpustakaan, klinik dan dapur umum gratis baut kalangan yang tak mampu. Melalui Komunitas 5 Menara, Fuadi dan teman-temannya saat ini sudah mendirikan sekolah PAUD untuk anak-anak yang tak mampu.

Selain itu, berkah dari novel Negeri 5 Menara ia kini laris sebagai motivator yang menginspirasi jutaan orang di Indonesia dan mancanegara. [ ] Muhammad Kodim

CURRICULUM VITAE A. FUADI

EDUCATION

  • Royal Holloway, University of London, UK, MA in Media Arts, September 2005
  • The George Washington University, Washington DC, MA in Media and Public Affairs, May 2001
  • Padjadjaran University, Indonesia, BA in International Relations, GPA 3.36/4.00, September 1997
  • National University of Singapore, a semester study abroad, 1997
  • International Educational Program, CWY, Canada, Montreal, 1995-1996

AWARDS AND SCHOLARSHIP

  • Liputan6 Award, Motivation and Education, SCTV, 2011
  • Khatulistiwa Literary Award, Long list, 2010
  • Indonesian Readers Award, The Most Favorite Book/Writer, 2010
  • The British Chevening Scholarship, Graduate Program, University of London, London 2004-2005
  • The Fulbright Scholarship, Graduate Program, The George Washington University, 1999-2001
  • CASE Media Fellowship, University of Maryland, College Park, 2002
  • The Ford Foundation Award 1999-2000
  • Columbian School of Arts and Sciences Award, The George Washington University, 2000-2001
  • Indonesian Cultural Foundation Inc. Award, 2000-2001
  • SIF-ASEAN Visiting Student Fellowship, National University of Singapore, 1997

PROFESSIONAL EXPERIENCES

  • Founder of Komunitas Menara, 2009–now.
  • Author, best-selling and award winning novels “Negeri 5 Menara” and “Ranah 3 Warna”, 2009–now.
  • Public Speaker, Motivator.
  • Director of Communications, The Nature Conservancy (TNC), one of the largest conservation organizations in the world, August 2007–now.
  • Publication and Information Specialist, USAID-LGSP (Local Governance Support Program), the largest capacity development program in Indonesia funded by USAID, December 2005–Aug 2007.
  • Journalist, Voice of America, Jakarta, November 2002 – November 2005.
  • TV Producer and Editor, Voice of America, Washington DC, May 2001-October 2002.
  • International correspondent, TEMPO Magazine, Washington DC, August 1999-September 2002.
  • Journalist, TEMPO Magazine , Jakarta, Indonesia, August 1998-2002.
  • Research Assistant, Center for Media and Public Affairs, Washington DC, 2000-2001.
  • Research Assistant, School of Media and Public Affairs, GWU, Washington DC, 2000-2001.
  • Journalist, of “CJSR 3 TV Communautaire”, St-Raymond, Quebec, Canada, 1995.
  • Freelance writer and columnist, 1992-1998.

LEADERSHIP AND TEACHING EXPERIENCE

  • Trainer, Media Relations and Publication, funded by USAID-LGSP (2006-2007). Attended by aid agency staff from 8 provinces in Indonesia.
  • Trainer, The Advanced TV Production Workshop, funded by International Broadcasting Bureau-VOA, September 2005. Attended by TV journalists/producers from 14 TV stations in Indonesia.
  • DDI Certified Facilitator for various organizational and human behavior topics
  • Speaker/facilitator for various discussions and events in Indonesia and the USA.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: